BALIEXPRESS.ID - Tradisi Nanda adalah sebuah tari ritual sakral yang dilaksanakan di beberapa desa adat di wilayah Denpasar Timur.
Hingga saat ini, tradisi Nanda masih dilaksanakan di desa-desa seperti Desa Adat Kesiman, Sumerta, Tembau, Penatih Puri, Taman Pohmanis, Bekul, Anggabaya, dan Laplap.
Dikutif dari Budaya-data.kemendikbud.go Id, tradisi Nanda tak lepas dari serangkaian upacara sakral yang disebut pangilen.
Pangilen sendiri berasal dari kata "ilen-ilen" yang berarti tari-tarian, mengacu pada pertunjukan ritual yang seluruh prosesnya dilakukan dengan menari, yang kemudian disebut sebagai "ngilen."
Secara etimologi, kata "ngilen" berasal dari akar kata "aileh" yang berarti satu kali berkeliling.
Nanda sebagai tarian ritual adalah salah satu bentuk warisan kearifan lokal yang kaya makna spiritual, menunjukkan hubungan erat antara manusia dengan alam semesta.
Dalam lontar Kusumadewa disebutkan, prosesi Nanda erat kaitannya dengan tradisi trance yang sering kali dijumpai di Bali.
Dalam prosesi ini, para pamangku yang terpilih mengenakan busana khusus, mengalami kondisi trance, dan memimpin upacara sebagai bentuk pengabdian untuk memohon kesejahteraan bagi alam dan segala isinya.
Kondisi trance yang dialami dalam prosesi Nanda sudah menjadi bagian dari tradisi masyarakat Denpasar sejak lama.
Saat pelaksanaan ritual aci-aci Ida Bhatara, diyakini bahwa para dewa akan turun ke dunia untuk menyambut persembahan manusia.
Ketika para dewa turun, dipercaya menggunakan tubuh manusia untuk berkomunikasi, dan kehadiran para dewa tersebut disambut dengan sukacita.
Setelah turun, dipercaya bahwa tanaman akan tumbuh subur dan wilayah akan diberkati dengan kemakmuran.
Tradisi Nanda menggambarkan harapan masyarakat akan kesejahteraan yang datang melalui pengabdian spiritual.
Prosesi Nanda diawali dengan upacara madatengan, yang merupakan puncak permohonan agar para dewa berkenan hadir melalui perantara pamangku yang telah dipilih dengan proses seleksi spiritual dan sering kali merupakan warisan turun-temurun.
Para pamangku yang terpilih ini tidak sembarangan, mereka adalah individu yang telah melalui proses inisiasi dan telah sah secara adat untuk menjadi perantara antara manusia dan para dewa.
Dalam teks yang menggambarkan tradisi ini, sosok yang menjadi perantara ketika Bhatara turun disebut sebagai Sangkul Putih, yang merupakan figur penting dalam panduan spiritual para pamangku.
Menurut I Gede Anom Ranuara, kata "Nanda" berasal dari kata "tanda," yang dalam bahasa Sanskerta adalah "Tandava," sejenis tarian yang gerakannya ditandai oleh lompatan-lompatan.
Tarian ini dihubungkan dengan dewa Rudra, yang juga dikenal sebagai Hyang Geni atau Hyang Tanda.
Pendapat lain dari Dewa Gede Purwita merujuk pada Kamus Jawa Kuna oleh P.J. Zoetmulder, di mana kata "tanda" diartikan sebagai penanda khusus, seperti panji atau bendera yang dimiliki oleh tiap pahlawan atau pejabat tinggi.
Dalam konteks ini, properti pajeng Tanda dalam prosesi Nanda digunakan sebagai simbol dari sistem hierarki yang ada dalam ritual tersebut.
Walaupun terdapat berbagai pendapat tentang asal-usul kata Nanda, yang jelas adalah bahwa prosesi ini merupakan bagian penting dari warisan budaya tak benda di Denpasar Timur.
Prosesi Nanda tidak hanya menunjukkan kearifan lokal, tetapi juga sistem pengetahuan yang diwariskan turun-temurun, di mana masyarakat setempat mampu mengadaptasi dan mengolah sumber-sumber tradisional menjadi tatanan yang khas.
Secara keseluruhan, tradisi Nanda mencerminkan nilai spiritual, sosial, dan budaya yang tinggi di kalangan masyarakat Denpasar Timur.
Sebagai salah satu warisan budaya tak benda, tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat adat, tetapi juga merupakan simbol identitas dan kesinambungan tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Meskipun kompleks dalam pelaksanaan dan memiliki berbagai variasi di tiap desa, esensi dari tradisi ini tetap sama, yakni menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan para dewa.
Editor : Nyoman Suarna