Guru Besar Sosiologi Agama dari Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar ini kembali mencatatkan kiprah akademiknya dengan meluncurkan tiga buku referensi sekaligus.
Tak tanggung-tanggung, peluncuran akan digelar Rabu (14/5) mendatang, dengan menghadirkan para intelektual papan atas sebagai pembahas.
Tiga buku tersebut masing-masing berjudul “Makro Humaniora”, “Ritus: Ketahanan Budaya dalam Dinamika Peradaban”, dan “Meneroka Teori Kritis: Dari Filsafat Marxisme hingga Teori Rasial”. Ketiganya menyuguhkan perspektif tajam dan mendalam yang menyasar tema pendidikan, budaya, hingga struktur kekuasaan dalam tatanan sosial kontemporer.
Acara peluncuran ini rencananya dibuka langsung oleh Rektor UNHI, Prof. Dr. Damriyasa, M.S., dan menghadirkan tiga guru besar sebagai pembahas. Nama-nama seperti Prof. Dewa Komang Tantra, Prof. A.A. Anom Kumbara, dan Prof. Nyoman Yoga Segara menjadi jaminan mutu untuk diskusi akademis yang tak sekadar formalitas.
Prof. Dewa Komang Tantra, yang dikenal sebagai pakar pendidikan, akan mengupas buku Makro Humaniora. Sementara Prof. Anom Kumbara, antropolog budaya dari Unud, akan menelisik kedalaman buku Ritus. Adapun Prof. Yoga Segara, yang dikenal vokal dalam kajian sosial budaya, dipercaya membedah buku Teori Kritis.
Menambah bobot acara, keynote speech akan disampaikan oleh Dirjen Bimas Hindu Kemenag RI, Prof. Dr. I Nengah Duija, M.Hum.
Kehadiran tokoh nasional ini menjadi sinyal kuat bahwa buku-buku tersebut punya relevansi lebih dari sekadar konsumsi akademik.
Dalam wawancara singkat, Prof. Yudha menyebut buku Makro Humaniora sebagai respons terhadap kecenderungan pendidikan modern yang terlalu reduksionis.
“Kita kehilangan daya reflektif dan kritis karena sistem kita memisahkan ilmu pengetahuan dari nilai-nilai kemanusiaan,” ujarnya.
Buku ini, menurutnya, mencoba menawarkan paradigma makro: pendekatan lintas disiplin yang menjembatani sains, seni, teknologi, filsafat, dan kemanusiaan. Sebuah gagasan besar untuk memulihkan dimensi reflektif dalam dunia pendidikan.
Sementara itu, buku Ritus mengeksplorasi daya tahan praktik budaya dalam pusaran modernitas.
“Ritus bukan sekadar tradisi usang, tapi fondasi simbolik, identitas, bahkan spiritualitas yang membuat masyarakat tetap waras di tengah badai globalisasi,” jelasnya.
Dengan mengutip Clifford Geertz, Prof. Yudha menunjukkan bahwa ritus adalah sistem simbolik yang memproduksi makna. Tidak hanya untuk kolektivitas sosial, tetapi juga ruang kontemplatif pribadi yang semakin langka dalam kehidupan modern yang serba cepat.
Beralih ke buku ketiganya, Meneroka Teori Kritis, Prof. Yudha menyajikan kajian tajam atas bagaimana teori kritis berkembang sebagai alat untuk menelisik struktur kekuasaan yang membungkus ketimpangan sosial.
Dari Mazhab Frankfurt hingga teori rasial kontemporer, buku ini tak hanya menyuguhkan sejarah intelektual, tapi juga provokasi pemikiran.
“Teori kritis bukan sekadar memahami dunia, tapi juga mengubahnya,” tegasnya. Dalam bab-bab kunci, ia membongkar cara kerja ideologi, eksploitasi, dan dominasi wacana yang menyamar sebagai kenormalan. Pembaca diajak bertanya ulang: siapa yang sebenarnya diuntungkan dalam setiap narasi?
Dengan peluncuran tiga buku ini, Prof. Yudha Triguna tak hanya memperkuat posisinya sebagai pemikir produktif, tapi juga membuka ruang bagi refleksi akademik yang lebih berani, relevan, dan menggugah.
Sebuah sumbangan penting, tidak hanya untuk Bali, tapi juga untuk diskursus keilmuan nasional. (dik)
Editor : I Putu Mardika