BALIEXPRESS.ID - Cara berbeda dilakukan Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Bali bersama PMI Kabupaten Jembrana dalam upaya melestarikan hutan.
Jika umumnya pelestarian hutan dilakukan dengan menanam bibit pohon, kali ini PMI Bali justru menyebarkan ribuan biji buah-buahan menggunakan ketapel di kawasan hutan Desa Batu Agung, Kabupaten Jembrana.
Ribuan biji buah tersebut sebelumnya dikumpulkan oleh PMI Bali dan PMI Kabupaten Jembrana, lalu dibagikan kepada ratusan peserta yang terdiri dari anggota PMI, BPBD, Dinas Kehutanan Provinsi Bali, warga setempat, hingga para aktivis pelestari hutan.
Tak hanya biji buah, para peserta juga dibekali ketapel yang digunakan sebagai alat untuk menyebarkan benih ke area hutan yang sulit dijangkau.
Metode ini dinilai lebih praktis dan efisien karena tidak perlu membawa bibit dalam jumlah besar maupun menggali tanah di dalam hutan.
Aksi penyebaran biji buah ini bukan tanpa tantangan. Ratusan peserta harus menempuh perjalanan lebih dari lima kilometer dengan medan naik-turun bukit terjal dari pinggiran hutan.
Hujan yang turun di tengah perjalanan membuat jalur semakin licin dan berat untuk dilalui.
Petugas PMI Bali, Ni Putu Yuni Andriyani, menjelaskan metode yang digunakan dalam kegiatan ini.
“Yang kita lakukan saat ini adalah penembakan benih dengan metode ketapel. Cara ini lebih mudah dan bisa menjangkau area hutan yang sulit diakses,” ujarnya.
Sementara itu, warga Desa Batu Agung, Ida Bagus Komang Anom, menyampaikan apresiasi atas kegiatan tersebut.
“Terima kasih saya ucapkan kepada teman-teman PMI yang sudah ikut melakukan eco race ini. Saya berharap biji buah-buahan yang kita sebar dapat tumbuh dan memberi manfaat bagi hutan,” katanya.
Aksi penyebaran ribuan biji buah dengan ketapel ini diharapkan mampu menjaga kelestarian Hutan Jembrana sebagai sumber mata air, habitat satwa dan tumbuhan, serta penyedia oksigen alami. Selain itu, pohon buah yang tumbuh nantinya juga akan menjadi sumber pakan bagi satwa liar.
PMI Bali berharap kegiatan ini turut membantu mencegah bencana alam seperti banjir dan tanah longsor di Kabupaten Jembrana melalui penguatan ekosistem hutan yang berkelanjutan. (*)
Editor : I Made Mertawan