BALIEXPRESS.ID - The Nusa Dua Festival kembali hadir di tahun 2025 setelah sempat vakum selama setengah dekade akibat pandemi Covid-19.
Festival yang akan berlangsung 25–26 Oktober 2025 ini menargetkan 15 ribu kunjungan wisatawan.
Bahkan akan menghadirkan suguhan budaya, musik, dan atraksi dalam konsep baru bertajuk Celebrate the Beauty of Harmony di kawasan pariwisata Peninsula Island.
Baca Juga: Tukad Mati Meluap, Underpass Simpang Dewa Ruci Lumpuh
Direktur Operasi ITDC, Troy Reza Warokka mengataka, festival ini merupakan momentum penting bagi pariwisata Bali.
Setelah sempat terhenti beberapa tahun, festival ini hadir dengan semangat baru untuk menyatukan budaya masyarakat, desa penyangga, hingga wisatawan, dengan harapan mampu memberikan sesuatu yang berbeda bagi pariwisata.
Konsep Celebration the Beauty of Harmony menjadi simbol perpaduan musik dan budaya, sekaligus menandai kembalinya event kebanggaan Nusa Dua pasca pandemi.
Baca Juga: GEGER! Sule Dikabarkan Meninggal Dunia, Ini Fakta Kondisi Terkininya
“Ini momentum kembalinya event kebanggaan Nusa Dua pasca pandemi. Event ini paling penting yang berkelas dunia secara kontribusi secara budaya reputasi sudah menjamin dan kami ingin benar-benar menyelenggarakannya dengan baik,” ujar Troy, Selasa (9/9) malam.
Pihaknya menyebutkan, animo masyarakat dan tenant di kawasan Nusa Dua terhadap festival ini sangat tinggi.
Untuk menarik lebih banyak pengunjung, tiket presale telah dibuka dengan harga terjangkau, mulai Rp 75 ribu dengan potongan promo hingga 28 persen.
“Harga tiket secara harga pastinya terjangkau sesuai dengan kualitas penampil. Selain artis nasional, cukup banyak artis Bali juga akan ikut tampil,” paparnya.
General Manager The Nusa Dua, I Made Agus Dwiatmika, menerangkan persiapan festival ini mencapai sekitar 80 persen.
Beragam agenda telah disiapkan, mulai parade budaya bertema Mahabharata, deretan musisi papan atas seperti Kahitna, Bunga Citra Lestari, Tika Pagraky, dan Astera.
Selain itu juga beragam kegiatan lain, seperti lomba gebogan, instalasi seni, bazar UMKM, hingga kampanye keberlanjutan.
“Kami berharap event ini bisa mengobati rasa kangen karena sebelum Covid-19 festival ini rutin menjadi agenda tahunan. Kini, setelah lima tahun absen, kami hadir lagi bersama tenant, desa penyangga, desa adat, hingga Pemkab Badung,” terang Dwiatmika.
Ia menyebutkan, target kunjungan dalam festival tahun ini 15 ribu pengunjung selama dua hari.
Meski demikian, hingga saat ini penjualan tiket masih berada di bawah seribu.
Selain itu, tiga desa penyangga di sekitar Nusa Dua juga diberikan undangan khusus secara gratis.
“Sekarang masih jauh jaraknya, dan memang banyak festival lain di Bali. Tapi kami yakin menjelang hari H akan semakin banyak yang datang. Harapan kami, festival ini bukan hanya memberi hiburan, tetapi juga dampak positif pada tingkat hunian dan interaksi wisatawan dengan masyarakat,” jelasnya.
Sementara, Camat Kuta Selatan, Ketut Gede Arta menyampaikan, penyelenggaraan festival tahun ini memiliki spirit yang lebih besar dibandingkan sebelumnya.
Terlebih saat ini melibatkan banyak unsur budaya lokal.
“Ini merupakan momen penting karena festival yang sempat vakum akhirnya kembali digelar. Spirit pelaksanaannya kali ini lebih besar, ada harmoni dan budaya, bisa memberikan warna yang berbeda. Saya bahkan berharap durasinya bisa lebih panjang mungkin bisa sampai satu minggu,” ucapnya.
Ia menambahkan, festival ini juga memberi ruang bagi seniman dan sanggar di Kuta Selatan untuk tampil.
Sekaligus menjadi bentuk nyata kolaborasi antara pengelola kawasan dengan pemerintah daerah.
“Banyak sanggar seni di Kuta Selatan yang dilibatkan. Ini salah satu contoh bagaimana Nusa Dua mengkolaborasikan seniman lokal, sehingga menggambarkan dinamika yang dibangun menjadi spirit baru. Selain itu, festival ini juga bisa menjadi promosi agar wisatawan tertarik menginap di Nusa Dua,” pungkasnya. (*)
Editor : Putu Resa Kertawedangga