SINGARAJA, BALI EXPRESS - Di sebuah rumah sederhana di Banjar Dinas Delod Peken, Kelurahan Kendran, Buleleng, suasana siang itu begitu hangat. Seorang bocah laki-laki berusia 11 tahun duduk di pangkuan ibunya, Ketut Suryani. Wajahnya terus bersembunyi di balik bahu sang ibu, malu-malu menyambut kedatangan tamu.
Bocah itu bernama Ketut Adi Putra. Butuh waktu dan bujukan lembut sebelum akhirnya Adi berani menoleh, lalu perlahan membuka matanya. Saat itu, siapa pun yang melihat tak akan bisa menutupi rasa takjubnya.
Bola mata Adi berwarna biru terang, begitu indah dan jernih—berbeda dari kebanyakan anak-anak Bali yang umumnya bermata cokelat gelap atau hitam. Pesona itu membuatnya tampak unik, bahkan istimewa.
Adi bukanlah anak pertama dalam keluarganya. Ia adalah anak keempat dari pasangan Sukadana dan Ketut Suryani. Tiga kakak perempuannya memiliki bola mata hitam sebagaimana orang Bali pada umumnya. Hanya Adi yang lahir dengan mata biru.
Namun ternyata, keunikan itu bukanlah hal yang sepenuhnya baru dalam keluarganya. Sang ayah, Sukadana, juga memiliki mata biru—meski hanya pada sebelah kiri. Lebih jauh lagi, nenek buyut Adi pun diketahui memiliki mata biru. Bahkan neneknya sendiri, meski tidak secerah Adi, masih menyimpan warna biru muda samar di matanya.
“Ini kami matanya tidak ada keturunan bule. Asli dari Bali sudah dari turun temurun, dari nenek buyutnya,” jelas Sukadana.
Keterangan itu menegaskan bahwa warna biru pada mata Adi bukanlah hasil perkawinan campuran dengan orang asing, melainkan warisan genetis yang sudah ada sejak generasi sebelumnya.
Baca Juga: Buleleng Bidik Papan Atas Porprov XVI, Siap Menyambar Medali Porprov 2025
Keunikan mata Adi sempat membuat orang tuanya khawatir. Ketika Adi berusia beberapa bulan, warna birunya semakin jelas. Mereka sempat takut anaknya mengalami kelainan penglihatan. Namun keraguan itu terjawab ketika pemeriksaan medis menunjukkan bahwa Adi memiliki fungsi penglihatan dan pendengaran normal.
“Melihat biasa saja, tidak ada masalah. Mengenali warna juga bisa. Normal. Tidak ada gangguan pendengaran juga,” kata Sukadana.
Dokter yang memeriksa pun sempat terheran-heran. Bukannya menemukan penyakit, sang dokter malah memuji keindahan mata biru Adi.
Di Indonesia, warna bola mata biru tergolong fenomena langka. Umumnya, warna mata orang Asia cenderung gelap. Namun di beberapa wilayah tertentu, seperti suku Lamno di Aceh, suku Buton di Sulawesi Tenggara, dan suku Lingon di Maluku, terdapat kelompok kecil masyarakat yang juga memiliki warna mata terang, bahkan biru.
Fenomena tersebut bukanlah kebetulan. Penelitian dari Pacific Press Agency menyebutkan bahwa warna mata biru pada orang-orang tertentu di Indonesia disebabkan oleh kelainan genetik langka yang disebut sindrom Waardenburg. Kelainan bawaan ini dapat memengaruhi warna rambut, kulit, dan mata sejak lahir.
Salah satu ciri khas sindrom Waardenburg adalah munculnya warna mata yang berbeda. Contohnya bisa terlihat pada Sukadana yang memiliki satu mata biru dan satu mata hitam. Adi pun mewarisi hal itu, meski pada dirinya kedua bola mata berwarna biru penuh.
Meski awalnya sempat khawatir, kini keluarga kecil ini justru bangga dengan keunikan yang dimiliki Adi. Sang ibu, Ketut Suryani, mengenang rasa cemas yang ia alami ketika pertama kali melihat mata bayinya yang biru terang.
“Waktu lahir matanya memang biru, tapi tidak terang sekali. Pas umur tiga bulan baru kelihatan sangat biru. Saya pikir anak saya tidak bisa melihat. Ternyata tidak,” tutur Suryani.
Kini, Adi tumbuh sehat seperti anak-anak seusianya. Ia tetap bisa bermain, belajar, dan beraktivitas tanpa hambatan. Satu-satunya perbedaan hanyalah tatapan mata biru yang selalu membuat orang terpukau.
Kisah Adi menjadi bukti bahwa keindahan bisa hadir dalam bentuk yang tak terduga. Di tengah masyarakat Bali yang umumnya bermata hitam pekat, sepasang mata biru milik Adi bagai permata yang memikat. Warna biru itu bukan sekadar keunikan fisik, tetapi juga warisan sejarah genetis keluarga yang telah bertahan lintas generasi. ***
Editor : Dian Suryantini