BALIEXPRESS.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem yang melanda wilayah Bali sejak awal Agustus 2025.
Berdasarkan informasi resmi yang dirilis BMKG, potensi gelombang tinggi, angin kencang, serta cuaca ekstrem diperkirakan terjadi pada 4–6 Agustus 2025. Prakiraan ini mencakup cuaca umum di wilayah Bali, prakiraan khusus daerah tujuan wisata, serta peringatan cuaca tiga harian.
Masyarakat, khususnya nelayan, wisatawan, dan pelaku usaha pariwisata, diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dan rutin memantau informasi cuaca melalui laman resmi BMKG: https://cuaca.bmkg.go.id.
Dampak dari cuaca ekstrem ini mulai dirasakan langsung oleh masyarakat pesisir di Kabupaten Klungkung. Di kawasan Pelabuhan Monggalan, Desa Kusamba, gelombang tinggi disertai angin kencang bahkan merusak sejumlah rumah warga. Setidaknya empat rumah dilaporkan rusak parah akibat terjangan ombak.
Salah satu warga terdampak, Nengah Darta, yang sehari-hari bekerja sebagai buruh angkut pasir ke Nusa Penida, mengaku terpaksa berhenti bekerja karena perahu yang biasa digunakannya rusak berat.
“Sudah lebih dari seminggu cuaca buruk. Gudang sudah berada di tengah pantai, posisinya hancur, dan ada empat rumah yang rusak. Saya biasa dapat 50 sampai 100 ribu per hari, sekarang libur total,” keluhnya.
Hal serupa disampaikan oleh warga lainnya, I Wayan Trima, yang berharap ada perhatian dan bantuan dari pemerintah, mengingat kerusakan semakin meluas dan kondisi cuaca belum menunjukkan tanda membaik.
Salah satu rumah yang terdampak paling parah adalah milik Mangku Rena. Dari bangunan yang sebelumnya utuh, kini hanya tersisa satu kamar yang bisa ditinggali. Sementara itu, rumah milik Dewa Aji Gunung juga mengalami kerusakan berat akibat ombak yang terus menghantam garis pantai.
Disisi lain, Ketut Sukarta, salah satu petani setempat, mengaku tak bisa berbuat banyak menghadapi situasi ini. Lahan garapannya tergenang air laut dan tertimbun pasir yang terbawa gelombang besar. Bahkan, sebagian petakan sawahnya nyaris hilang disapu ombak.
“Biasanya gelombang besar datang malam hari. Ombak bisa menjangkau puluhan meter ke daratan. Tanaman padi saya terus dihantam angin dan ombak. Panennya jelas menurun,” keluh Sukarta.
Ia menyebut, sebelum cuaca memburuk, hasil panennya bisa dijual seharga Rp350 ribu per are. Namun kini, karena padi harus dipanen lebih awal dalam kondisi rusak, harganya hanya dihargai sekitar Rp58 ribu hingga Rp60 ribu per are. Penurunan tajam ini jelas tidak menutupi biaya produksi seperti bibit, pupuk, hingga tenaga kerja.
“Jelas kami rugi besar. Biaya yang sudah dikeluarkan tidak kembali. Banyak petani bingung harus bagaimana ke depan,” ujarnya.
Kondisi serupa juga dialami oleh petani lainnya di kawasan pesisir. Beberapa lahan bahkan tak hanya tergenang, tapi juga tertimbun pasir hingga tanaman mati. Sementara sawah yang tidak terkena gelombang, tetap rusak karena terpapar angin kencang.
Sukarta mengaku pasrah. Ia belum tahu kapan cuaca akan kembali normal, karena belakangan ini cuaca sulit diprediksi. Para petani berharap ada perhatian dan solusi dari pemerintah untuk membantu mereka menghadapi dampak cuaca ekstrem ini.
Pemerintah daerah diharapkan segera turun tangan untuk menindaklanjuti dampak kerusakan, baik melalui pendataan maupun bantuan darurat. Masyarakat berharap kondisi ini menjadi perhatian serius mengingat intensitas cuaca ekstrem diperkirakan masih akan berlanjut beberapa hari ke depan. (*)