BALIEXPRESS.ID – Media sosial kembali diramaikan dengan protes warga terkait isu lingkungan.
Kali ini datang dari Kawasan Bedugul, Tabanan, Bali, di mana seorang warga memprotes pembabatan bukit yang diduga dilakukan tanpa kejelasan izin.
Video protes tersebut pertama kali diunggah oleh akun Instagram @balisantuy, memperlihatkan pemandangan bukit yang tampak sudah dibabat habis.
Baca Juga: Nama Giri Prasta Tak Muncul, DPC PDIP Bangli Sepakat Usulkan Satu Calon Ketua DPD
Di balik kamera, terdengar suara seorang pria yang dengan nada geram menyampaikan keresahannya.
“Swastiastu, tyang berada di Bedugul Bali, toh jeg keneange gen bukite semeton jog balbale,” ujarnya dalam logat Bali yang kental dikutip pada Rabu (17/09/2025).
Ia menduga bahwa pembabatan bukit itu dilakukan untuk keperluan pembangunan, namun belum jelas proyek apa yang sedang direncanakan. Warga tersebut mempertanyakan apakah aktivitas tersebut memiliki izin resmi dari pemerintah.
“Pak Gubernur be ngelah izin ne malbal bukit?” tanyanya, menyindir Gubernur Bali dengan nada sinis.
Dalam video yang sama, si perekam juga mengingatkan bahwa pembabatan hutan atau bukit tanpa perhitungan dapat berdampak serius terhadap lingkungan.
Ia menyinggung bencana banjir yang belum lama ini terjadi di Denpasar, sebagai contoh akibat ketidakseimbangan alam.
“Nyan mare banjir ngorahang bencana alam,” ucapnya menyesalkan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pemerintah kabupaten Tabanan maupun pihak provinsi Bali terkait aktivitas pembabatan bukit yang menjadi sorotan warga tersebut.
Belum diketahui pula siapa pihak pelaksana di balik proyek pembabatan tersebut dan apakah telah mengantongi izin lingkungan yang sah.
Isu ini memicu kekhawatiran di kalangan netizen, terutama karena kawasan Bedugul dikenal sebagai wilayah dataran tinggi yang menjadi penyangga ekosistem di Bali tengah. Jika kawasan ini terganggu, dikhawatirkan akan menimbulkan dampak ekologis jangka panjang.
Unggahan video tersebut langsung mendapat banyak komentar dari warganet yang turut geram atas kejadian itu. Sebagian besar menyayangkan jika benar bukit dibabat untuk kepentingan bisnis tanpa memperhatikan dampak lingkungan.
Editor : Wiwin Meliana