BALIEXPRESS. ID- Pelaksanaan rangkaian Hari Suci Nyepi Tahun Caka 1948 di Desa Sayan, Kecamatan Ubud berlangsung aman dan lancar. Penjabat (Pj) Perbekel Desa Sayan, Jro Mangku Ketut Gde Kesumawijaya, menyampaikan apresiasi kepada seluruh krama desa, khususnya generasi muda yang telah berperan aktif menjaga ketertiban saat pengarakan ogoh-ogoh hingga pelaksanaan Nyepi.
Menurutnya, suasana kondusif yang tercipta tidak lepas dari sinergi antara prajuru desa adat, pecalang, serta Sekaa Teruna Teruni (STT) yang mampu menghadirkan kreativitas tanpa mengabaikan nilai-nilai sakral dan etika budaya Bali. Ia menegaskan bahwa pengrupukan bukan sekadar tradisi, tetapi juga momentum refleksi diri menjelang Nyepi.
Baca Juga: Rincian Harga Soklin Liquid Termurah Berdasarkan Varian Aroma Dan Ukuran Kemasan
Salah satu yang menjadi perhatian adalah karya ogoh-ogoh dari STT Werdiyasa, Banjar Penestanan Kaja, yang mengangkat tema “Sang Kala Asu Dasong Penjaga Alam Swarga Loka dan Neraka.” Karya tersebut tidak hanya menonjolkan aspek artistik, tetapi juga sarat makna filosofis yang mendalam terkait kehidupan dan hukum karma.
"Dalam tradisi Bali, Sang Kala Asu Dasong yang juga dikenal sebagai Asu Gaplong merupakan sosok mitologis yang termasuk dalam golongan Bhuta Kala. Ia digambarkan berwujud anjing dan dipercaya bertugas sebagai penjaga serta pengawas roh-roh manusia (atma) setelah kematian, khususnya di wilayah yang berkaitan dengan Naraka Loka atau alam penantian karma, " jelasnya, Senin (24/3).
Secara simbolis, wujud “asu” atau anjing merepresentasikan kesetiaan sekaligus ketegasan. Sosok ini menjadi metafora penjaga yang setia menjalankan tugasnya, namun juga menghadirkan rasa takut bagi roh-roh yang memiliki karma buruk. Hal ini menjadi pengingat bahwa setiap perbuatan manusia akan membawa konsekuensi di kehidupan selanjutnya.
Dalam konsep Karma Phala, Sang Kala Asu Dasong tidak berperan sebagai penentu nasib akhir roh, melainkan sebagai pengawas yang memastikan roh-roh menjalani proses sesuai hukum karmanya. Ia bekerja di bawah perintah Bhatara Sang Hyang Jogor Manik, yang dikenal sebagai pencatat sekaligus pengadil karma di alam niskala.
"Lebih jauh, makna esoterik dari figur ini menegaskan bahwa kehidupan manusia tidak terlepas dari pengawasan hukum alam semesta. Setiap tindakan akan dipertanggungjawabkan, dan keseimbangan kosmis dijaga oleh kekuatan-kekuatan niskala yang bekerja sesuai perannya, " tegas pria asli Sayan ini.
Jro Mangku Ketut Gde Kesumawijaya berharap, melalui kreativitas ogoh-ogoh seperti ini, generasi muda tidak hanya berkarya secara estetika, tetapi juga mampu menggali nilai-nilai tattwa (filsafat) yang menjadi dasar kehidupan masyarakat Bali. Dengan demikian, tradisi Nyepi tetap lestari sekaligus relevan sebagai tuntunan moral di tengah perkembangan zaman.*