SINGARAJA, BALI EXPRESS - Calon Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna, Rabu (2/10) bertemu dengan puluhan pedagang Pasar Anyar. Pertemuan dilakukan di Posko Pemenangan 02, di jalan Sudirman, Singaraja. Para pedagang pun menyampaikan keluhan-keluhan selama berjualan. Terutama soal retribusi tempat yang dibebankan kepada para pedagang.
Putu Juniarta, pedagang buah di Pasar Anyar menyebutkan retribusi yang dibebankan kepada pedagang seperti dirinya dirasa berat. Sebab, retribusi harus dibayar setiap hari walau tidak berjualan. Ia dikenakan biaya retribusi atau biaya sewa tempat senilai Rp 10 ribu yang dibayar pada pagi hari dan sore hari.
"Jangan melihat nominal kecilnya Rp 5.000,-. Pikirkan juga kami dapat jualan apa tidak. Apalagi seperti saya, tidak setiap hari dapat jualan. Bagaimana bisa bayar sewa setiap hari. Jualan atau tidak harus bayar," kata dia.
Juniarta juga menyebut dulu ada kebijakan mengenai biaya sewa. Bila tidak berdagang maka pedagang tidak perlu membayar uang sewa. Tetapi kebijakan itu kini sudah tidak berlaku lagi. Ia menyebut kebijakan itu dicabut secara sepihak sejak 8 bulan lalu. Dengan dihapusnya kebijakan itu, ia kembali pusing memikirkan biaya sewa.
"Saya tidak tahu kenapa bisa dicabut. Tanpa berunding dulu dengan kami. Saya sebagai umat Hindu tentu akan libur jika ada kegiatan keagamaan. Waktu ini saya tidak jualan 1,5 bulan. Tentu tidak dapat pemasukan apa-apa. Baru mulai jualan sudah harus melunasi biaya sewa. Dapat uang dari mana? Jualan saja belum laku," kata Juniarta.
Sama halnya dengan Jro Pasek. Pedagang nasi campur ini juga mengeluhkan biaya retribusi dengan nilai Rp 5.00p,- yang mesti dibayar walau tidak jualan. Ia meminta kepada pasangan calon Bupati dan wakil Bupati Buleleng, Nyoman Sutjidra-Supriatna agar nantinya dapat membuat kebijakan yang meringankan pedagang.
"Kami memohon agar kami juga diperhatikan. Bukan kami tidak mau bayar dengan nilai itu, tapi tolong pikirkan kami yang dibebankan biaya meskipun tidak jualan," ungkapnya.
Keluhan lainnya disampaikan Ibu Jro yang berjualan di lambung selatan Pasar Anyar. Ia mengeluhkan sepi pembeli lantaran ia mendapat tempat dekat dengan pintu keluar. Ia meminta agar pintu di bagian selatan itu juga dibuka sebagai akses pintu masuk pasar agar pembeli dapat berbelanja dengan merata.
"Semuanya numpuk di Utara karena pintu masuknya cuma satu, dari Utara saja. Sedangkan pintu keluar ada dua, di bagian selatan dan barat," ungkapnya.
Menanggapi hal itu, calon Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna mengatakan akan mengkaji lebih lanjut. Persoalan-persoalan retribusi pasar ini baginya adalah makanan sehari-hari saat masih menjabat sebagai Ketua DPRD Buleleng. Berbagai kebijakan telah dikeluarkan namun sayangnya masih saja menyisakan persoalan.
"Persoalan-persoalan seperti itu sering terjadi dan memang masih ada yang tersisa yang sampai saat ini belum bisa terselesaikan atau belum bisa diterima dengan baik oleh mereka. Seperti retribusi pasar, kemudian pengelolaan atau penataan pasar. Astungkara kami diberikan kesempatan untuk memimpin Buleleng kami benahi betul persoalan pedagang pasar di Buleleng, karena kami sebagai pasangan calon yang diusung oleh PDIP mempunyai jadi diri untuk berpihak pada rakyat kecil. Seperti buruh, pedagang, nelayan, petani. Itu akan jadi perhatian kami ke depan. Bagaimana kami bisa berpihak kepada mereka untuk kesejahteraan mereka," terangnya.
Ia pun berencana akan blusukan ke pasar untuk melongok kembali kondisi pasar di Buleleng. Ia berjanji akan menata ulang pasar serta melakukan penertiban terhadap oknum pedagang yang nakal.
"Sebenarnya kami sudah sering berdiskusi soal itu. Entah kenapa sampai sekarang belum terlaksana dengan baik. Seperti memindahkan pedagang bermobil dari jalan Diponegoro ke pasar Banyuasri, membuat pasar tumpah di Banyuasri juga belum maksimal. Kami harap nanti pasar bisa ramai lagi. Ke depan kami juga berencana akan berkunjung ke pasar-pasar untuk melihat situasi dan kondisi masyarakat di pasar. Kami akan jadwalkan kegiatan untuk itu," kata dia. ***
Editor : Dian Suryantini