Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Dean, Anak Tamblang yang Jadi Juara Programming Competition di Buleleng

Dian Suryantini • Jumat, 22 Agustus 2025 | 18:44 WIB

I Dewa Gede Agung Dean Putra Purwita, siswa SMKN Bali Mandara yang menjadi juara dalam Programming Competition di Kabupaten Buleleng.
I Dewa Gede Agung Dean Putra Purwita, siswa SMKN Bali Mandara yang menjadi juara dalam Programming Competition di Kabupaten Buleleng.

 

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Usianya baru 15 tahun, tapi langkahnya sudah melesat jauh melampaui teman-teman sebayanya. Namanya I Dewa Gede Agung Dean Putra Purwita, siswa kelas 10 Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi (TJKT) SMK Negeri Bali Mandara.

Anak Desa Tamblang, Kecamatan Kubutambahan, ini baru saja mencatatkan prestasi membanggakan dengan meraih juara pertama dalam ajang perdana Programming Competition yang digelar Pemerintah Kabupaten Buleleng melalui Dinas Kominfosanti, dalam rangka HUT ke-80 RI sekaligus Buleleng Festival 2025.

Kompetisi ini bukan sembarang lomba. Mulai dari babak penyisihan hingga final, puluhan pelajar SMA dan SMK di Buleleng saling adu strategi, logika, dan kecepatan berpikir. Namun di antara semua, Dean berhasil keluar sebagai yang terbaik.

“Pertama, saya fokus mempelajari computational thinking sebagai dasar programming. Saya juga belajar abstraksi, pola, hingga algoritma. Selain itu, saya mendalami sintaks dasar yang sering dipakai,” jelas Dean saat ditemui di area Buleleng Digital Ekspo, Jumat (22/8).

Sejak SMP, Dean sudah akrab dengan dunia coding. Awalnya hanya coba-coba membuat game sederhana, namun dari sanalah minatnya tumbuh semakin besar. Lomba ini kemudian menjadi panggung pembuktian bahwa hobinya bukan sekadar main-main, melainkan bisa melahirkan prestasi nyata.

Baca Juga: Nyoman Paul Fernando Aro: Dari Rumput Hijau ke Panggung Musik

Dalam lomba, Dean harus melewati babak penyisihan berupa soal pilihan ganda, lalu melangkah ke final yang jauh lebih menantang: live coding selama tiga jam. Tujuh soal harus dituntaskan dalam waktu terbatas.

“Salah satu soal yang saya ingat adalah membuat program konversi jumlah hari menjadi format tahun, bulan, minggu, dan hari. Misalnya, input 450 hari harus bisa dibagi menjadi satu tahun, dua bulan, tiga minggu, dan empat hari. Itu benar-benar menguji logika dan ketelitian,” tuturnya.

Bagi Dean, tantangan terbesar bukan hanya soal rumit, melainkan cara mengubah pola pikir menjadi baris-baris kode yang tepat. Di titik itulah, latihan panjang dan bimbingan dari sekolah terbukti sangat membantu.

SMK Bali Mandara memang dikenal sebagai sekolah yang disiplin dengan sistem karantina bagi siswanya. Kendati demikian, pihak sekolah tetap memberi ruang bagi bakat-bakat seperti Dean untuk berkembang. Fasilitas komputer, jaringan internet, hingga pembinaan intensif diberikan agar siswa siap menghadapi tantangan.

Kepala Sekolah SMK Bali Mandara, Ketut Susila Widiarsana, mengaku bangga dengan capaian anak didiknya. “Potensi Dean sudah terlihat sejak awal masuk sekolah. Dunia programming dan IoT sangat dinamis. Kami akan terus mendukung siswa agar bisa berprestasi, baik di tingkat daerah maupun lebih luas lagi,” ujarnya.

Meski saat ini belum tergabung dalam komunitas coding karena aturan karantina sekolah, Dean yakin akan ada banyak kesempatan ke depan. Ia berharap lomba serupa bisa terus digelar bahkan dikembangkan lebih besar, karena menurutnya masih banyak bakat terpendam di Buleleng yang butuh wadah untuk berkembang.

“Lomba ini membuka mata saya, ternyata di Buleleng ada banyak talenta di bidang programming. Saya berharap kegiatan ini berlanjut supaya makin banyak anak yang bisa menunjukkan kemampuannya,” kata Dean. ***

Editor : Dian Suryantini
#buleleng festival #Tamblang #kubutambahan #Programming #Bali Mandara