BALIEXPRESS.ID– Untuk mengantisipasi tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dan meminimalisir pekerja migran Indonesia (PMI) yang berangkat melalui jalur nonprosedural (tidak resmi), Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Jembrana menggelar workshop yang menyasar pelajar kelas XII SMK negeri maupun swasta se-Kabupaten Jembrana.
Kepala Bidang (Kabid) Disnaker Jembrana, I Putu Agus Arimbawa, mengatakan workshop ini dikaitkan dengan kegiatan job fair yang bertujuan memberikan pemahaman kepada siswa terkait peluang kerja, personal branding, serta soft skill yang dibutuhkan di dunia kerja.
Baca Juga: Sosok Dwi Hartono: Crazy Rich Jambi yang Diduga Dalang Pembunuhan Kepala Cabang BRI
“Kami ingin memberikan pemahaman bagaimana pelajar sebagai calon pencari kerja memiliki personal branding, agar bisa menunjukkan kemampuan dan daya saing mereka di dunia kerja. Daya saing itu sangat penting,” ujarnya.
Selain personal branding, workshop ini juga membahas soft skill, khususnya terkait sikap (attitude) dan keterampilan menghadapi dunia kerja.
Untuk itu, Disnaker menghadirkan pemateri profesional agar siswa mendapatkan gambaran nyata mengenai kondisi lapangan kerja, trik menghadapi persaingan, hingga cara memanfaatkan media sosial untuk membangun citra diri.
Agus menegaskan, pihaknya juga menyampaikan pesan terkait maraknya kasus PMI yang meninggal atau bekerja melalui jalur ilegal, serta TPPO yang masih terjadi.
“Pemerintah hadir memberikan subsidi sebagai reward bagi warga Jembrana yang berangkat secara prosedural. Kami juga sampaikan bahwa pemerintah menyiapkan fasilitas keuangan bagi yang ingin berangkat resmi. Ini bentuk timbal balik, kalau berangkat prosedural dapat dukungan,” jelasnya.
Baca Juga: Ketut Adi, Bocah Si Mata Biru dari Bali Utara
Namun, Agus mengakui masih ada kendala di lapangan, terutama soal kemampuan bahasa asing. Berdasarkan data, saat dilakukan pengecekan kandidat PMI se-Bali, Jembrana menjadi salah satu daerah dengan tingkat kelulusan interview paling rendah.
“Secara skill kerja, anak-anak kita sangat bagus, tapi kendalanya ada di bahasa. Ke depan kami akan hadir ke sekolah-sekolah untuk memotivasi siswa belajar bahasa lebih baik. Kami juga akan membuka pelatihan bahasa di luar jam sekolah,” tambahnya.
Disinggung soal kasus agen ilegal, Agus mengungkapkan selama kegiatan job fair, banyak peserta bertanya terkait cara memilih agen resmi.
Disnaker juga menerima tujuh pengaduan dari warga yang diduga terlibat dengan agen nonprosedural.
“Rata-rata mereka diiming-imingi bisa bekerja di Australia atau Amerika dengan biaya sangat tinggi. Ini jelas indikasi pemberangkatan tidak resmi,” tegas Agus.
Agus mengimbau masyarakat agar tidak tergiur tawaran kerja cepat dengan biaya besar. Ia meminta calon PMI memanfaatkan fasilitas yang sudah disiapkan pemerintah agar dapat bekerja ke luar negeri secara aman dan prosedural.
Editor : Wiwin Meliana