Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pekak Petruk Absen di PKB 2025, Netizen Geram: Legend tak Tergantikan

Putu Mita Damayanti • Selasa, 10 Juni 2025 | 19:33 WIB
Pekak Petruk dalam podcast bersama Jeg Bali.
Pekak Petruk dalam podcast bersama Jeg Bali.

BALIEXPRESS.ID - Pemberitaan mengejutkan datang dari dunia seni pertunjukan Bali. Pekak Petruk, tokoh legendaris drama gong, dipastikan tidak akan tampil dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) 2025.

Kabar ini sontak memicu reaksi keras dari masyarakat Bali, terutama para penggemar setia seni tradisional yang sudah melekat dengan gaya satir khas tokoh tersebut.

Kepastian ini terungkap saat Pekak Petruk hadir dalam podcast Jeg Bali. Dalam suasana yang santai namun penuh makna, sang seniman menjelaskan alasan di balik pembatalan keikutsertaannya.

Ia menyampaikan bahwa tim kurator PKB melakukan evaluasi terhadap pementasan drama gong lawas, khususnya terkait penggunaan bahasa yang dianggap terlalu sarkastik.

Menurut penjelasan Pekak Petruk, pihak kurator menyarankan agar tidak ada bahasa yang terlalu tajam atau sindiran keras dalam pementasan PKB kali ini.

Setelah diskusi panjang dan pertimbangan mendalam, akhirnya diputuskan bahwa Pekak Petruk tidak akan tampil dalam event kesenian tahunan tersebut. Keputusan ini disebut diambil dengan “sangat berat hati.”

Namun, publik tampaknya tidak bisa menerima keputusan tersebut dengan mudah.

Sosok Pekak Petruk sudah menjadi pilar penting dalam dunia drama gong Bali.

Gaya satir dan banyolan khasnya bukan hanya menghibur, tetapi juga menyampaikan kritik sosial dengan cara yang cerdas dan mengakar kuat dalam tradisi seni pertunjukan Bali.

Di kanal YouTube tempat podcast tersebut tayang, ribuan komentar membanjiri kolom komentar.

Dukungan pun berdatangan dari berbagai kalangan. Artis Bali Jun Bintang menuliskan, “Rahayu Pekak Petruk, tetap sehat dan berkarya.”

Komentar tersebut menjadi salah satu bentuk penghormatan terhadap kontribusi besar sang seniman dalam dunia seni pertunjukan.

Komentar lain datang dari akun tudemerjaya9118 yang menuliskan, “Seorang legend memang tidak bisa tergantikan. Sehat selalu Pekak Petruk.”

Kalimat tersebut menggambarkan betapa Pekak Petruk telah menorehkan pengaruh mendalam dalam dunia kesenian Bali, dan sulit dicari pengganti yang setara.

Sementara itu, muncul juga komentar pedas dari warganet yang merasa keputusan kurator tidak berpihak pada nilai budaya yang telah diwariskan.

Salah satu komentar viral menyebut, “Kurator sing ngerti penting, ganti gen sing ngadakang lud, mun Pekak Petruk nyen ade ngidaang ganti?”

Kalimat ini mencerminkan kemarahan sekaligus kekecewaan masyarakat yang merasa ikon seni mereka dipinggirkan.

Keputusan tim kurator PKB ini menjadi sorotan luas. Banyak yang mempertanyakan apakah batasan “bahasa sarkastik” memang relevan dibatasi dalam konteks seni tradisi yang justru lahir dari kritik sosial dan humor satir.

Drama gong sendiri memang sejak dulu dikenal sebagai seni pertunjukan yang memadukan komedi, filosofi hidup, dan sindiran halus terhadap kehidupan sosial.

Tanpa kehadiran Pekak Petruk, banyak pihak menilai PKB 2025 akan kehilangan roh dari drama gong yang sesungguhnya.

Sosoknya bukan sekadar pelawak panggung, tapi juga penjaga nilai budaya Bali yang mampu menyentil tanpa menyakiti, mengkritik tanpa menggurui, dan menghibur tanpa kehilangan makna.

Kini, masyarakat menanti, apakah akan ada perubahan keputusan dari pihak penyelenggara, ataukah Pekak Petruk harus merelakan panggung PKB 2025 tanpa dirinya.

ang jelas, suara rakyat sudah terdengar nyaring mereka merindukan sosok yang tak hanya lucu, tapi juga mengakar dalam budaya.

Pekak Petruk, bagi banyak orang, bukan hanya tokoh panggung, tapi bagian dari identitas seni Bali itu sendiri. (*)

Editor : Nyoman Suarna
#petruk #netizen #legendaris #drama Gong #pkb