SINGARAJA, BALI EXPRESS - Di ujung Buleleng Timur, tepatnya di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, ada sosok yang diam-diam menciptakan perubahan. Namanya Kadek Sudantara, akrab disapa Dek Dol. Lahir pada 14 Desember 1989, pria ini sempat merasakan hidup di luar negeri, bekerja di kapal pesiar yang membawanya mengarungi samudera dan mengenal dunia. Namun, siapa sangka, justru di tanah kelahirannya, ia menemukan makna perjalanan yang sesungguhnya.
Sepulang dari kapal pesiar, Dek Dol memutuskan kembali ke kampung halaman. Alih-alih mengejar pekerjaan baru yang mungkin lebih menjanjikan, ia memilih jalan yang berbeda dengan menyulap rumahnya menjadi tempat belajar bagi anak-anak desa. Rumah itu ia namai Rumah Belajar Gebang.
Awal mula berdirinya rumah belajar ini tak lain karena keprihatinan. Anak-anak di desa itu, khususnya yang duduk di kelas 4 sampai 6 SD, seharusnya sudah belajar Bahasa Inggris. Tapi saat itu tidak ada guru yang bisa mengajar secara rutin.
“Akhirnya saya coba bantu, walau kemampuan saya juga seadanya,” tutur Dek Dol, Rabu (4/6).
Sejak tahun 2019, Rumah Belajar Gebang berdiri dengan semangat dan niat tulus. Tak ada gedung mewah, hanya ruang sederhana di rumah Dek Dol yang disulap menjadi kelas kecil. Lengkap dengan meja belajar, rak buku, dan alat tulis hasil swadaya. Kadang, proses belajar pun berpindah ke kebun, agar anak-anak tidak bosan dan lebih dekat dengan alam.
Namun jalan yang ia tempuh tak selalu mulus. Dua minggu setelah rumah belajar itu berjalan, hujan deras datang. Atap rumah belajar yang belum maksimal membuat air masuk dan mengganggu kenyamanan belajar. Kegiatan pun terpaksa dihentikan sementara. Belum lagi datang pandemi Covid-19 pada tahun 2020, yang membuat rumah belajar ini vakum hingga dua tahun lamanya.
Baca Juga: Nyoman Nadiana, Guide Gesit, Pedagang Uyah dan Juruh, Serta Pejalan Tak Tertebak dari Desa Les
Tapi semangat Dek Dol tak luntur. Di tahun 2022, bersama dukungan teman-temannya dan bantuan buku bacaan dari Komunitas Mahima di kota, ia kembali menghidupkan Rumah Belajar Gebang. Kali ini, fasilitasnya sudah lebih layak. Dan yang paling penting, anak-anak desa kembali berdatangan.
Yang membuat rumah belajar ini unik adalah “biaya” yang harus dibayar anak-anak. Bukan uang, tapi sekantong sampah plastik. Setiap anak yang datang belajar diminta membawa satu kantong plastik bekas dari rumah. “Ini bukan hanya soal belajar bahasa. Tapi juga tentang peduli lingkungan. Kami ajarkan mereka mulai dari hal kecil, dari rumah mereka sendiri,” ujar Dek Dol.
Kegiatan belajar di Rumah Belajar Gebang kini berkembang. Tak hanya bahasa Inggris, anak-anak juga dikenalkan pada dunia kreativitas, ekonomi, budaya, hingga teater. Bahkan, mereka pernah tampil di kantor desa dalam sebuah pertunjukan kecil.
“Buat kami, itu sudah luar biasa. Anak-anak ini belum pernah tampil di depan umum sebelumnya. Itu keberanian yang luar biasa,” katanya bangga.
Anak-anak yang datang ke Rumah Belajar Gebang sebagian besar berasal dari keluarga kurang mampu. Tapi di sana, mereka semua sama. Anak-anak yang haus akan ilmu, ingin tahu lebih, dan punya semangat besar untuk belajar.
Bagi Dek Dol, Rumah Belajar Gebang adalah mimpi lama yang kini ia jalani perlahan. “Saya ingin mereka punya kesempatan yang sama dengan anak-anak di kota. Belajar lebih banyak, tahu lebih banyak,” ucapnya.
Kadek Sudantara memang bukan tokoh besar di panggung nasional. Tapi di Desa Tembok, ia adalah pelita kecil yang terus menyala, memberi cahaya bagi generasi muda. Lewat Rumah Belajar Gebang, ia membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari rumah sendiri — dengan buku, semangat, dan seplastik sampah bekas. ***
Editor : Dian Suryantini