Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Yush Orista Coffee: UMKM Kopi Rumahan di Tengah Desa Dapdap Putih

I Putu Mardika • Rabu, 17 Desember 2025 | 03:11 WIB

Yush Orista Coffe di Desa Dapdap Putih, Busungbiu, Buleleng merupakan usaha mikro kopi rumahan
Yush Orista Coffe di Desa Dapdap Putih, Busungbiu, Buleleng merupakan usaha mikro kopi rumahan
BALIEXPRESS.ID – Di tengah Desa Dapdap Putih, Busungbiu, Buleleng berdiri sebuah usaha mikro kopi rumahan bernama Yush Orista Coffe. Berkembang dan bertahan dengan mengandalkan kualitas serta pengolahan kopi yang masih tradisional, usaha ini berdiri dari tahun 2000 sampai saat ini.

Dikelola oleh keluarga secara turun-temurun, hingga kini Yush Orista Coffe tetap mampu mempertahankan cita rasa asli kopi tanpa campuran.

Ni Putu Tuti Lestiani, salah satu keluarga dari pemilik usaha ini menjelaskan bahwa usaha ini awalnya dirintis oleh orang tua sejak tahun 2000 dengan kapasitas produksi yang masih terbatas.

Pada masa awal usaha ini, proses sangrai kopi masih dilakukan secara manual sehingga mempengaruhi kapasitas produksi yang hanya mampu mengolah 10 kilogram dalam sekali produksi.

Seiring berjalannya waktu, di tahun 2010, akhirnya keluarga memutuskan membuat alat sangrai sendiri, dari keputusan ini meningkatkan kapasitas produksi hingga 50 kilogram dalam sekali proses sangrai dan produksinya mencapai 150 kilogram dalam sehari.

“Awal mula usaha ini punya mertua saya dari tahun 2000, mulanya hanya bisa maksimal 10 kilo dalam sekali pengolahan karena proses sangrainya masih manual menggunakan tangan, tapi semenjak tahun 2010 suami saya baru membuat tempat sangrainya sendiri makanya sekarang bisa 50 kilo kopi dalam sekali proses sangrai dan sehari itu bisa mengolah 150 kilo kopi” ucap Tuti, menantu dari pemilik usaha Yush Orista Coffe.

Jenis kopi yang digunakan hanya satu jenis yaitu robusta, menyesuaikan dengan jenis kopi yang ditanam oleh petani lokal di desa Dapdap Putih. Menurut Tuti, kopi robusta dipilih karena mudah didapat dan sudah menjadi jenis kopi yang dikonsumsi masyarakat setempat.

”Untuk jenis kopi yang digunakan karena memang mengambil dari petani di sekitar sini jadi jenisnya sama, jenis robusta. Di sini hanya memproduksi jenis kopi itu karena itu yang ada, dalam pengolahannyapun kami tidak ada campurannya, hanya biji kopinya saja” jelas Tuti.

Menariknya, pengadaan bahan baku di Yush Orista Coffe tidak menggunakan sistem jual beli seperti pada umumnya, biji kopi diperoleh dari para petani lokal melalui sistem barter. Petani membawa biji kopi untuk diolah dan membayar jasa dengan menggunakan sebagian dari serbuk kopi yang dihasilkan.

Sistem ini dinilai sangat menguntungkan untuk petani dan pemilik usaha, karena petani tidak perlu mengolah biji kopi sendiri, sementara itu pemilik usaha mendapatkan keuntungan sebagian dari hasil pengolahan biji kopi tersebut.

“Biji kopi yang diproduksi itu jenis robusta, kopinya diambil dari petani lokal di sini. Kami tidak membeli biji kopinya, biasanya ada petani datang membawa kopi lalu dibarter dengan hasil gilingan kopi itu, kami dapat lebihan dari hasil mengolah biji kopi sampai menjadi serbuk dan petani yang membawa biji kopi dapat sebagian serbuknya. Karena biasanya masyarakat di sini merasa susah kalau harus mengolah biji kopi menjadi serbuk itu sendiri, jadi biasanya mereka beli jasa buat mengolahnya. Tapi biar sama sama untung dibuat sistem barter ini, jadi mereka membayar jasa pengolahan dengan sebagian serbuk kopi yang dihasilkan dari biji kopi yang mereka bawa” ungkap Tuti.

Proses produksi kopi dilakukan secara bertahap, pertama dimulai dengan pencucian biji kopi sebanyak dua sampai tiga kali bilasan, terutama jika biji kopi masih baru dari petani. Kemudian, biji kopi ditiriskan lalu disangrai, proses sangrai dilakukan menggunakan mesin selama dua hingga dua setengah jam.

Setelah disangrai, biji kopi didinginkan terlebih dahulu sebelum kemudian digiling menggunakan mesin penggiling. Selesai proses penggilingan, serbuk kopi lalu dikemas dalam berbagai macam ukuran kemasan, mulai dari 100 gram sampai 500 gram. Produk kopi ini dijual dengan kisaran harga Rp15.000 hingga Rp65.000.

“Kalau porsesnya itu diawal kita cuci dulu biji-biji kopinya, biasanya kalau biji kopinya baru dari petani proses mencucinya bisa 2 sampai 3 kali bilas. Setelah dibilas dan ditiriskan lalu disangrai menggunakan alat, proses sangrai biasanya dua sampai dua setengah jam dalam sekali sangrai. Setelah di sangrai, didinginkan terlebih dulu baru digiling menggunakan mesin kemudian packing sesuai ukurannya, kita ada kemasan 100 sampai 500 gram dengan kisaran harga 15 ribu sampai 65 ribu” ungkapnya.

Keunggulan dan produk kopi yang diproduksi oleh Yush Orista Coffe terletak pada komposisi bahan yang digunakan. Pemilik menegaskan bahwa kopi yang diproduksi merupakan kopi murni tanpa campuran bahan lain.

Hal ini menjadi pembeda dengan produk kopi lain yang biasanya mencampurkan bahan seperti beras dan jagung untuk menekan biaya produksi.

“Kopi yang kami produksi itu murni, tidak ada campuran sama sekali. benar-benar hanya biji kopi robusta yang digiling. Biasanya memang ada usaha kopi yang mencampur kopinya dengan beras atau jagung, tapi di sini murni hanya biji kopi robusta saja,” sebutnya.

Meski telah berdiri cukup lama, usaha kopi rumahan ini tetap menghadapi sejumlah kendala, terutama pada keterbatasan tenaga kerja dan produksi. Seluruh proses produksi dilakukan oleh kelurga tanpa mengambil tenaga kerja dari luar, sehingga jumlah produksi masih terbatas.

Selain itu juga karena kendala biaya pengiriman yang cukup mahal, berdampak pada pemasaran yang belum mampu menjangkau wilayah yang lebih luas, membuat pemasaran hanya difokuskan untuk sekitar desa dan wilayah terdekat saja.

“Kendalanya kalau dari usaha ini karena hanya mengandalkan tenaga dari orang rumah jadi produksinya tidak bisa lebih besar lagi hanya segini-segini saja. Selain modal bayar kariawan, takutnya juga kalau tidak diproduksi sendiri kualitas kopinya jadi kurang. Ini juga ngaruh ke pemasaran karena produksinya yang masih terbatas jadi belum bisa jual banyak, belum lagi masalah ongkos pengiriman. Biasanya kita jual hanya di daerah sini saja, kalau ada orang luar desa yang mau beli mereka yang harus datang ke sini.”

Kedepannya, pemilik Yush Orista Coffe berharap usaha kopi rumahan ini dapat berkembang dari segi produksi dan pemasaran. Meski belum mampu memanfaatkan media sosial secara maksimal, rencana pengembangan usaha tetap ada dan diharapkan dapat diwujudkan sesuai dengan kemampuan pemilik.

“Untuk media sosial rencananya ada, cuma karena kekurangan pekerja dan produksinya belum bisa banyak, takutnya nanti kewalahan. Kami juga ada rencana mau lebih memperbesar produksi sama pemasaran, tapi untuk saat ini hanya segini saja dulu, semoga kedepannya bisa kita usahakan untuk lebih berkembang” harap Tuti. (dik)

 

 

 

 

 

 

Editor : I Putu Mardika
#kopi #busungbiu #desa #Rumahan #buleleng