BALIEXPRESS.ID – SMAN 2 Bangli, Bali, kini memiliki tiga unit teba modern untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk.
Fasilitas teba modern ini mulai dimanfaatkan oleh SMAN sejak 2 Bangli sekitar satu minggu lalu.
Kepala SMAN 2 Bangli I Gede Kariawan menjelaskan bahwa sebelum ada teba modern, sampah organik dan residu dari sekolah dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Hanya sampah anorganik yang dikelola melalui kerja sama dengan bank sampah di Bangli.
Kini, kehadiran teba modern memungkinkan sampah organik diolah dan dimanfaatkan menjadi pupuk.
Dengan luas lahan mencapai 1,8 hektare, SMAN 2 Bangli dikenal sebagai sekolah hijau yang dipenuhi pepohonan dan tanaman.
Kebutuhan pupuk sangat tinggi untuk menjaga kesuburan taman. Di sisi lain, produksi sampah organik juga cukup besar, satu kali pemangkasan pohon atau rumput bisa menghasilkan hingga satu meter kubik sampah.
Oleh karena itu, tiga unit teba modern dinilai belum mencukupi kebutuhan.
Idealnya, terdapat 10 teba modern di sekolah yang beralamat di Jalan Nusantara, Kelurahan Kubu, Bangli, itu, agar semua sampah organik bisa terkelola maksimal.
Rencana penambahan akan dilakukan secara bertahap menyesuaikan dengan kemampuan anggaran.
Saat ini, pihak sekolah sedang menanamkan kebiasaan kepada siswa untuk memilah sampah menjadi tiga jenis, yakni sampah organik, anorganik, dan residu.
Untuk sementara, siswa hanya diwajibkan memilah sampah, sedangkan proses pembuangan ke teba modern dilakukan oleh tim khusus.
Hal ini untuk menghindari tercampurnya sampah plastik ke dalam teba.
“Khawatirnya ada sampah plastik dimasukkan ke teba modern, jadi untuk sementara tim yang membuang ke sana,” jelas kepala sekolah asal Desa Songan, Kecamatan Kintamani ini.
Selain berfungsi sebagai tempat pengolahan sampah, teba modern juga dirancang estetik dan ramah lingkungan.
Bagian atas teba dimanfaatkan sebagai meja dengan tempat duduk di sekitarnya.
Desain ini membuat area pengolahan sampah menyatu dengan taman sekolah dan memperindah suasana. (*)
Editor : I Made Mertawan