Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Paradiso” di ARMA Ubud, Enam Perupa Ungkap Kegelisahan Citra Pulau Surga

Putu Agus Adegrantika • Sabtu, 6 Desember 2025 | 03:21 WIB
PERUPA : Perupa Bali yang melangsungkan pameran di ARMA Ubud.
PERUPA : Perupa Bali yang melangsungkan pameran di ARMA Ubud.

BALIEXPRESS.ID — Museum Agung Rai (ARMA) Ubud kembali menghadirkan ruang renungan kritis melalui pameran bertajuk “Paradiso”, yang dibuka Jumat, (5/12). Enam perupa Bali tampil dalam satu panggung artistik yang menyuarakan kegelisahan atas citra “pulau surga” yang kian memudar di tengah gempuran pariwisata, perubahan sosial, dan tekanan ekologis.

Direktur Museum ARMA, Agung Gede Yudi Sadona, menyampaikan bahwa pameran ini lahir dari proses panjang dari mengenal para perupa, berdiskusi, hingga membaca ulang realitas Bali hari ini. “Ini ruang kreatif yang harus diisi orang kreatif, dan mereka sanggup,” ujarnya, menegaskan keyakinannya pada kekuatan seniman dalam membongkar ilusi sekaligus mengungkap kenyataan.

Kurator Ari Suhaja memaknai “Paradiso” bukan dari mitologi lokal, melainkan dari konsep surga-neraka berlapis dalam paradigma abad ke-18. Ia kemudian mengaitkannya dengan kondisi Bali masa kini yang menurutnya sudah “compang-camping”. Ari menyebut, perjalanan seorang seniman adalah proses “terlahir dua kali” melalui pendidikan dan pembacaan sejarah. Karena itu, karya-karya di pameran ini tidak lagi sekadar menawarkan keindahan, melainkan membuka tabir realitas yang lama tersembunyi di balik citra eksotis Bali.

Beragam karya yang dipamerkan menjadi kritik visual terhadap narasi “surga”. I Ketut Sudiarta menghadirkan simbol-simbol gelap yang mencerminkan situasi Bali hari ini sebuah tafsir visual yang lahir dari dialognya dengan kurator tentang fenomena sosial yang kian kompleks. Wayan Santrayana, seniman senior, mengejutkan dengan tiga karya bertema pornografi, memaknai senggama sebagai “surga sesaat”. Ia menyoroti bagaimana nilai suci dalam konsep ang–ah kini tereduksi menjadi bahasa tubuh semata, serta kritik terhadap simbol “surga di telapak kaki ibu” yang dianggap semakin diabaikan.

Di sisi lain, Kabul memilih metafora lebah sebagai gambaran Bali, makhluk kecil yang menyimpan madu sekaligus racun, mengilustrasikan dualitas dunia yang dipenuhi campur tangan manusia berlebihan. Sutarjaya membawa nostalgia masa kecil lewat refleksi atas tarian Bali yang menurutnya “mulai redup sinarnya” di mata generasi muda. Goresannya mencoba merawat ingatan kolektif tentang keanggunan yang terancam hilang.

Perupa I Made Gunawan menghadirkan karya tentang alam dan keharmonisan, memperingatkan bahwa kerusakan lingkungan menjadi bukti ketidakmampuan manusia menjaga Bali. “Tipu daya pada alam hanya akan menghancurkan Bali,” tegasnya.

Sementara Budayana memecahkan warna-warna cerah untuk memperlihatkan sisi gelap Bali modern surga yang katanya “tidak sedang baik-baik saja” akibat persoalan sosial dan ekologi yang tak kunjung menemukan titik temu.*

Editor : Putu Agus Adegrantika