Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Gede Suardana Janji Akan Wujudkan Rumah Perlindungan di Buleleng

Dian Suryantini • Senin, 14 Oktober 2024 | 17:48 WIB

Calon Wakil Bupati Buleleng Nomor Urut 1, Gede Suardana
Calon Wakil Bupati Buleleng Nomor Urut 1, Gede Suardana

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Calon Wakil Bupati Buleleng Nomor Urut 1, Gede Suardana dengan lantang menyuarakan hak perempuan dan anak. Terutama bagi mereka yang terlibat dalam kasus. Perempuan dan anak di Buleleng yang terlibat kasus semestinya mendapat perhatian serius. Salah satunya dengan memfasilitasi mereka dengan rumah perlindungan.

Gede Suardana pun berjanji akan mewujudkan rumah perlindungan yang menjadi urgensi Buleleng. Rumah perlindungan itu nantinya akan dimanfaatkan sebagai tempat konseling serta rumah singgah untuk korban agar mendapat perawatan serta pemulihan psikis maupun fisik.

“Saya janji akan mewujudkan itu. Apalagi saya dengar Buleleng menjadi kabupaten dengan kasus tertinggi untuk kasus rudapaksa. Per 8 Juli 2024, ada 21 kasus di Buleleng. Angka itu menunjukkan Buleleng butuh perlindungan khusus,” ujar Gede Suardana saat bertemu dengan sejumlah anak muda di Buleleng, akhir pekan lalu.

Suardana yang juga seorang akademisi itu menyoroti faktor-faktor terjadinya kekerasan seksual. Terlebih di Buleleng belakangan ini kasus kekerasan seksual menimpa anak-anak dengan pelaku dari orang-orang terdekat.

“Banyak faktor yang mempengaruhi. Salah satunya adalah faktor ekonomi. Kesulitan ekonomi bisa mendatangkan kesempatan bagi pelaku. Karena sibuk bekerja, anak tidak ada yang mengawasi, maka terjadilah hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya.

Calon pemimpin Buleleng itu pun berencana membuat aplikasi khusus. Aplikasi itu nantinya dapat memuat tentang pengaduan masyarakat terkait hal-hal yang menimpa dirinya. Utamanya terkait pelecehan. Aplikasi tersebut diharapkan menjadi jembatan bagi masyarakat yang enggan melapor.

“Biasanya mereka menganggap itu aib dan malu untuk melapor. Dengan adanya aplikasi ini masyarakat bisa mengetik dan mengajukan keluhan dan dapat menceritakan kronologi kejadian tanpa was-was. Tidak malu dan tidak lagi malas untuk bersuara,” ungkap Gede.

Ia mengakui untuk memutus kasus kekerasan seksual di Buleleng butuh waktu yang cukup lama. Tidak serta merta dapat ditumpas dengan sekali jalan. Bagi Gede Suardana, membangun kesadaran masyarakat tentang isu gender dan kekerasan seksual juga penting. Bila kesadaran telah dibangun dan dipahami bersama, maka perlahan kasus kekerasan seksual dapat ditekan. 

“Kesadaran akan hal itu sangat penting. Kekerasan seksual yang terjadi di ruang privat bahkan di lingkungan adat sangat kejam. Perlu rasanya isu kesetaraan gender itu dimasukkan dalam awig-awig desa. Dan kami akan berusaha mendorong agar Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dapat membangun jaringan di daerah untuk mengontrol hal-hal semacam ini,” kata Gede. ***

Editor : Dian Suryantini
#perempuan dan anak #gede suardana #buleleng