Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Menjaga Nafas Tapel: Dulu, Kini dan Nanti

Dian Suryantini • Selasa, 19 Agustus 2025 | 16:58 WIB

Pementasan Wayang Wong di Pura Pemaksan, Desa Adat Tejakula.
Pementasan Wayang Wong di Pura Pemaksan, Desa Adat Tejakula.

 

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Aroma dupa mengepul di pelataran Pura Maksan, Desa Tejakula, Buleleng. Gamelan bergemuruh perlahan, menandai dimulainya sebuah pertunjukan sakral yang hanya digelar pada upacara besar. Sosok-sosok penari dengan tapel kayu pule yang tua, berwarna kusam namun penuh wibawa, perlahan memasuki arena.

Begitu pun dengan Gede Sedana. Siang itu, Sabtu (16/8), langkahnya mantap menapaki jalan menuju pura. Rambutnya terikat ke atas. Badannya mengembang penuh busana. Sedana dan para penari lainnya bukan sekadar menari—mereka sedang menjadi perantara antara dunia manusia dan dunia para dewa.

Sembari menuju pura, Gede Sedana tak banyak bicara. Wajahnya tampak serius dan sesekali menarik napas. Ya, dengan segala kelengkapan dan busana yang dikenakan, Sedana akan menari Wayang Wong di Pura Maksan, Tejakula.

“Sebentar lagi sampai di pura,” ujarnya singkat.

Sesekali ia menengok ke belakang memastikan rekan penarinya turut di belakangnya. Sambil memastikan, Sedana bercerita, Wayang Wong Tejakula merupakan sebuah warisan sakral yang dipercaya lahir pada pertengahan abad ke-16. Sejarahnya bermula dari sebuah peristiwa mistis. Seseorang di Pura Maksan mengalami kesurupan (trance). Dari mulutnya keluar pesan gaib—permintaan untuk menciptakan seni pertunjukan yang akan menjadi jalan penghubung umat dengan para leluhur.

Pesan itu ditangkap para seniman besar kala itu, I Gusti Ngurah Jelantik dan I Dewa Batan. Mereka lantas mulai menciptakan topeng-topeng dari kayu pule, sebuah kayu yang dianggap suci, ringan, namun tahan ratusan tahun. Dari tangan mereka lahirlah 175 tapel—Rama, Rahwana, Sugriwa, Hanoman, Dewi Sita, hingga pasukan kera.

Setiap tapel merupakan simbol hidup dari karakter Ramayana yang harus dihormati. Hingga kini, tapel sakral itu masih tersimpan di Pura Maksan dan hanya boleh dipakai dalam ritual besar.

Gede Sedana, penari Wayang Wong Sakral
Gede Sedana, penari Wayang Wong Sakral

Wayang Wong Sakral yang berkedudukan di Pura Pemaksan dipentaskan 2 kali, di Pura Kahyangan Tiga, Pura Pemaksan dan Pura Dangka. Pertama, saat Pengebek Piodalan. Kedua, saat Pengelebar. Wayang Wong sakral hanya boleh dipentaskan di Desa Adat Tejakula.

Masyarakat Desa Adat Tejakula menganggap Wayang Wong Tejakula adalah tari wali. Seni pertunjukan itu wajib hadir dalam piodalan besar di pura Kahyangan Tiga maupun Pura Dangka. Aturannya ketat. Kisah Ramayana harus dimainkan bersambung, tidak boleh dipotong. Jika hari ini dimulai dari kanda pertama, maka piodalan berikutnya wajib melanjutkan ke kanda kedua. Begitu seterusnya hingga cerita tamat, lalu diulang dari awal.

Aturan juga berlaku bagi para penari. Mereka disebut krama Wayang Wong. Jumlahnya mencapai 200 orang lebih dan diwariskan turun-temurun. Bila menolak untuk ngayah dipercaya membawa ketidakberuntungan. Ada pula pantangannya. Penari Wayang Wong sakral tidak boleh mengonsumsi daging sapi. Larangan itu bukan basa-basi. Beberapa kisah menyebutkan penari yang melanggar pernah mengalami celaka secara misterius.

“Sebisa mungkin jangan dikonsumsi. Itu saja pantangannya,” tutur Gede Sedana, penari sakral yang telah ngayah lebih dari 23 tahun.

Pernah suatu ketika, ada rekannya yang lapar. Tanpa sadar ia memakan nasi lauk sapi. Tak lama kemudian ia jatuh dari ketinggian saat bekerja dan cedera parah. Bagi masyarakat Tejakula, itu bukan kebetulan, melainkan peringatan.

Wayang Wong sakral dijalankan dengan disiplin tinggi. Tapel kayu pule hanya boleh dikeluarkan dari Pura Maksan setelah melalui ritual khusus. Setelah selesai, tapel dibersihkan, dibungkus kain putih, dan disimpan kembali. Begitu juga dengan pakaian. Kostum yang dipakai penari diperlakukan seperti benda suci—dicuci dengan ember khusus, dijaga agar tak bersentuhan dengan pakaian “kotor”.

Menari Wayang Wong pun bukan sekadar gerak tubuh. Penari harus menyelam ke dalam jiwa tokoh yang diperankan. Saat memerankan Sugriwa, misalnya, Gede Sedana harus mampu menghadirkan sosok raja kera yang sudah tua, gagah, namun penuh wibawa. Berbeda dengan Anggada, tokoh yang pernah ia perankan sebelumnya—enerjik, lincah, cepat. Transisi antarperan membutuhkan pengendapan batin dan latihan bertahun-tahun.

“Saya sudah 5 tahun memerankan tokoh Sugriwa. Tapi bagi saya belum juga menemukan pola yang pas. Saya masih harus terus belajar,” tuturnya.

Memang, mendalami peran selalu menjadi bagian yang sulit agar sesuai deng karakter tokoh. Tantangan itu pula yang selalu dihadapi Sedana. Pakaian berlapis-lapis yang terasa berat dan sesak, juga menjadi tantangan yang harus diselesaikan.

Selama membawakan karakter Sugriwa, Gede Sedana selalu berupaya dalam mengatur suara, napas, dan ketukan yang harus pas.

Para penari Wayang Wong Sakral di Desa Adat Tejakula, Buleleng
Para penari Wayang Wong Sakral di Desa Adat Tejakula, Buleleng

Namun, roda zaman tak bisa berhenti. Sejak 1970-an, Wayang Wong Tejakula mulai melangkah ke panggung profan. Nyoman Tusan, seniman lokal, memelopori ide membuat replika tapel. Ia sadar, jika Wayang Wong hanya terkunci di pura, maka dunia luar tak akan pernah mengenalnya. Replika inilah yang membuka jalan bagi lahirnya Wayang Wong Duplikat—versi pertunjukan untuk hiburan, tanpa mengurangi penghormatan pada tapel sakral.

Langkah ini kemudian diformalisasi dengan lahirnya Sanggar Guna Murti Tejakula pada 1975. Dari sanggar ini, Wayang Wong dipentaskan di festival budaya, acara pemerintahan, hingga hotel-hotel. Tahun 1990-an, Wayang Wong Duplikat bahkan mulai menembus panggung internasional—Eropa, Jepang, Amerika, Korea.

Momen penting terjadi pada 2 Desember 2015. UNESCO menetapkan Wayang Wong Tejakula sebagai bagian dari Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity (ICH List). Dunia akhirnya mengakui keunikan seni yang lahir dari sebuah trance di abad ke-16 ini.

Tapi pengakuan dunia bukan berarti tanpa tantangan. Ekosistem Wayang Wong menghadapi persoalan klasik seperti kreasi, produksi, distribusi, konsumsi, dan apresiasi. Meski pemerintah desa dan kecamatan menyediakan tempat penyimpanan tapel dan ruang pementasan, kesejahteraan penari dan pembuat tapel masih jauh dari kata layak.

“Selain itu, kesejahteraan seniman dan pembuat tapel juga harus terus diperhatikan untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya ini,” ungkap Putu Ardiyasa, dosen seni budaya Institut Mpu Kuturan, Bali.

Tantangan-tantangan itulah yang kini mesti diselesaikan. Untuk menjaga keberlangsungan kesejahteraan seniman, di Tejakula kini mulai bergeliat kelompok Wayang Wong anak-anak. Tentu saja ini Adalah generasi penerus. Saat menari, mereka tak bisa menggunakan tapel dewasa. Pastinya mereka mengenakan tapil cilik sesuai dengan karakter tokoh yang diperankan.

Ketut Sweta Swatara (Eta) menjadi sosok kunci. Awalnya ia hanya melatih dua anaknya dan keponakan di rumah. Tapi ketika unggahan di media sosial viral, anak-anak lain ikut bergabung. Dari situ lahir Kelompok Wayang Wong Anak-Anak Tejakula.

Konsepnya unik. Gratis, tapi setiap anak harus membawa sampah plastik setiap minggu. Sampah itu diolah jadi ecobrick—kursi, sofa, bahkan produk jualan. Bagi anak-anak, latihan menari bukan hanya menjaga budaya, tapi juga belajar peduli lingkungan.

Kini ada 43 murid aktif. Mereka rutin tampil di acara lokal hingga Taman Bung Karno (TBK) Singaraja. Eta, yang fasih berbahasa Inggris, juga sering menjelaskan Wayang Wong kepada wisatawan asing.

“Menari itu bukan soal upah,” kata Eta.

Perubahan zaman juga membuat iringan musik beradaptasi. Tak hanya gamelan klasik, Wayang Wong profan kini bisa tampil dengan Baleganjur. Variasi ini membuat penonton modern merasa lebih dekat, tanpa menghilangkan nuansa tradisional.

Namun, di balik semua inovasi itu, pergulatan batin masih terus berlangsung. Bagaimana menjaga sakralitas Wayang Wong agar tidak larut dalam pasar hiburan, sekaligus memastikan ia tetap relevan di mata generasi muda dan dunia global?

Jika sakralitasnya hilang, maka Wayang Wong hanya akan menjadi pertunjukan turistik biasa, tak ubahnya tarian di hotel. Jika regenerasi terputus, maka 175 tapel kayu pule di Pura Maksan akan membisu di balik kain putihnya.

Ketut Sweta Swatara sedang mengajarkan anak-anak menari Wayang Wong
Ketut Sweta Swatara sedang mengajarkan anak-anak menari Wayang Wong

Namun, optimisme tetap ada. Program pelatihan anak-anak, dukungan UNESCO, hingga konsep pariwisata tematik yang ditawarkan akademisi seperti Nyoman Dini Andiani, memberi peluang besar. Dini menyarankan agar Wayang Wong tidak hanya ditawarkan sebagai tontonan, tapi juga pengalaman utuh. Wisatawan bisa ikut menabuh gamelan, belajar gerakan dasar, atau memahami kisah Ramayana secara tematik.

“Pariwisata akan tetap hidup jika ada budaya. Jika budaya tidak dilestarikan, itu akan mengurangi otentisitas pengalaman wisatawan yang merasakan kehidupan sebagai orang Bali,” tegas Dini.

Generasi penjaga juga masih ada. Gede Sedana, meski sibuk dengan bengkel AC di Denpasar, tak pernah absen ngayah. Adiknya, Made Suparta, selalu setia mendampingi. Mereka percaya ngayah adalah mandat leluhur yang tidak boleh ditinggalkan.

“Kami penari yang khusus ngayah. Tidak pernah ikut ke luar negeri,” tutur Sedana.

Bagi mereka, ngayah bukan tentang dunia—tapi tentang desa, pura, dan leluhur. Bahkan ketika harus menempuh perjalanan Denpasar–Tejakula berjam-jam, atau ketika latihan molor hingga tengah malam karena listrik padam, mereka tetap hadir.

Wayang Wong adalah napas panjang. Lahir dari sebuah trance, hidup di panggung pura, tumbuh di festival dunia, dan kini mencari jalan di tengah era digital. ***

Editor : Dian Suryantini
#tejakula #Wayang Wong #buleleng