SINGARAJA, BALI EXPRESS - Di balik gemuruh gamelan yang mengalun indah, ada tangan-tangan terampil yang menciptakan harmoni. Salah satunya adalah Gede Utama, seorang penabuh kendang asal Desa Sari Mekar, Kecamatan Buleleng.
Sejak muda, ia telah mengabdikan hidupnya pada seni tabuh, khususnya kendang, dan terus berkontribusi dalam pengembangan kesenian Bali.
Gede Utama lahir di Desa Sari Mekar pada 12 Desember 1958. Kecintaannya pada seni tabuh tumbuh sejak kecil, meski ia tidak menempuh pendidikan formal di sekolah seni. Ia menempuh pendidikan dasar dan menengah di sekolah umum, bahkan sempat bersekolah di SMPN 1 Singaraja.
Sayangnya, karena sakit, ia tidak dapat melanjutkan ke jenjang SMA, yang mungkin bisa membawanya ke KOKAR (Konservatori Karawitan) – saat ini bernama SMKN 5 Denpasar, Bali. Namun, keterbatasan itu tidak menghalangi semangatnya untuk terus mendalami seni tabuh secara otodidak.
Sejak usia muda, Gede Utama telah aktif menciptakan berbagai tabuh kreasi di desanya. Kreativitasnya yang tinggi dan pemahamannya yang mendalam tentang kendang membuatnya menjadi sosok yang dihormati di komunitas seni.
Tahun 2003 menjadi titik balik baginya. Ia mulai mengajar seni tabuh secara lebih luas. Ia mengajar berbagai instrumen gamelan, seperti angklung, gender, dan geguntangan, serta tetap mempertahankan kendang sebagai spesialisasinya.
“Kaalau nabuh posisi saya memang di kendang (gupek). Kuatnya di sini,” kata dia saat ditemui sembari bermain, Rabu (5/3).
Baca Juga: Perencanaan Sekolah Tangguh Bencana, Disdikpora Buleleng Dorong Kesiapsiagaan Sejak Dini
Sebagai pengajar, Gede Utama dikenal sebagai sosok yang sabar dan penuh dedikasi. Ia tidak hanya mengajarkan teknik, tetapi juga menanamkan rasa cinta terhadap seni dan budaya Bali kepada murid-muridnya.
Berkat kontribusinya yang luar biasa, ia dianugerahi piagam Dharma Kusuma oleh Pemerintah Provinsi Bali pada tahun 2018 sebagai bentuk penghargaan atas dedikasinya dalam menciptakan tabuh kreasi.
Meskipun telah menciptakan banyak tabuh kreasi yang tak terhitung jumlahnya, Gede Utama tetap rendah hati. Baginya, bermain kendang bukan sekadar keterampilan, tetapi juga panggilan jiwa. Sayangnya, beberapa kendang miliknya kini telah rusak, dan ia tidak lagi memiliki kendang di rumah.
Namun, ia menganggap hal itu bukanlah masalah besar, karena seni tabuh sudah menjadi bagian dari dirinya. Bahkan tanpa kendang, ia tetap bisa menyalurkan kecintaannya pada seni ini.
Dengan dedikasi dan karyanya, ia telah meninggalkan jejak mendalam dalam dunia seni tabuh Bali, menginspirasi generasi baru untuk terus menjaga dan mengembangkan warisan budaya yang kaya ini.
“Sekarang tidak punya. Tidak apa-apa, kan sudah bisa, karena sering bermain juga. Kalau dulu kan masih belum bisa, jadi harus berlatih di rumah,” kata dia. ***
Editor : Dian Suryantini