Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Pura Pucak Bon, Konon Berawal dari Bau Harum Dang Hyang Dwijendra yang Difitnah Pasang Guna-guna: Begini Kisahnya

Nyoman Suarna • Senin, 14 Oktober 2024 | 23:07 WIB
PURA PUCAK BON: Konon berawal dari bau harum Danghyang Dwijendra yang muncul saat melakukan pemujaan di tempat tersebut.
PURA PUCAK BON: Konon berawal dari bau harum Danghyang Dwijendra yang muncul saat melakukan pemujaan di tempat tersebut.

BALIEXPRESS.ID - Pura Pucak Bon, yang terletak di kawasan Petang, Badung Utara, merupakan salah satu pura yang belum banyak dikenal umat.

Pura ini diyakini sebagai sumber kemakmuran dan kekayaan.

Resmi dikenal sebagai Pura Penataran Agung Pucak Entapsai Bon, pura ini terletak di dataran tinggi Desa Adat Bon, di kedinasan Desa Belok, Kecamatan Petang, Badung.

Perjalanan menuju Pura Pucak Bon dari kota Denpasar memakan waktu sekitar 1 jam 40 menit dengan jarak 59 km melalui Desa Pelaga.

Meskipun jalur menuju pura cukup menantang, terutama bagi pengendara pemula, pemandangan yang indah di sepanjang jalan akan mengobati lelah perjalanan.

Namun, karena posisi pura yang tinggi di puncak pegunungan, piodalan atau upacara keagamaan sering dilakukan di Pura Penataran Agung yang berada di bawah, mengingat perjalanan menuju pucak dapat memakan waktu hingga 2 jam 30 menit dengan berjalan kaki.

Dilansir dari babadbali.com, kata "Bon" berasal dari kata "bo" yang berarti bau.

Meskipun belum ditemukan prasasti yang menjelaskan sejarah Pura Pucak Bon, mitologi tentang berdirinya pura ini dapat ditemukan dalam lontar Dwijendra Tattwa dan Babad Mengwi Raja.

Berdirinya Pura Pucak Bon diperkirakan sekitar tahun 1460 hingga 1550 Masehi, pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong.

Saat itu Pulau Bali mengalami masa subur dan aman. Pada tahun 1489 atau Isaka 1411, seorang purohito dan rohaniwan bernama Dang Hyang Dwijendra tiba di Bali.

Sebelumnya, beliau dikenal sebagai Danghyang Nirartha. Dalam perjalanan dari Jawa ke Bali, berbagai pura didirikan sebagai penghormatan, seperti Pura Pucak Tedung dan Pura Perancak.

Di Pura Pucak Bon, Dang Hyang Dwijendra mengadakan pemujaan di pegunungan yang kini dikenal sebagai Pucak Bon.

Dalam momen itu tercium bau harum yang sangat khas. Bau harum ini juga tercium saat beliau berada di Blambangan, dari lembaran lontar yang ditulis atas permintaan istri raja Blambangan, Sri Aji Juru.

Karena baunya yang harum, beliau difitnah telah memasang guna-guna dan hampir dibunuh.

Sebagai penghormatan terhadap kesaktian dan kesucian beliau, didirikanlah Pura Pucak Bon.

Pura ini sering disebut oleh para pamedek sebagai Pura Pucak Entap Sai Bon, mengenang perjalanan dan tantangan yang dialami Dang Hyang Dwijendra selama menunaikan tugas sucinya.

Dengan begitu, Pura Pucak Bon bukan hanya sekadar tempat ibadah, tetapi juga menyimpan kisah bersejarah tentang perjalanan seorang tokoh spiritual yang menghadapi fitnah dan tantangan dalam pencarian spiritualnya.

Editor : Nyoman Suarna
#Harum #guna-guna #Bon #pura #pucak #sejarah #bau #dang hyang dwijendra #difitnah