Di balik wajah tegas dan suara yang melengking, ada sosok perempuan yang ramah, penuh syukur, dan tidak pernah kehilangan semangat. Dialah Iptu Yohana Rosalin Diaz, satu-satunya perempuan yang kini dipercaya sebagai Kasi Humas di jajaran Polda Bali. Kini ia bertugas di Polres Buleleng.
Kisahnya terasa pas diceritakan saat momentum Hari Ulang Tahun Polwan ke-77, Senin, 1 September 2025, sebuah perayaan yang tidak hanya menandai usia panjang Polwan, tapi juga menegaskan betapa kuatnya peran perempuan dalam tubuh kepolisian.
Sejak kecil, Yohana sudah akrab dengan dunia kepolisian. Darah polisi mengalir deras dalam keluarganya. Kakeknya seorang polisi, ayahnya juga polisi. Bahkan, empat saudaranya pun mengenakan seragam yang sama. Dua polisi laki-laki dan dua polwan.
“Dari kecil saya melihat bapak saya bekerja tanpa mengenal libur. Pagi, siang, malam, kalau ada masyarakat butuh, bapak langsung turun. Dari situ saya merasa tugas polisi itu mulia,” kenangnya dengan mata berbinar.
Keputusan untuk mengikuti jejak keluarga pun bulat. Usai lulus SMA pada usia 18 tahun, Yohana memberanikan diri mendaftar. Setahun kemudian, di usia 19 tahun, ia resmi menyandang status sebagai polwan setelah menempuh pendidikan di Sukabumi selama 11 bulan.
“Masih kecil sekali waktu itu. Tapi saya yakin dengan pilihan saya,” ujarnya sambil tertawa.
Baca Juga: Raih KJB Award, Ini Profil Kapolres Buleleng AKBP Ida Bagus Widwan Sutadi
Awal tugas membawanya ke NTT. Perempuan kelahiran Flores, 8 Februari 1970 itu menyebut jumlah polwan di NTT masih minim. Ia sempat bertugas di lalu lintas sebelum akhirnya pindah ke Bali mengikuti sang suami yang juga polisi.
Seiring waktu, kariernya terus menanjak. Yohana bertugas ke Bali. Suaminya kala itu pernah dipercaya menjadi Kapolsek Banjar, Wakapolsek Singaraja, hingga Kasat Bimas. Sementara Yohana sendiri, sibuk menjelajah beberapa bidang sesuai perintah yang diturunkan oleh pimpinan. Ia merasakan hampir semua bidang. Dari lalu lintas, reskrim, hingga tugas pelayanan publik.
Bertahun-tahun, ia juga menjadi bagian dari layanan SIM. Di situ ia belajar banyak tentang kesabaran. Bahkan, persahabatan dengan rekan kerjanya begitu erat, sampai ia merasa sangat kehilangan saat salah satu sahabatnya meninggal akibat kecelakaan.
“Delapan tahun saya di bagian SIM,” ucapnya pelan.
Tahun 2016 menjadi titik balik dalam perjalanan karier Yohana. Saat itu, Kapolda Bali menggagas program agar polwan bisa menjadi Bhabinkamtibmas di desa-desa.
Awal karirnya menjadi Bhabinkamtibmas banyak yang meremehkan. “Polki saja kadang dibilang enggak bisa melayani dengan baik, apalagi Polwan,” begitu komentar sinis yang sempat ia dengar.
Namun Yohana tidak gentar. Yohana berhasil membalik cibiran itu dengan telak. Baginya, perintah adalah amanah yang harus dijalankan. Ia pun ditempatkan di Desa Beratan, Kecamatan Buleleng. Dari situ, ia belajar arti kedekatan dengan masyarakat. Menjenguk warga yang sakit, hadir dalam hajatan pernikahan, bergabung dengan muda-mudi, semua bisa dilakukan. Bernyanyi dan berjoged saat menghadiri acara disikat Yohana, sehingga ia begitu dekat dengan masyarakat.
“Intinya, saya ingin hadir di setiap momen warga,” tuturnya.
Kehadirannya diterima dengan baik. Warga yang awalnya ragu, justru kemudian merasa kehilangan kalau ia tidak datang. Sebagai Bhabinkamtibmas, Yohana merasa bertanggungjawab atas wilayah tugasnya. Kapanpun warga membutuhkannya, dalam hitungan menit ia telah ada di TKP.
“Kepala desa sampai bercanda, Bu Yohana tidur pakai baju dinas ya, ditelepon tengah malam langsung siap,” begitu kata Yohana sambil mengenang pengalamannya.
Kerja kerasnya berbuah manis. Ia mendapat penghargaan dari Kapolda Bali yang saat itu dijabat Komjen Pol, Petrus Reinhard Golose, sebagai Bhabinkamtibmas berprestasi.
“Satu-satunya polwan di Bali yang dapat penghargaan itu,” katanya bangga.
Selama bertugas, Yohana hampir selalu berada di tengah lingkungan laki-laki. Baik di reskrim, narkoba, maupun tugas-tugas lapangan. Ia mengaku tidak pernah minder.
“Prinsip saya sederhana. Saya anggap semua rekan itu saudara. Jadi tidak ada sungkan. Walaupun perempuan sendiri, saya selalu ikut briefing, operasi, bahkan razia malam,” jelasnya.
Tantangan memang ada, apalagi ketika harus turun ke lapangan pada malam hari. Tapi bagi Yohana, cintanya pada seragam cokelat membuat semua lelah terasa ringan.
“Kalau jalani dengan ikhlas dan senang hati, hasilnya pasti baik,” ujarnya penuh keyakinan.
Di usianya yang kini 55 tahun, Yohana tetap terlihat bugar, ceria, dan penuh energi. Banyak yang penasaran apa rahasianya. Ia pun menjawab dengan sederhana, bersyukur, berdoa, dan bersedekah.
“Orang tua saya dulu bilang, kalau mau rezeki banyak jangan bangun terlambat. Harus lebih cepat dari ayam. Dan jangan lupa sedekah,” jelasnya.
Kini, di penghujung kariernya, Yohana mengemban tugas sebagai Kasi Humas Polres Buleleng. Sebuah posisi yang membuatnya banyak berhubungan dengan media dan masyarakat.
Ia menyebut, tantangan utamanya bukanlah tekanan kerja, melainkan soal waktu. Permintaan informasi bisa datang siang ataupun malam. Namun semua itu bisa ia jalani karena solidnya koordinasi antarbagian.
“Setiap informasi yang keluar harus akurat, jadi saya selalu koordinasi dulu dengan satfung terkait. Kalau ada laka, saya tanya ke lantas. Kalau kasus, saya minta ke reskrim. Jadi data yang saya sampaikan bisa dipercaya,” jelasnya.
Dengan usia pensiun tinggal tiga tahun lagi, Yohana hanya ingin satu hal, meninggalkan jejak yang baik.
“Saya ingin pensiun dengan nilai terbaik. Saya ingin meninggalkan teladan disiplin dan semangat bagi rekan-rekan,” katanya mantap.
Bagi Yohana, menjadi polwan bukan hanya tentang menjalankan tugas, tapi juga menghadirkan aura positif. Ia ingin setiap orang yang bertemu dengannya merasa nyaman dan termotivasi. ***
Editor : Dian Suryantini