BALIEXPRESS.ID- Upakara yang digunakan dalam Upacara Ngaro di Banjar Medura Intaran Sanur, Bali ternyata tidak boleh dihinggapi lalat. Sehingga segala prosesnya dilakukan beberapa jam sebelum upacara dilakukan.
Kenapa upakara untuk upacara ini tidak boleh dihinggapi lalat?
Mengutip Website Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat jenderal Kebudayaan, Tradisi Ngaro dengan Nomor Registrasi :201901003, merupakan salah satu Adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan perayaan dalam Warisan Budaya Tak benda di Indonesia, disebutkan upacara Ngaro ini, harus dilakukan dalam keadaan yang suci.
Sehingga segala sesuatu yang berkaitan dengan upacara harus dilakukan dan dibuat setelah matahari terbenam.
Sehingga semua sarana upacara yang dibuat tidak dihinggapi serangga/lalat.
Hal tersebut disebabkan dengan adanya kepercayaan jika banten yang dibuat disentuh oleh serangga/lalat maka banten tersebut dianggap cuntaka dan tidak layak dipergunakan (tidak suci).
Baca Juga: Mengulik Tradisi Ngaro di Desa Sanur: Ternyata Tak Ada Kaitan dengan Pulau Madura, Ini Sejarahnya!
Adapun runtutan dari persiapan upacara ini, dimana sebelum mulai membuat sarana upacara, maka warga yang terlibat wajib melakukan proses pembersihan secara Niskala dengan melakukan prayascita.
Selanjutnya dilakukan aktivitas menumbuk beras dan ketan dijadikan tepung yang akan dipergunakan dalam membuat jajan carca.
Jajan carca terbuat dari tepung beras, ketan, gula Bali, kelapa dan rempah-rempah (mica selem dan tabia bun) dengan beralaskan/metatakan daun nangka yang berbentuk kojong.
Membuat bubur merah dari tepung beras yang diisi gula Bali (gula merah), sedangkan bubur putih yang terbuat dari tepung beras yang diisi santan. Bubur merah dan bubur putih beralaskan/matatakan takir dari daun keraras (daun pisang yang sudah kering) di atasnya diisi sampian plaus dan base tubungan serta bunga jepun Bali berwarna merah dan putih.
Setelah banten selesai dibuat, selanjutnya banten dibawa ke Segara dan seharusnya upacara Ngaro dilakukan tanpa mengunakan penerangan dari lampu.
Karena ketika upacara Ngaro berlangsung sinar bulan dikatakan Sunarta sedang menyinari bumi dengan maksimal, karena posisi bulan tepat berada di atas Katulistiwa. (gek)
Editor : Wiwin Meliana