BALIEXPRESS.ID - Dinas Lingkungan Hidup dan Kebrsihan (DLHK) Kabupaten Badung kini terus berupaya membersihkan sampah kiriman yang menepi di sejumlah pantai.
Dari awal munculnya sampah pada November 2025 hingga saat ini telah ada 3.000 ton.
Volume samoah kiriman ini dikumpulkan dari Pantai Kuta, Legian, Kedonganan, dan Jimbaran.
Kepala Bidang Pengelolaan Kebersihan dan Limbah B3 DLHK Kabupaten Badung, Anak Agung Gede Agung Dalem mengatakan, sampah kiriman merupakan fenomena tahunan yang terjadi pada periode September hingga Maret.
Hal ini dipengaruhi arus laut dari wilayah barat Indonesia, seperti Jawa dan Sumatera, yang membawa sampah terdampar di pesisir Bali.
“Setiap tahun rata-rata kita menerima sampah laut antara 4.000 sampai 7.000 ton. Tahun 2021 menjadi yang tertinggi, mencapai 7.000 ton. Saat ini saja sudah sekitar 3.000 ton yang kita tangani, dan jumlah itu masih berpotensi bertambah sampai Maret,” ujar Agung Dalem, Rabu (4/2).
Pihaknya menyebutkan, dalam penanganan sampah kiriman DLHK Badung mengerahkan 12 unit alat berat di pantai-pantai strategis.
Hal ini guna mempercepat proses pengumpulan dan pengangkutan sampah.
Selain itu, sekitar 300–350 tenaga penyapuan dikerahkan secara rutin, dan dapat ditambah hingga 800 personel apabila kondisi semakin berat.
“Begitu sampah terdampar, langsung kita kumpulkan dan angkut keluar dari pantai. Fokus kami agar timbunan tidak menumpuk dan mengganggu aktivitas pariwisata,” ungkapnya.
Terkait komposisi sampah kiriman, Agung dalem menerangkan, saat ini didominasi material organik berupa kayu sekitar 70 persen, sedangkan 30 persen lainnya merupakan sampah plastik.
Sampah plastik bernilai dipilah dan disalurkan ke mitra pengolah, sementara plastik campuran dibawa ke TPA.
Kayu gelondongan dipotong dan digerus menggunakan mesin wood chipper untuk dijadikan serbuk yang dapat dimanfaatkan sebagai kompos atau urugan.
DLHK Badung juga menggandeng berbagai pihak dalam penanganan sampah pantai, mulai dari NGO lingkungan, pelaku usaha pariwisata, hingga TNI dan Polri melalui kerja sama resmi dengan Pemkab Badung.
“Kami berharap kolaborasi ini terus diperkuat, sekaligus mendorong percepatan pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi (PSEL). Dengan begitu, peningkatan volume sampah laut bisa ditangani lebih optimal dan berkelanjutan,” jelasnya. (*)
Editor : Putu Resa Kertawedangga