SINGARAJA, BALI EXPRESS – Di tengah bayang pohon besar Puri Buleleng, rumah kerajaan Bali, lebih dari delapan puluh peserta lintas agama dan generasi hadir dalam diskusi buku Hijrah Berkali-Kali Ala Denny JA. Diskusi ini bukan sekadar membahas buku, tetapi juga menjadi refleksi bagi para peserta tentang relevansi nilai-nilai universal dalam agama di tengah tantangan modern. Tema Agama Cinta dan Universalisasi Agama menjadi sorotan utama dalam diskusi, Senin (28/10).
Para peserta terdiri dari penyuluh agama Islam, Hindu, dan Kristen; perwakilan organisasi Fatayat, GP Anshor, Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Kesatuan Mahasiswa Hindu Darma Indonesia (KMHDI); guru, serta perwakilan OSIS SMA/MA di Buleleng. Dengan semangat yang membara, mereka berkumpul untuk menggali makna cinta yang melampaui sekat agama, sebuah konsep yang diangkat oleh Denny JA dan terinspirasi dari syair Jalaluddin Rumi: “Agamaku adalah cinta. Dan rumah ibadahku adalah hati setiap hati manusia.”
Mila Muzakkar, penulis buku Hijrah Berkali-Kali Ala Denny JA, menekankan pentingnya memahami agama sebagai sumber cinta universal. Menurutnya, pesan-pesan agama yang menyuarakan cinta, keadilan, kesetaraan, dan perdamaian adalah nilai-nilai yang bisa dirayakan bersama. Mila juga mengangkat contoh meditasi dari ajaran Buddha yang kini dipraktikkan luas oleh berbagai kalangan untuk mencari ketenangan dan kebahagiaan.
“Ketika pesan agama-agama itu diuniversalisasi, maka agama menjadi warisan kultural yang dapat dirasakan oleh siapa saja, bahkan oleh mereka yang tidak beragama,” ujarnya.
Kadek Satria, seorang penyuluh agama Hindu sekaligus dosen Universitas Hindu Indonesia (UNHI), menambah kedalaman diskusi dengan mengapresiasi pemikiran Denny JA. “Jika tugas filsuf adalah memberikan pencerahan, maka Denny JA bisa dikategorikan sebagai filsuf,” ujarnya. Kadek kemudian menjelaskan ajaran cinta dalam agama Hindu yang menekankan harmonisasi dalam kehidupan.
Di tengah suasana santai, para peserta tampak antusias melontarkan berbagai pertanyaan. Mulai dari pertanyaan mengenai menghidupkan spiritualitas, hingga mengapa ajaran cinta dalam agama kerap terdistorsi menjadi kebencian antar umat. Diskusi ini mengungkap dilema yang dihadapi banyak umat beragama. Sebagai penutup, peserta diajak untuk melukiskan makna agama cinta di atas tote bag, melahirkan berbagai simbol yang mewakili keberagaman dan harmoni.
Dalam momen spesial ini, peserta juga membacakan teks Sumpah Pemuda, menggugah rasa persatuan dan kesatuan bangsa. Acara yang berlangsung hingga pukul tujuh malam ini adalah bagian dari rangkaian roadshow Hijrah Berkali-Kali Ala Denny JA yang sebelumnya diselenggarakan di Jakarta dan Makassar, membawa pesan damai yang melampaui batas agama dan budaya.
Acara ini menggarisbawahi pentingnya memaknai agama sebagai sumber cinta universal di tengah perbedaan keyakinan yang kerap kali menjadi sumber konflik. Diskusi lintas agama dan lintas generasi seperti ini perlu diperluas dan didukung agar pesan cinta universal tidak sekadar berhenti pada wacana, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat yang lebih luas. ***
Editor : Dian Suryantini