BALIEXPRESS.ID- Pendangkalan parah di pintu masuk kolam labuh Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan, Kabupaten Jembrana, Bali, membuat para nelayan kewalahan.
Banyak perahu tidak bisa masuk, sehingga hasil tangkapan rusak dan terpaksa dijual dengan harga murah.
Baca Juga: Penataan Sasana Budaya di Bangli Dilanjutkan 2026 untuk Maksimalkan Fungsi Gedung
Sejumlah perahu selerek milik nelayan Pengambengan tampak parkir di luar kolam labuh.
Mereka harus menunggu air pasang agar bisa masuk dan membongkar muatan.
Akibatnya, sebagian nelayan terpaksa memindahkan hasil tangkapan menggunakan perahu kecil agar ikan bisa segera dijual di dermaga penimbangan.
Salah seorang nelayan, M Basir (48), mengungkapkan kondisi ini sudah berlangsung lama akibat endapan pasir laut.
Baca Juga: BGN Minta Maaf dan Bentuk Tim Khusus Perbaikan Program MBG, Ribuan Anak Jadi Sorotan
Nelayan pemilik kapal di bawah 30 GT sangat kesulitan menjual ikan karena tidak bisa merapat ke dermaga.
“Tadi pagi banyak perahu datang saat air masih surut, jadi lama menunggu untuk masuk. Pintu kolam sudah dangkal, pasir terlalu tinggi. Kalau air surut tidak bisa masuk, ikan rusak dan akhirnya dijual untuk tepung ikan,” keluhnya, Rabu (24/9/2025).
Ia menambahkan, karena terlalu lama menunggu pasang, banyak ikan membusuk. Nelayan akhirnya harus mengangkut secara bertahap menggunakan perahu kecil.
Baca Juga: Puting Beliung Terjang Gilimanuk, 13 Rumah Rusak, Kerugian Capai Rp15 Juta
“Lambat masuk, jadi ada yang angkut pakai perahu kecil. Ikan yang masih bagus sedikit, sisanya direbus karena kelamaan di luar kolam,” jelasnya.
Sejumlah kapal nelayan juga memilih parkir di luar kolam labuh karena takut kandas.
Perahu baru bisa masuk sekitar pukul 09.00 WITA saat pasang, lalu mulai surut kembali sekitar pukul 14.00 WITA.
Sementara itu, Kepala Sub Bagian Umum PPN Pengambengan, Lukman Hadi, membenarkan kondisi pintu masuk kolam yang dangkal.
Ia menyebut pengerukan pernah dilakukan pada 19 Agustus 2025, tetapi endapan pasir kembali menumpuk dengan cepat.
“Kami sudah lakukan pengerukan di titik pendangkalan. Masuk dan keluar masih bisa, tetapi kalau muatan penuh harus menunggu agak pasang. Jadi harus bergantian agar tidak kandas,” jelasnya.
Lukman berharap proyek pengembangan PPN Pengambengan bisa segera terealisasi untuk mengatasi masalah pendangkalan secara permanen.
“Proyek pengembangan ditargetkan mulai akhir tahun, November atau Desember. Salah satunya ada pengerukan kolam sesuai kebutuhan nelayan,” pungkasnya.***
Editor : Wiwin Meliana