SINGARAJA, BALI EXPRESS - Awalnya hanya duduk di antara penonton, menemani sang bapak menikmati alunan gong joged. Tidak ada niat untuk tampil, apalagi mengibing. Namun malam itu, sesuatu yang tak direncanakan justru mengubah arah hidup Kadek Suarjaya. Ia dijawat untuk ngibing. Gerak tubuhnya tiba-tiba mengikuti irama, spontan, mengalir begitu saja. Begitu mengepakkan tangan mengikuti gong joged, Kadek Suarjaya mengundang tawa penonton.
Tingkahnya dalam mengibing tidak biasa. Ia menari dengan kocak. Menggerakkan tangan, kepala, kaki hingga pinggulnya. Bahkan ia tak segan menjatuhkan diri ke lantai seolah membangun sebuah cerita yang dibawakan bersama si penari joged.
“Saat itu saya hanya menonton dengan bapak saya, Wayan Sengen. Tidak mengibing, tidak pernah sebelumnya,” kenang Kadek Suarjaya, pemuda asal Desa Nagasepaha. Namun malam itu menjadi yang pertama, sekaligus awal dari banyak panggung yang saat ini ia tapaki.
Gerakan spontan itu rupanya menarik perhatian. Ada yang merekam, mengunggahnya ke media sosial, dan tak lama kemudian video tersebut viral. Dari situlah nama Kadek Suarjaya alias Dek Dolar mulai dikenal. Bukan karena sensasi, melainkan karena perbedaan. Di tengah citra joged yang belakangan kerap dilekatkan dengan kesan vulgar, Kadek Suarjaya hadir dengan gerak yang wajar, sopan, dan menghibur tanpa melanggar batas.
Sejak video itu menyebar, undangan demi undangan datang. Setiap ada joged, ia diminta mengibing. Dan setiap kali itu pula, ia konsisten menari dengan gaya yang sama—gaya yang pertama kali muncul secara spontan. Ia tidak tergoda mengikuti arus joged “nakal” yang kerap mempertontonkan sentuhan berlebihan dan gestur vulgar.
“Saya tidak bisa seperti itu. Saya ingin menunjukkan kalau ngibing itu tidak harus seperti itu,” ujarnya lugas.
Bagi Kadek Suarjaya, joged adalah tari hiburan rakyat. Fungsinya menghibur, bukan menimbulkan rasa tabu. Ia merasa perlu ikut menjaga citra joged agar tidak terus-menerus dipandang sebagai tontonan porno.
Upaya itu tidak sia-sia. Kadek Suarjaya mulai diundang ke berbagai kegiatan seni. Dari panggung joged di desa-desa, hingga acara kesenian di kabupaten lain seperti Karangasem. Bahkan, ia sempat diundang oleh Ny. Putri Koster, istri Gubernur Bali, dalam sebuah kegiatan seni budaya. Sebuah pengakuan tak tertulis bahwa apa yang ia lakukan bukan sekadar hiburan, tetapi juga bagian dari gerakan kultural.
Menariknya, meski dikenal sebagai pengibing joged, Kadek Suarjaya bukan orang baru di dunia tari. Sejak lama ia sudah menari topeng—tari klasik Bali yang menuntut kedalaman rasa, kontrol tubuh, dan pemahaman karakter. Tak heran jika saat mengibing, tubuhnya terlihat padu dengan irama, ekspresinya hidup, dan geraknya terukur.
“Basic menari sudah ada. Jadi soal ngibing tidak sulit bagi saya,” katanya. Pengalaman menari topeng itulah yang menjadi fondasi kuat dalam setiap gerak jogednya—tetap luwes, namun tidak liar.
Dalam beberapa kesempatan, ia bahkan berani menyampaikan pendapatnya kepada sekaa gong. Jika ia merasa gending terlalu monoton atau kurang menghibur, ia bisa mengajukan permintaan. Kadang jaipongan, kadang irama yang lebih jenaka. Bukan untuk merusak pakem, tetapi agar suasana lebih hidup dan penonton terhibur.
Baca Juga: Kronologi Warga Buleleng Tersengat Listrik Saat Pasang Rangka Baja Ringan
Respons keluarga pun awalnya kaget. Orangtuanya tak menyangka Kadek Suarjaya bisa mengibing. Namun keterkejutan itu segera berubah menjadi kebanggaan. Apalagi sang bapak, Wayan Sengen, juga merupakan penari topeng. Darah seni memang mengalir kuat di keluarga ini.
“Respon orangtua positif,” ucap Kadek singkat.
Pernah beberapa kali, Kadek Suarjaya heboh sendiri saat mengibing. Ia menguasai panggung, menari sesuai irama gong diiringi tawa dan tepuk tangan penonton. Ketika sadar dirinya heboh sendiri, ia mendapati dirinya menari seorang diri di tengah panggung. Sementara si penari joged hanya bisa diam sambil tertawa.
“Jogednya ketawa aja. Saya sampai bingung, saya ngibing ke siapa karena jogednya tidak menari. Tapi sibuk ngetawain saya menari,” kata dia sambil tertawa.
Saat ini Kadek Suarjaya berstatus sebagai mahasiswa di Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan, Singaraja. Ia tercatat sebagai mahasiswa semester 6 di Prodi Seni Budaya. ***
Editor : Dian Suryantini