TEMUAN MENCENGANGKAN! Ratusan Siswa SMP Tak Bisa Baca Tulis, Politisi Geram: Ini Kegagalan Sistem!
I Putu Suyatra• Jumat, 18 April 2025 | 02:00 WIB
ILUSTRASI
BALIEXPRESS.ID - Sebuah temuan mencengangkan mengguncang dunia pendidikan di Buleleng. Ratusan siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di kabupaten yang selama ini dikenal sebagai "Kota Pendidikan" itu ternyata belum memiliki kemampuan dasar membaca dan menulis yang memadai!
Fakta pahit ini sontak menuai reaksi keras dari berbagai pihak, salah satunya politisi vokal asal Desa Bungkulan, Dewa Nyoman Sukrawan.
Dengan nada tegas, Dewa Nyoman Sukrawan menyebut fenomena memprihatinkan ini bukan sekadar persoalan disleksia pada individu siswa, melainkan sebuah indikasi kegagalan sistem pendidikan secara keseluruhan.
"Jujur saya malu. Buleleng yang disebut-sebut sebagai Kota Pendidikan, justru kecolongan seperti ini. Ini bukan hal biasa. Ini alarm bahaya bahwa sistem kita bermasalah," ujar Sukrawan saat ditemui di Singaraja, tak mampu menyembunyikan kekecewaannya.
Mantan Ketua DPRD Buleleng ini membeberkan sejumlah faktor yang menurutnya menjadi biang keladi terabaikannya kemampuan dasar literasi para siswa.
Ia menyoroti sistem pembelajaran yang terlalu bergantung pada digitalisasi, kurangnya latihan menulis, hingga ketiadaan Pekerjaan Rumah (PR) yang seharusnya memperkuat pemahaman materi pelajaran.
"Sekarang anak-anak lebih sering mengetik daripada menulis. Padahal dengan menulis, otomatis kemampuan membaca juga ikut terasah. Tapi sekarang semua serba cepat, serba digital, akhirnya fondasi jadi rapuh," kritiknya pedas.
Kebijakan "Semua Harus Naik Kelas" Jadi Sorotan Tajam
Lebih lanjut, Sukrawan menyayangkan kebijakan yang terkesan membiarkan semua siswa naik kelas tanpa mempertimbangkan kemampuan riil mereka.
Ia menilai kebijakan ini justru mengorbankan kualitas pendidikan demi formalitas belaka.
"Dulu kalau belum bisa baca, ya tidak naik kelas. Sekarang semua diluluskan. Apa gunanya pendidikan kalau kualitas diabaikan? Mau belajar fisika, matematika, bahasa Inggris bagaimana? Padahal calistung saja belum beres," sindirnya tajam.
Wibawa Guru Runtuh, Orang Tua Terlalu Lindungi Anak?
Tak hanya menyoroti sistem, Sukrawan juga menyinggung fenomena diskriminasi terhadap guru yang semakin marak terjadi.
Ia menilai adanya kecenderungan orang tua yang terlalu melindungi anak secara berlebihan, bahkan tak segan melaporkan guru yang dianggap terlalu keras dalam mendidik.
"Ada guru yang niat mendidik, malah disalahkan. Sampai harus minta maaf, bahkan berurusan dengan hukum. Ini membuat wibawa guru makin runtuh. Kalau begini terus, siapa yang mau mendidik dengan sungguh-sungguh?" kritiknya dengan nada prihatin.
Desakan Evaluasi Total dan Peringatan Kehilangan Generasi Emas
Melihat kondisi yang mengkhawatirkan ini, Sukrawan mendesak Pemkab Buleleng, DPRD, dan Dinas Pendidikan untuk segera turun langsung ke lapangan, memberikan edukasi kepada masyarakat, dan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kurikulum serta sistem belajar yang diterapkan saat ini.
"Jangan lagi ada arahan di sekolah bahwa semua anak wajib lulus. Kalau begitu, yang belajar justru gurunya, bukan muridnya. Ini bukan soal lulus atau tidak lulus, tapi soal kualitas SDM yang kita hasilkan," tegasnya, menekankan pentingnya mutu pendidikan.
Di akhir pernyataannya, Sukrawan memberikan semangat kepada para guru untuk tidak patah arang dan tetap fokus pada misi mulia mereka, yaitu mencerdaskan anak bangsa.
"Ini momentum untuk bangkit. Jangan saling menyalahkan, tapi mari bertanggung jawab bersama. Jika tidak ditangani serius, Buleleng akan kehilangan generasi emasnya," tandas Sukrawan, memberikan peringatan keras akan masa depan Buleleng jika masalah ini terus diabaikan.
Temuan ratusan siswa SMP yang kesulitan membaca dan menulis ini menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan Buleleng.
Mampukah "Kota Pendidikan" ini bangkit dan mengatasi krisis literasi yang mengancam masa depan generasi mudanya? Kita tunggu langkah nyata dari para pemangku kebijakan! ***