BALIEXPRESS.ID – Memasuki puncak musim hujan, banjir kembali menjadi persoalan tahunan di Bali.
Hampir seluruh kabupaten dan kota dilaporkan mengalami genangan dalam beberapa hari terakhir.
Kondisi ini tidak semata-mata dipicu tingginya curah hujan, melainkan juga dipengaruhi oleh sistem drainase yang belum optimal, terutama di wilayah Bali Selatan.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali, I Gede Teja, menyebut daya dukung lingkungan di sejumlah kawasan belum mampu mengalirkan air hujan dengan baik.
Baca Juga: 1.700 Koperasi di Bali Masuk Kategori Tidak Aktif
Persoalan tata ruang dan sistem drainase menjadi faktor utama yang memperparah kondisi banjir.
“Daya dukung lingkungan yang belum siap sesuai dengan kemampuan mengalirkan air yang baik, tata ruangnya sistem drainasenya juga masalah yang tampak di Sanur Bumi Ayu itu langganan juga sebenarnya,” kata Teja, Selasa (16/12).
Ia menegaskan, infrastruktur saluran air harus menjadi perhatian serius agar mampu menampung dan mengalirkan air secara maksimal.
Kondisi drainase di lapangan dinilai masih jauh dari ideal karena banyak ditemukan endapan lumpur, sampah, hingga kabel yang menghambat aliran air.
Baca Juga: Dikenal dengan Air Jernih dan Bersih, Air Sanih jadi Destinasi Favorit saat Libur Tahun Baru 2026
“Ya perlu ditingkatkan baik drainase lama atau baru. Karena dilihat juga drainase, selain lumpur dan sampah macam-macam. Memang harus dijaga oleh yang mengelola infrastruktur,” terangnya.
BPBD Bali juga mengingatkan potensi cuaca ekstrem akibat munculnya bibit siklon 93S yang terjadi sejak 11 hingga 18 Desember.
Fenomena tersebut menyebabkan peningkatan curah hujan disertai angin kencang di sejumlah wilayah di Bali.
“Lihat kemarin diantaranya 11-18 Desember sudah tiga kali serangan. Yang pertama kejadian luapan atau banjir di Karangasem, besoknya kejadian di Denpasar dan Badung. Kemarin Gianyar dan Jembrana dan ancaman ini masih berpotensi beberapa hari kedepan,” ungkapnya.
Akibat hujan lebat tersebut, sejumlah kejadian banjir dan pohon tumbang terjadi di berbagai daerah.
Bahkan, sebanyak 150 warga negara asing (WNA) terpaksa dievakuasi dari lokasi terdampak banjir di Badung dan Denpasar.
Banjir tercatat melanda Karangasem, Denpasar, Badung, Jembrana, hingga Gianyar.
Di Karangasem, dampaknya cukup signifikan dengan sekitar 50 kepala keluarga terdampak serta dua sekolah mengalami kerusakan akibat luapan sungai.
“Kemudian di Denpasar sendiri 20 titik, di Badung 14 titik jadi cukup banyak walaupun tidak sebanyak pada bulan September dan itu titiknya berbeda karena karakter hujannya berbeda,” katanya.
Teja menjelaskan, karakter hujan pada Desember ini berbeda dengan kejadian banjir pada September lalu.
Jika sebelumnya hujan lebih banyak terjadi di daerah aliran sungai, kali ini curah hujan lebih terkonsentrasi ke wilayah Bali Selatan, sehingga banyak kawasan permukiman yang tergenang.
Baca Juga: Tunggu Pemerintah Pusat, UMK Badung 2026 Belum Ditetapkan
“Nah kemarin berbeda karakternya banyak di perumahan yang tergenang karena hujannya agak ke selatan. Termasuk wisatawan asing juga dievakuasi ke tempat aman,” ucapnya.
Sejumlah kawasan yang dinilai rawan banjir akibat luapan sungai di antaranya bantaran Tukad Badung, Padang Sambian, Sanur, Seminyak, hingga Kuta.
BPBD Bali pun mengimbau masyarakat agar terus memantau informasi cuaca dari BMKG serta menyiapkan langkah-langkah darurat untuk mengantisipasi potensi bencana.
“Kalau sudah tahu informasi maka siapkan langkah-langkah darurat bila diperlukan,” tutupnya.(***)
Editor : Rika Riyanti