Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

21 Ribu ODHA di Bali, Sosialisasi Pencegahan HIV/AIDS Perlu Diperluas

Rika Riyanti • Senin, 23 Februari 2026 | 18:34 WIB

SOSIALISASI: Putri Koster saat menerima audiensi Ketua Yayasan Spirit Paramacita, Putu Ayu Utami Dewi, di Gedung Jayasabha, Sabtu (21/2)
SOSIALISASI: Putri Koster saat menerima audiensi Ketua Yayasan Spirit Paramacita, Putu Ayu Utami Dewi, di Gedung Jayasabha, Sabtu (21/2)

 

BALIEXPRESS.ID – Upaya menekan laju penyebaran HIV/AIDS di Bali dinilai masih membutuhkan pendekatan yang lebih intensif dan menyeluruh.

Ketua TP PKK Provinsi Bali, Putri Suastini Koster, menegaskan perlunya sosialisasi yang lebih masif melalui berbagai kanal informasi agar masyarakat semakin memahami risiko dan cara pencegahan penularan.

Hal tersebut disampaikan Putri Koster saat menerima audiensi Ketua Yayasan Spirit Paramacita, Putu Ayu Utami Dewi, di Gedung Jayasabha, Sabtu (21/2).

Dalam pertemuan itu, Ayu Utami memaparkan peran yayasan yang dipimpinnya dalam mendampingi pengidap HIV/AIDS di Bali.

Baca Juga: Uji Coba Perubahan Hari Kerja Poliklinik RSD Mangusada Disetujui Komisi IV DPRD Badung

“Tujuan kami bertemu Ibu adalah untuk menginformasikan keberadaan Yayasan Spirit Paramacita. Program kami adalah memberikan pendampingan bagi pengidap HIV/AIDS,” ujarnya. 

Ia juga mengungkapkan tantangan yang dihadapi, terutama stigma sosial terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

“Yayasan ini dibentuk pada tahun 1999 dan saat itu stigma negatif masyarakat terhadap ODHA masih sangat tinggi, bahkan juga terjadi pada tenaga kesehatan,” ungkapnya.

Namun, seiring meningkatnya pemahaman publik, stigma tersebut perlahan berkurang.

Baca Juga: Cucu Temukan Kakek 101 Tahun Meninggal di Dapur Rumah

Meski demikian, permasalahan HIV/AIDS masih menjadi isu serius.

Data menunjukkan jumlah kasus cenderung bertambah.

“Saat ini di Bali terdapat 21 ribu ODHA, 12 ribu di antaranya kami tangani,” imbuhnya.

Ayu Utami juga menyoroti fakta bahwa penularan HIV/AIDS kini menyasar kelompok yang sebelumnya dianggap minim risiko.

“Yang menjadi perhatian kita, ibu rumah tangga banyak yang terpapar, termasuk ASN. Penyebabnya karena pasangan mereka tidak setia,” ungkapnya. 

Ia menambahkan, dampak psikologis yang dialami ODHA juga memunculkan persoalan baru, seperti dorongan bunuh diri hingga keinginan membalas dengan menularkan penyakit.

Baca Juga: Gangguan Sistem Transmisi Picu Pemadaman di Sejumlah Wilayah Bali, PLN Pastikan Pasokan Listrik Kembali Normal

“Pemicunya karena mereka yang terkena merasa sebagai orang baik-baik. Ini yang menjadi perhatian kami. Kita tidak bisa tinggal diam terhadap isu HIV/AIDS,” kata Ayu Utami. Ia pun berharap adanya dukungan kuat dari pemerintah dan TP PKK. “Yang dibutuhkan bukan dukungan dana, karena kami sudah mendapat dukungan dari The Global Fund,” sebutnya.

Menanggapi paparan tersebut, Putri Koster menegaskan komitmennya terhadap upaya pencegahan HIV/AIDS.

“Ini harus menjadi perhatian kita bersama,” tegasnya. 

Ia juga menilai isu HIV/AIDS sering kali luput dari perhatian publik jika tidak terus disuarakan.

Baca Juga: Pemerintah Tegaskan MBG 3B Prioritaskan Ibu Hamil, Menyusui, dan Balita Non-PAUD

“Isu ini akan muncul jika dibahas, sebaliknya akan tenggelam atau dilupakan saat tidak dibahas,” tambahnya.

Ia sependapat bahwa stigma terhadap ODHA semakin menurun seiring meningkatnya literasi masyarakat.

Namun, fokus utama ke depan adalah memperkuat pencegahan penularan.

“Harus ada terobosan. Sosialisasi harus lebih masif melalui berbagai media. Ajarkan masyarakat untuk bertanggung jawab, menjaga diri, dan menjauhi perilaku berisiko. Jika ada keluarga yang terpapar, segera ambil tindakan,” pungkasnya.(***)

Editor : Rika Riyanti
#bali #sosialisasi #odha #hiv