BALIEXPRESS. ID- Dalam upaya membentuk generasi muda yang sehat, cerdas, dan berkualitas, kegiatan Posyandu Remaja di Desa Adat Ked, Desa Taro, Kecamatan Tegallalang semakin digalakkan. Program ini menyasar remaja usia 10 hingga 18 tahun di desa adat setempat dengan tujuan meningkatkan kesehatan fisik, mental, serta sosial mereka melalui pendekatan edukatif dan partisipatif.
Ketua STT Desa Adat Ked, I Kadek Diki Mahendra, menjelaskan Posyandu Remaja tidak hanya berfungsi sebagai tempat pemeriksaan kesehatan, tetapi juga menjadi wadah pembinaan karakter dan kesejahteraan jiwa. Berbagai kegiatan dilakukan, seperti pemeriksaan kesehatan rutin yang meliputi pengukuran berat dan tinggi badan, tekanan darah, hingga pemeriksaan hemoglobin (HB) untuk mencegah anemia pada remaja putri.
“Selain itu, penyuluhan kesehatan menjadi bagian penting dalam kegiatan posyandu. Remaja dibekali edukasi tentang kesehatan reproduksi, gizi seimbang, bahaya penyalahgunaan narkoba (NAPZA), termasuk penyuluhan dari sisi agama,” paparnya, Minggu (9/11).
Hampir selama dua tahun, STT di Desa Adat Ked mengikuti kegiatan program dari Puskesmas Tegallalang II tersebut. Kegiatan konseling dan sosialisasi juga turut memperkuat peran posyandu sebagai ruang aman bagi remaja untuk berbagi dan memperoleh dukungan psikologis.
“Konseling membantu mereka mengatasi masalah pribadi, emosional, maupun sosial yang sering dihadapi di masa transisi menuju dewasa. Kegiatan ini kami ikuti setiap bulan sekali berlokasi di Balai Banjar Ked,” papar Kadek Diki.
Selain dari sisi kesehatan, Kantor Kementerian Agama melalui Penyuluh Agama juga turut andil di dalam posyandu tersebut. Khususnya dalam ajaran Hindu, setiap tahapan kehidupan memiliki makna dan tujuan luhur. Salah satunya adalah masa Brahmacari, tahap awal dalam Catur Asrama (empat tahapan kehidupan manusia) yang menjadi pondasi penting dalam pembentukan karakter, kedisiplinan, dan spiritualitas seseorang.
Penyuluh Agama Hindu Kemenag Gianyar, Ni Wayan Ekayanti, menjelaskan bahwa masa Brahmacari merupakan masa bagi seseorang untuk menuntut dan menekuni ilmu pengetahuan, baik pengetahuan duniawi maupun spiritual. “Masa ini adalah saat seorang manusia berfokus untuk belajar, menata diri, dan mengendalikan pikiran serta tindakan sebelum memasuki tahap kehidupan berikutnya,” ujarnya.
Secara etimologis, kata brahmacarya berarti berkelana untuk mencari ilmu. Karena itu, masa Brahmacari menjadi tahapan pendidikan dan pengendalian diri, di mana seseorang dituntut untuk patuh pada guru (guru bhakti), disiplin dalam belajar, dan menjauhi godaan hawa nafsu duniawi, termasuk urusan seks dan pernikahan. “Pengendalian diri pada masa ini menjadi dasar untuk melahirkan pribadi yang tangguh, beretika, dan memiliki tujuan hidup yang jelas,” tambah Ekayanti.
“Inti dari masa Brahmacari bukan hanya sekadar menahan diri, tetapi bagaimana seseorang menyiapkan pondasi kehidupan yang kuat baik dari segi pengetahuan, moral, maupun spiritual,” terang Ekayanti.
Ia berharap, nilai-nilai Brahmacari dapat kembali dihidupkan di kalangan generasi muda Hindu khususnya di Desa Adat Ked agar tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, berilmu, dan berbudaya.
“Dengan memahami makna Brahmacari, generasi muda diharapkan tidak hanya mengejar kesuksesan duniawi, tetapi juga memiliki keseimbangan batin dan spiritual, sebagaimana ajaran luhur yang diwariskan dalam agama Hindu,” pungkas Ekayanti.*
Editor : Putu Agus Adegrantika