BALIEXPRESS.ID - I Gede Pande Megantara, 26, ditemukan meninggal dunia di dasar Jembatan Tukad Bangkung, Kecamatan Petang, Kamis (25/9).
Kepergian pria yang dikenal ceria dan ramah ini pun menyisakan duka mendalam bagi keluarga.
Hal ini tampak dari sorot mata ibunya yang masih tidak menyangka anak pertamanya harus pergi mendahului.
Baca Juga: Rasniathi Adi Arnawa Dikukuhkan Sebagai Bunda PAUD Kabupaten Badung
Ibu korban, Ni Nengah Darmini mengaku, masih tidak menyangka anak pertamanya telah tiada.
Padahal, baru kemarin sore diajak bercanda dan tertawa.
“Kemarin sore masih bercanda dengan adiknya dan juga saya, duduk di belakang rumah. Cuma itu saja, tidak ada cerita yang aneh-aneh,” ujar Darmini di kediamannya Banjar Dalem, Desa Angantaka, Abiansemal.
Baca Juga: TRAGIS! Pemuda 24 Tahun Diduga Ulah Pati di Tengah Pemasangan Railing Jembatan Tukad Bangkung
Ia menyebutkan, keseharian anak pertama dari tiga bersaudara tersebut bekerja di Pasar Kumbasari, Denpasar, sebagai petugas pemungut cingkreman (iuran).
Sehari sebelumnnya, almarhum masih bekerjanya masih seperti biasa. Ia berangkat kerja pukul 15.00 Wita danpulang pukul 20.00 Wita.
Korban sempat keluar rumah lagi pukul 21.00 Wita pamit untuk melali, dan pulang lagi.
Baca Juga: BREAKING NEWS! Pemuda Diduga Ulah Pati di Jembatan Tukad Bangkung
Berselang berapa jam, Darmini pun merasa tidak tenang ketika putranya mengginalkan rumah pukul 01.00 Wita dinihari.
Akibat tidak tenang saat itu, dirinya langsung tak dapat tidur.
“Jam 1 dinihari dia keluar. Saya dengar pintu gerbang dibuka. Tapi sampai pagi saya gak bisa tidur. Pagi tadi datanglah Pak Kelian (Banjar Dinas Dalem) dan pak polisi. Tadi pagi baru saya dapat kabar,” tuturnya.
Sang putra diakui adalah anak yang baik dan ramah.
Sebelum kepergian sang anak dirinya pun tidak memiliki firasat jika akan pergi untuk selamanya.
“Saya kaget, masalahnya kemarin sore masih bercanda, dan tidak ada masalah apa apa. Firasat apapun gak ada. Hanya sempat dia minta untuk dicucikan sandalnya dua pasang. Tidak ada kecurigaan apapun,” paparnya.
Setelah ini, jenazah Pande Megantara diupacarai di tempat kelahirannya, yakni di Desa Antiga, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem.
Hanya saja kapan prosesi upacara akan dilaksanakan, Darmini belum dapat memastikan.
“Prosesi upacara belum ada kabar dari kampung, sementara jenazah masih dititip di RSD Mangusada,” ungkapnya.
Sementara itu, Kelian Banjar Dinas Dalem, Ketut Rai juga mengaku mengenal korban.
Pande Megantara dikenal sangat ramah dan sering menyapa dirinya.
“Setelah ditanya ibuknya dan adik-adiknya, tidak ada masalah. Ada problem dengan pacar, katanya tidak pernah. Di lingkungan pun sebetulnya dia rajin sekali menyapa saya selaku kelian dinas,” ungkapnya.
Keluarga Pande Megantara disebutkan, baru menjadi warga di Banjar Dalem pada Juli 2024.
Ia mendapatkan kabar, bahwa warganya melakukan aksi bunuh diri dari seorang polisi yang tugas di Polsek Petang.
Kemudian dirinya bersama polisi langsung mendatangu rumah korban untuk memastikan kebenarannya.
Hal ini juga diperkuat dari penemuan jenazah korban dan motor miliknya yang terparkir di Jembatan Tukad Bangkung.
“Kebetulan di rumahnya ada cctv, disuruh buka oleh pak polisi. Setelah dicek dari cctv, dia jam 1 dinihari keluar,” paparnya. (*)
Editor : Putu Resa Kertawedangga