Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Wayang Wong Tejakula, Antara Tradisi Sakral dan Hiburan Profan

Dian Suryantini • Senin, 30 September 2024 | 17:07 WIB

Wayang Wong Tejakula yang dipentaskan di Pura Maksan, Desa Tejakula, Buleleng
Wayang Wong Tejakula yang dipentaskan di Pura Maksan, Desa Tejakula, Buleleng

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Wayang Wong Tejakula, kesenian tradisional yang awalnya berfungsi sakral dalam upacara-upacara keagamaan, kini mengalami transformasi signifikan. Sejak tahun 1975, upaya reproduksi pertunjukan profan dilakukan melalui pembentukan sanggar Wayang Wong Guna Murti Tejakula. Sebelumnya, Wayang Wong di Desa Tejakula berperan penting dalam ritual keagamaan dan adat, dengan ruang lingkup penonton terbatas. Kondisi ini pun dikemukakan dalam Sosialisasi Analisis Ekosistem Kebudayaan Wayang Wong hasil penelitian dari Mulawali Institut berkolaborasi dengan STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Senin (30/9) siang.

Dalam diskusi itu disampaikan, perkembangan fungsi kesenian ini, kini mencakup pertunjukan hiburan yang lebih luas, bahkan di luar konteks agama. Wayang Wong Jaba, misalnya, menjadi versi profan yang dapat ditampilkan di festival budaya dan acara perayaan, baik di dalam maupun luar desa Tejakula. Transformasi ini juga terlihat dengan munculnya variasi iringan Baleganjur dan pertunjukan Wayang Wong untuk anak-anak, menandakan penyesuaian terhadap selera penonton modern.

Putu Ardiyasa, dosen Seni Budaya, STAHN Mpu Kuturan Singaraja mengatakan, dalam hal distribusi pengetahuan, pelatihan Wayang Wong untuk anak-anak kini digelar di Kecamatan Tejakula, dan patung-patung Palawaga (pasukan Kera) ditempatkan di berbagai lokasi seperti pura dan gerbang desa. Selain itu, Wayang Wong Tejakula kerap tampil di festival yang diselenggarakan pemerintah dan swasta, memperluas jangkauan penonton, baik dari dalam maupun luar desa.

“Meskipun mendapat apresiasi dan dukungan pemerintah desa serta kecamatan melalui penyediaan sarana prasarana seperti tempat penyimpanan tapel dan ruang pementasan, kesenian ini masih menghadapi berbagai tantangan,” ungkapnya.

 Baca Juga: Inilah Asal Mula Wayang Wong Sakral Desa Tejakula yang Sudah Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia

Masalah utama terkait ekosistem Wayang Wong meliputi aspek kreasi, produksi, distribusi, konsumsi, dan apresiasi. Keterlibatan seluruh pihak dalam mendukung pelestarian kesenian ini sangat diperlukan guna menjaga kelangsungan Wayang Wong Tejakula sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) di Kabupaten Buleleng.

Upaya pemerintah dalam memberikan penghargaan kepada seniman serta kebijakan yang mendorong distribusi pengetahuan menjadi langkah penting dalam menjaga keberlangsungan kesenian Wayang Wong.

“Selain itu, kesejahteraan seniman dan pembuat tapel juga harus terus diperhatikan untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya ini,” imbuhnya.

Seperti diketahui, Wayang Wong, sebuah seni tari sakral asal Desa Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali, kini resmi masuk dalam daftar Warisan Budaya Dunia Tak Benda oleh UNESCO. Kesenian yang telah bertahan selama berabad-abad ini dikenal karena keunikan, mistisisme, serta nilai sakralnya yang melekat erat dengan ritual dan adat istiadat setempat. Sejarah Wayang Wong mencerminkan warisan budaya yang terus hidup melalui generasi demi generasi, bahkan di tengah perkembangan zaman.

Baca Juga: Tradisi Bali: Penari Wayang Wong Tidak Boleh Makan Daging Sapi, jika Dilanggar Bisa Celaka

Wayang Wong diperkirakan lahir pada pertengahan abad ke-16, ketika seorang kepercayaan Ida Bhatara di Pura Maksan, Desa Tejakula, mengalami kesurupan (trance) dan menyampaikan pesan untuk menciptakan seni pertunjukan ini. Melalui arahan ini, para seniman besar seperti I Gusti Ngurah Jelantik dan I Dewa Batan mulai merancang topeng kayu yang menyerupai tokoh-tokoh epos Ramayana. Sebanyak 175 topeng diciptakan, mewakili karakter-karakter utama seperti Rama, Sugriwa, Rahwana, dan lainnya. Topeng-topeng sakral ini masih tersimpan di Pura Maksan hingga sekarang dan hanya digunakan dalam ritual-ritual tertentu.

Wayang Wong dianggap sebagai bagian dari ritual keagamaan di Desa Adat Tejakula, hanya dipentaskan dalam upacara-upacara besar seperti piodalan di pura Kahyangan Tiga dan Pura Dangka. Pementasan Wayang Wong juga wajib dilakukan secara urut, sesuai dengan alur cerita Ramayana, tanpa boleh terpotong atau dimulai dari bagian tertentu.

Meski begitu sakral, Wayang Wong mulai dikenal di mancanegara pada era 1980-an. Nyoman Tusan, seorang seniman lokal, mencetuskan ide untuk membuat replika topeng sehingga kesenian ini dapat dipentaskan di luar acara adat, bahkan untuk dinikmati oleh wisatawan. Replika ini membuka jalan bagi Wayang Wong untuk dipentaskan di berbagai belahan dunia, termasuk negara-negara Asia dan Eropa. Kini, dengan pengakuan dari UNESCO, Wayang Wong diakui sebagai warisan budaya yang tak hanya penting bagi Bali, tetapi juga bagi dunia. ***

 

 

 

 

 

Editor : Dian Suryantini
#sakral #stahn mpu kuturan singaraja #Tejakula Buleleng #Wayang Wong