BALIEXPRESS. ID– Tantangan keterbatasan tenaga dokter hewan tidak menjadi penghalang bagi UPTD Puskeswan III Kabupaten Gianyar untuk menghadirkan layanan kesehatan hewan yang optimal kepada masyarakat. Melalui inovasi Posyandu Hewan Terintegrasi, pelayanan kesehatan hewan kini dapat menjangkau 38 desa di tiga kecamatan wilayah kerja mereka.
Kepala UPTD Puskeswan III Gianyar, I Nyoman Arya Dharma, seizin Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar Anak Agung Putri Ari, Senin (24/11), mengungkapkan inovasi ini berangkat dari kebutuhan layanan kesehatan hewan yang cepat, mudah dijangkau, serta berkelanjutan di tengah tingginya permintaan masyarakat.
Saat ini, UPTD Puskeswan III hanya diperkuat empat dokter hewan, dua PNS, satu P3K, dan satu P3K paruh waktu untuk melayani ribuan hewan peliharaan dan ternak. Kondisi tersebut mendorong lahirnya model pelayanan kreatif yang tetap mampu mengakomodasi pelayanan kuratif, preventif hingga edukatif.
Mengadopsi konsep posyandu manusia, pelayanan ini memadukan layanan keliling, edukasi komunitas, pendataan berbasis digital, hingga pemberdayaan kader desa. Setiap desa memiliki kader yang dilatih untuk mengenali tanda penyakit, mengumpulkan data kesehatan hewan, serta menjadi penghubung masyarakat dengan dokter hewan.
Inovasi ini dikembangkan melalui pemetaan kebutuhan desa dan penyusunan jadwal rotasi micro team (satu dokter hewan didampingi dua tenaga PTT) yang berkolaborasi dengan berbagai sektor seperti Dinas PMD, FKH Universitas Udayana, PDHI Bali, perangkat desa, kelompok tani ternak, hingga lembaga sosial peduli hewan.
Yang tak kalah menarik, pencatatan populasi hewan, vaksinasi, hingga penyakit kini dilakukan secara digital menggunakan aplikasi sederhana atau formulir daring berbasis WhatsApp. Inovasi unggulan lainnya adalah Posyandu Hewan Mobile (PHM) yang memanfaatkan sepeda motor untuk menjangkau desa terpencil dengan layanan seperti vaksinasi rabies, pemeriksaan kesehatan umum, pengobatan ringan hingga penyuluhan.
“Kekuatan inovasi ini terletak pada perpaduan teknologi, pemberdayaan masyarakat, dan intervensi preventif yang terstandar berbasis data,” ujar Arya Dharma.
Kedepan, pihaknya menyarankan tambahan dukungan mulai dari penguatan anggaran operasional PHM melalui dana desa atau CSR, pengembangan aplikasi yang lebih lengkap, hingga penambahan tenaga dokter hewan PTT seperti di layanan kesehatan manusia. Pelatihan rutin bagi kader kesehatan hewan pun dirancang agar keberlanjutan inovasi ini semakin kuat. *
Editor : Putu Agus Adegrantika