Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

LSD di Buleleng Masih Aman, Distan Lakukan Pembatasan Distribusi Sapi

Dian Suryantini • Kamis, 29 Januari 2026 | 09:21 WIB

Upaya sterilisasi kandang sapi dari penyakit kulit sapi berbenjol atau LSD
Upaya sterilisasi kandang sapi dari penyakit kulit sapi berbenjol atau LSD

 

SINGARAJABALI EXPRESS — Pemerintah Kabupaten Buleleng memastikan kasus Lumpy Skin Disease (LSD) atau penyakit kulit berbenjol pada ternak sapi di wilayah Kecamatan Gerokgak masih dalam kondisi terkendali. Hingga akhir Januari 2026, tidak ditemukan penyebaran lanjutan, sementara sapi yang sempat terpapar dilaporkan telah kembali sehat.

 

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng, Gede Melandrat, menyampaikan bahwa hasil pemeriksaan laboratorium yang dilakukan Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar terhadap 25 ekor sapi menunjukkan hanya tiga ekor yang terkonfirmasi positif LSD. Dari jumlah tersebut, dua ekor berada di Desa Sumberklampok dan satu ekor lainnya di Desa Pejarakan.

 

“Dari 25 ekor sapi yang diperiksa, hanya tiga yang positif LSD dan sekarang kondisinya sudah sehat. Sampai saat ini tidak ada perkembangan atau penambahan kasus,” ujar Melandrat, Kamis (29/1)

 

Ia menjelaskan, sejak dua minggu terakhir jajaran Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng secara rutin turun ke lapangan untuk melakukan penanganan intensif. Langkah yang dilakukan meliputi edukasi kepada peternak terkait gejala dan pencegahan LSD, pemberian pengobatan pada sapi yang terindikasi sakit, serta pemantauan kesehatan ternak secara berkala.

 

Upaya tersebut dinilai efektif dalam menghentikan penularan penyakit. Selain itu, kesadaran peternak untuk segera melapor ketika menemukan gejala tidak normal pada ternaknya juga menjadi faktor penting dalam pengendalian kasus LSD di wilayah tersebut.

 Baca Juga: Dari Penonton Menjadi Ikon, Kadek Suarjaya Si Pengibing Kocak dari Nagasepaha

Sebagai langkah pencegahan lanjutan, Pemerintah Kabupaten Buleleng melalui Dinas Pertanian bersama aparat desa setempat memberlakukan pembatasan sementara distribusi sapi di Kecamatan Gerokgak. Pembatasan ini mencakup larangan keluar-masuk sapi dari dan ke wilayah terdampak.

 

“Saat ini distribusi sapi kami batasi. Tidak boleh ada sapi masuk maupun keluar dulu, kurang lebih selama tiga bulan. Kebijakan ini kami lakukan bersama aparat desa untuk mencegah potensi penyebaran penyakit,” jelas Melandrat.

 

Meski situasi dinyatakan relatif aman, ia mengakui bahwa isu LSD sempat menimbulkan kekhawatiran di kalangan peternak. Dampaknya, harga jual sapi hidup di tingkat peternak mengalami tekanan. Namun demikian, Melandrat menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak berpengaruh terhadap harga maupun keamanan daging sapi yang beredar di pasaran.

 

“Yang terdampak itu harga jual sapi per ekor di tingkat peternak, bukan harga daging sapi. Daging tetap aman dikonsumsi,” tegasnya.

 

Selain itu, Melandrat mengimbau para peternak agar lebih berhati-hati dalam membeli ternak, khususnya sapi yang berasal dari luar daerah. Ia menyoroti maraknya penjualan ternak secara daring yang berpotensi membawa risiko jika kondisi kesehatan sapi tidak diperiksa secara langsung.

 

“Kami minta peternak tidak tergiur harga murah, apalagi membeli secara online tanpa melihat kondisi ternaknya. Pastikan sapi sehat dan bebas penyakit sebelum dibeli,” tutupnya. ***

Editor : Dian Suryantini
#sapi #LSD #gerokgak #dinas pertanian #buleleng