Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pameran Puncak Karya Nyoman Gunarsa; Mengenang Sang Maestro Seni Bali dan Warisannya yang Abadi

I Dewa Gede Rastana • Minggu, 8 September 2024 | 18:55 WIB
MAHAKARYA : Salah satu karya maestro seni lukis Nyoman Gunarsa yang dipamerkan pada Pameran Puncak Karya Nyoman Gunarsa.
MAHAKARYA : Salah satu karya maestro seni lukis Nyoman Gunarsa yang dipamerkan pada Pameran Puncak Karya Nyoman Gunarsa.

BALIEXPRESS.ID – Pameran Puncak Karya Nyoman Gunarsa akan dibuka pada Senin (9/9/2024) di Museum Nyoman Gunarsa, Dusun Banda, Desa Takmung, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung.

Pameran ini digelar sebagai bentuk penghormatan terhadap perjalanan panjang sang maestro seni rupa asal Bali, sekaligus sebagai pertanggungjawaban atas sumbangsihnya dalam dunia seni dan kebudayaan Indonesia.

Nyoman Gunarsa, yang wafat pada 2017, dikenal sebagai sosok seniman yang tak hanya produktif berkarya, tetapi juga gigih mengumpulkan artefak-artefak kuno Bali. Karya-karyanya kini tersimpan di Museum Seni Lukis Klasik Nyoman Gunarsa dan Museum Seni Lukis Kontemporer yang berdiri di atas lahan seluas 5 hektare di tanah kelahirannya.

Indrawati Gunarsa, istri dari almarhum, mengenang bahwa hingga akhir hayatnya, Nyoman Gunarsa tetap melukis meski kondisi kesehatannya menurun. Salah satu lukisan terakhir yang dihasilkan, dikerjakan dua minggu sebelum beliau meninggal dunia, terinspirasi dari pameran di Gramedia pada 2017 yang dibuka oleh Pramono Anung dan dihadiri Presiden Joko Widodo.

“Lukisan itu adalah ekspresi terakhir beliau, dibuat saat kesehatannya mulai menurun,” ujar Indrawati, Minggu (8/8/2024). 

Lukisan tersebut bahkan pernah dilelang di New York, Amerika Serikat, pada 1991 dan terjual seharga 1 juta dolar untuk karya berjudul "Kumbakarna".

Museum Nyoman Gunarsa tidak hanya menjadi tempat untuk menyimpan koleksi karya lukis almarhum, tetapi juga menampung berbagai artefak budaya Bali seperti keris, patung, topeng, gamelan, dan wayang bermata emas.

Selain karya seni klasik Bali, museum ini juga memiliki koleksi dari seniman-seniman mancanegara yang pernah tinggal di Indonesia.

Indrawati mengungkapkan bahwa merawat dan mengelola museum yang kaya akan koleksi bersejarah ini bukanlah tugas mudah. Museum ini murni berfungsi sebagai ruang pameran dan tempat edukasi tanpa adanya dukungan galeri komersial.

Namun, ia berkomitmen untuk terus menjaga dan melestarikan warisan budaya ini.

“Museum bukan sekadar tempat menyimpan benda-benda kuno. Museum adalah harta karun yang menyimpan nilai-nilai budaya, sejarah, dan seni yang penting bagi generasi mendatang,” jelas Indrawati.

Ia juga menambahkan, museum ini telah diperluas dengan mengadopsi konsep terbuka yang menyatu dengan alam. Di sekitar museum, terdapat banyak tanaman obat dan tumbuhan yang digunakan dalam upacara-upacara tradisional Bali.

Sejak didirikan pada 1994, Museum Nyoman Gunarsa telah menjadi pusat kegiatan seni dan budaya yang berkelanjutan. Salah satu program yang rutin diadakan adalah aktivitas seni karawitan, yang terus hidup di tengah-tengah koleksi seni klasik dan kontemporer museum.

Indrawati berharap bahwa karya-karya suaminya akan terus menginspirasi generasi muda untuk mencintai seni, budaya, dan tradisi Bali.

“Kami berkomitmen untuk melestarikan budaya dan tradisi Bali. Semoga karya Nyoman Gunarsa dapat mendorong talenta muda untuk peduli pada budaya sejak dini,” tutupnya.

Pameran Puncak Karya Nyoman Gunarsa ini menjadi saksi bisu perjalanan hidup seorang maestro yang tak pernah berhenti berkarya hingga akhir hayatnya, sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya menjaga warisan budaya bagi masa depan. (*)

Editor : I Dewa Gede Rastana
#pameran #karya #warisan #klungkung #artefak #lukisan #Mengenang #Nyoman gunarsa #museum