BALIEXPRESS.ID – I Wayan Malendra, pria kelahiran Bakas, 14 Februari 1975, merupakan sosok yang aktif dalam pengembangan pariwisata dan pelestarian budaya di Kabupaten Klungkung.
Berbekal pengalaman dan dedikasinya, ia telah berkontribusi dalam berbagai organisasi dan komunitas yang bergerak di sektor pariwisata, khususnya desa wisata.
Malendra menyelesaikan pendidikan dasar di SDN 2 Bakas pada tahun 1988, kemudian melanjutkan ke SMPN 1 Banjarangkan hingga lulus pada tahun 1991. Pendidikan menengah atas ia tempuh di SMTK Saraswati Denpasar, yang diselesaikannya pada tahun 1994.
Dalam kehidupan keluarga, ia didampingi oleh sang istri, I Gusti Ayu Kadek Parwati, serta dikaruniai dua anak, yaitu Ni Putu Ayu Juliati, S.Sos., dan I Kadek Suputra.
Sebagai sosok yang peduli terhadap pengembangan desa wisata, Malendra telah menorehkan berbagai peran strategis dalam organisasi kepariwisataan di Klungkung.
Saat ini, ia menjabat sebagai Koordinator Daya Tarik Pokdarwis Bakas sejak tahun 2018, Ketua Forum Komunikasi Desa Wisata Kabupaten Klungkung sejak 2021, serta Koordinator Wilayah Klungkung dalam Forum Desa Wisata Provinsi Bali sejak 2024.
Selain fokus dalam pengembangan pariwisata, Malendra juga berperan dalam pelestarian seni dan budaya. Ia merupakan Founder Sanggar Alit – Alit Demen Melajah Bakas, sebuah sanggar yang bergerak dalam edukasi dan pelestarian budaya lokal.
Tak hanya itu, Malendra juga merambah sektor usaha dengan menjadi Owner Kopi Laklak Pengangon, produk kopi khas yang mencerminkan kekayaan rasa dan tradisi di Bali. Tempat ngopi di pinggir sawah ini pun dengan cepat hits di berbagai kalangan.
Dengan berbagai peran yang dijalaninya, Malendra terus berupaya memajukan desa wisata serta memberdayakan masyarakat setempat. Ia meyakini bahwa potensi wisata berbasis budaya dan kearifan lokal dapat menjadi motor penggerak ekonomi bagi masyarakat di Kabupaten Klungkung.
Bersama Pokdarwis ia terus berupaya mengembangkan potensi desa sebagai destinasi wisata berbasis pertanian atau agriculture tourism. Dengan melibatkan berbagai pelaku pariwisata, mulai dari pemandu wisata, penyedia transportasi wisata, hingga penggiat wisata lainnya, Pokdarwis Desa Bakas berkomitmen membangun dan menggerakkan sektor pariwisata desa secara berkelanjutan.
"Kami ingin bersama-sama membangun dan mengembangkan potensi pariwisata Desa Bakas, termasuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di bidang pariwisata," ujar Malendra.
Secara topografi, Desa Bakas merupakan desa agraris dengan hamparan sawah dan kebun yang luas. Potensi inilah yang kemudian dikembangkan sebagai konsep agriculture tourism, dimana wisatawan dapat merasakan langsung pengalaman wisata berbasis pertanian dan budaya lokal.
Berbagai aktivitas wisata yang ditawarkan antara lain: Trekking menyusuri area persawahan dan perkebunan; Cooking class, belajar memasak kuliner khas Bali; Making kite, belajar membuat layang-layang tradisional; Making offering, belajar membuat canang atau sesajen Bali; hingga Dance & gamelan lesson, belajar menari dan memainkan gamelan Bali.
Selain aktivitas berbasis budaya, Pokdarwis Desa Bakas juga mengembangkan wisata kuliner seperti Laklak Pengangon, wisata kopi, serta berbagai pengalaman wisata lainnya, termasuk Bakas Levi, Melangit Adventure, dan penginapan di rumah warga atau guest house.
Pokdarwis Desa Bakas menegaskan bahwa konsep wisata yang dikembangkan berbasis masyarakat (community-based tourism) dengan tetap menjaga kualitas dan keberlanjutan.
"Semua yang kami tawarkan selalu mengedepankan kearifan lokal. Selain itu, kami berharap pariwisata di Desa Bakas dapat terus berkembang dengan tetap menjaga kualitas dan keberlanjutannya," tambahnya.
Dengan sinergi antara Pokdarwis, masyarakat, dan para pelaku wisata, Desa Bakas diharapkan semakin dikenal sebagai desa wisata berbasis pertanian yang menawarkan pengalaman autentik bagi wisatawan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. (*)
Editor : I Dewa Gede Rastana