Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tingkat Okupansi Stabil, PHRI Harapkan Karyawan Tidak Terdampak PHK

Putu Resa Kertawedangga • Rabu, 2 Juli 2025 | 21:00 WIB

Ketua PHRI Badung, I Gusti Agung Rai Suryawijaya.
Ketua PHRI Badung, I Gusti Agung Rai Suryawijaya.

BALIEXPRESS.ID - Kondisi pariwisata di Kabupaten Badung masih menunjukkan tren stabil, terlihat dari tingkat okupansi hotel yang tinggi.

Namun fakta di lapangan justru memperlihatkan adanya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dialami oleh ratusan tenaga kerja.

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Badung sangat berharap tidak ada lagi PHK terhadap karyawan.

Baca Juga: Viral Video Balap Liar di Amlapura! Dilakukan Terang-terangan di Jalan Raya: Polisi Ancam Proses Pidana

Ketua PHRI Badung, I Gusti Rai Suryawijaya, mengungkapkan bahwa tingkat hunian hotel di Badung saat ini berada di angka 70 hingga 80 persen.

Angka tersebut tergolong tinggi dan menunjukkan bahwa sektor perhotelan masih berjalan cukup sehat.

“Tingkat hunian hotel di Badung masih bagus, artinya mereka masih mendapatkan keuntungan dan tidak ada alasan untuk melakukan PHK,” ujar Agung Ray, saat dikonfirmasi Rabu (2/7).

Baca Juga: Ada Apa? Luhut Binsar Pandjaitan Temui Jokowi di Bali, Ternyata Ini yang Dibahas

Pihaknya menilai, kebijakan PHK semestinya hanya diambil dalam kondisi krisis.

Misalkan saat tingkat okupansi hotel menurun hingga di bawah 50 persen secara berturut-turut.

Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa sejauh ini belum ada hotel yang melakukan PHK terhadap karyawannya.

Baca Juga: Pembongkaran Usaha Di Pantai Bingin, Bupati Badung: Oknum Jangan Memprovokasi Masyarakat

Bahkan jika okupansi menurun menjadi 60 persen, ia berharap hotel-hotel tetap menjaga komitmen terhadap para pekerjanya.

“Ini okupansi kita masih bagus, relatif bagus dengan situasi global, geopolitik, dan juga ekonomi nasional,” ungkapnya.

Lebih jauh, ia menjelaskan, kondisi stabil ini tak lepas dari karakteristik wisatawan yang datang ke Bali.

Sebagian besar dari mereka memang benar-benar datang untuk berlibur, bukan semata-mata untuk urusan bisnis atau kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition).

“Kalau di Bali situasinya hampir 70 persennya berlibur, dan untuk MICE sekitar 30 persen lah,” ucapnya.

Namun, tantangan tetap ada, seperti di usaha restoran.

Agung Ray menerangkan, sektor restoran menghadapi persaingan yang semakin ketat.

Tak hanya dalam hal kualitas makanan dan pelayanan, tetapi juga dari sisi harga dan munculnya restoran-restoran baru.

Dalam situasi ini, ia menegaskan pentingnya pengusaha untuk tetap memprioritaskan hak-hak pekerja, terutama soal pembayaran gaji tepat waktu.

Lebih lanjut, dirinya pun berharap tidak ada gejolak besar yang dapat mengganggu stabilitas global, seperti pecahnya perang dunia yang dikhawatirkan terjadi akibat konflik Iran dan Israel.

Menurutnya, perang dunia akan berdampak lebih buruk dari pandemi Covid-19, karena akan menghambat mobilitas wisatawan secara global.

“Bali ini sangat mengharapkan dari sektor pariwisata. Kita secara serius harus menjaga keamanan, kenyamanan dan keindahan. Mudah-mudahan tidak terjadi (perang dunia),” imbuhnya. (*)

Editor : Putu Resa Kertawedangga
#phk #Kabupaten Badung #okupansi #hotel #phri