Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Waspadai Penipuan Deepfake, Perdagangan Perangkat Pembuat Deepfake di Dark Web Naik 223 Persen

Rika Riyanti • Jumat, 7 November 2025 | 01:06 WIB

 

PENIPUAN: Waspada penipuan deepfake
PENIPUAN: Waspada penipuan deepfake

 

BALIEXPRESS.ID - Kemajuan teknologi membawa banyak manfaat bagi kehidupan masyarakat modern, namun di sisi lain juga memunculkan tantangan baru, terutama dalam hal keamanan digital.

Salah satu ancaman yang kini semakin marak adalah penipuan berbasis kecerdasan buatan (AI) dengan teknik deepfake, yang mampu meniru wajah dan suara seseorang secara sangat realistis.

Menanggapi fenomena ini, perbankan mulai memperkuat komitmennya dalam melindungi nasabah melalui kampanye edukasi bertajuk #JanganKasihCelah.

Baca Juga: Bawa Masuk Ekstasi ke Bali, WNA Jerman Dituntut 8 Tahun Penjara, Tuntutan Bule Belanda Ditunda

Program ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap berbagai bentuk kejahatan siber, termasuk yang memanfaatkan teknologi AI.

Chief Digital Officer Danamon, Andreas Kurniawan, menegaskan bahwa ancaman kejahatan digital perlu dihadapi secara serius oleh semua pihak.

Pihaknya melihat fenomena penipuan berbasis siber ini sebagai tantangan serius yang harus dihadapi bersama.

Oleh karena itu, program ini bertujuan meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat terhadap berbagai bentuk penipuan, serta terus dapat memperbarui wawasan mereka akan trend modus yang bermunculan.

Baca Juga: Rahina Purnama Kelima, Bupati Satria Muspayang Karya di Lima Pura

“Salah satu kejahatan siber yang menjadi fokus kami adalah kejahatan siber yang menggunakan teknologi AI, seperti melalui penggunaan teknik deepfake yang dapat mengelabui nasabah. Kampanye #JanganKasihCelah ini menjadi bagian dari upaya Danamon untuk melindungi nasabah dari ragam potensi kerugian yang dapat terjadi akibat penipuan tersebut,” katanya, Kamis (6/11).

AI sejatinya dikembangkan untuk memudahkan aktivitas manusia, termasuk dalam bidang kreatif seperti pembuatan konten hiburan dan seni digital.

Namun, seiring kemajuan teknologi dan semakin mudahnya akses terhadap AI generatif, muncul pula penyalahgunaan teknologi ini oleh pelaku kejahatan siber.

Salah satu modus yang kini marak dilakukan adalah penggunaan deepfake, di mana pelaku memanipulasi video dan audio agar menyerupai wajah serta suara seseorang secara sangat mirip.

Teknik ini memungkinkan penipu berpura-pura menjadi pejabat bank dan meyakinkan korban untuk memberikan data pribadi penting seperti Kode OTP, PIN, maupun informasi kartu debit atau kredit.

Berdasarkan laporan Tata Kelola Kecerdasan Artifisial Perbankan Indonesia dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, penggunaan deepfake untuk penipuan meningkat pesat seiring dengan kemudahan akses AI generatif.

Antara kuartal pertama 2023 hingga kuartal pertama 2024, perdagangan perangkat pembuat deepfake di forum dark web melonjak hingga 223%.

Baca Juga: Oknum Pegawai BNNK Buleleng Positif Sabu, Terancam Dipecat Tidak Hormat

Temuan ini menunjukkan bahwa teknologi tersebut semakin mudah digunakan oleh pelaku kejahatan tanpa terdeteksi, dan berpotensi menggerus kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan.

Andreas menambahkan bahwa kesadaran publik menjadi kunci dalam mencegah korban jatuh dalam jebakan deepfake.

“Saat ini, sudah banyak pemanfaatan teknologi AI untuk tujuan positif. Di sisi lain, sudah ada pelaku kejahatan siber yang memanfaatkan AI untuk mendapatkan keuntungan melalui tindak kriminal, seperti penggunaan teknik deepfake dengan tujuan mengelabui korban,” katanya. 

“Apabila tidak menyadari bentuk kejahatan ini, korban akan dengan mudah dihubungi oleh pelaku kejahatan, dikelabui, dan memberikan data rahasia yang akan dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan yang merugikan. Untuk itu, penting bagi masyarakat mengetahui skema-skema yang mungkin digunakan penipu, seraya mengingatkan nasabah dan masyarakat untuk tidak sembarang memberikan Kode OTP, Kode CVV / CVC, PIN dan masa berlaku Kartu Debit / Kredit / Charge Danamon kepada orang yang tidak bisa terverifikasi, termasuk yang mengaku sebagai perwakilan pihak perbankan,” imbuhnya.

Baca Juga: Honda Community Bali Siap Meriahkan Honda Bikers Day 2025

Modus penipuan berbasis deepfake dapat berbentuk panggilan video atau suara dari orang yang meniru anggota keluarga, selebritas, atau bahkan petugas bank, dengan wajah dan suara yang tampak autentik.

Banyak korban yang akhirnya tertipu dan memberikan informasi pribadi kepada pihak tak bertanggung jawab.

Melalui kampanye #JanganKasihCelah, pihaknya mengajak masyarakat untuk selalu waspada dan memverifikasi setiap panggilan atau permintaan data pribadi yang diterima.

Nasabah disarankan untuk memeriksa nomor telepon yang menghubungi, memperhatikan intonasi suara serta ekspresi wajah lawan bicara, dan segera mengabaikan apabila terdapat tanda-tanda ketidakwajaran seperti gerakan bibir tidak sinkron atau ekspresi yang tidak alami.

 

Bagi nasabah yang merasa telah memberikan data rahasia kepada pihak lain, Danamon menyarankan agar segera mengganti kata sandi dan PIN akun perbankan, serta memblokir kartu transaksi. 

Langkah cepat ini penting untuk mencegah potensi kerugian lebih besar.

"Kami percaya bahwa edukasi dan kolaborasi adalah kunci utama dalam menjaga keamanan bertransaksi finansial di era digital. Oleh karena itu, Danamon mengajak seluruh nasabah dan masyarakat untuk bersama-sama meningkatkan kewaspadaan, tidak mudah percaya pada informasi yang tidak terverifikasi, serta selalu menggunakan saluran komunikasi resmi,” pesannya.(***)

Editor : Rika Riyanti
#Danamon #artificial intelegence #deepfake #penipuan