Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Perspektif Pikiran, Made Danu Tirta Ajak Bijak Memahami Perbedaan

Putu Agus Adegrantika • Kamis, 7 Mei 2026 | 13:12 WIB
PENYULUH : Penyuluh Agama Hindu Kemenag Tabanan, I Made Danu Tirta.
PENYULUH : Penyuluh Agama Hindu Kemenag Tabanan, I Made Danu Tirta.

BALIEXPRESS.ID - Perbedaan cara pandang dalam kehidupan dinilai sebagai sesuatu yang wajar dan menjadi bagian dari dinamika manusia. Hal tersebut disampaikan Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tabanan, I Made Danu Tirta, melalui refleksi spiritual bertajuk Perspektif Pikiran yang mengulas ajaran dalam Kitab Sarasamuccaya Sloka 91.

Menurutnya, kemampuan seseorang dalam melihat suatu persoalan dari berbagai sudut pandang merupakan tanda bahwa manusia memiliki pikiran yang hidup dan dinamis. Selama manusia mampu berpikir, maka selama itu pula akan lahir beragam perspektif dalam memandang suatu objek maupun peristiwa kehidupan.

Ia menjelaskan, dalam ajaran Hindu pikiran memiliki sifat yang terus bergerak dan berkembang. Dinamika itulah yang melahirkan kreativitas, penafsiran, hingga pandangan berbeda terhadap sesuatu yang sama. Bahkan, kreativitas pikiran juga dapat muncul pada kondisi yang tidak sehat, meskipun terkadang menghasilkan pemikiran liar dan bertolak belakang dengan nilai-nilai kehidupan.

“Pikiran membawa perbedaan rasa, arti, dan makna terhadap objek yang sama. Karena itu, setiap orang bisa memiliki pandangan berbeda walaupun melihat hal yang serupa,” ujarnya, Kamis (7/5).

Dalam ulasannya, Danu Tirta mengutip Kitab Sarasamuccaya Sloka 91 yang menjelaskan bahwa satu objek dapat dimaknai berbeda oleh setiap orang. Sloka tersebut menggambarkan bagaimana seorang bayi dan seorang ayah memiliki rasa cinta berbeda terhadap payudara seorang ibu.

Baca Juga: Kapolda Bali Resmikan Gedung “Bhara Daksa”, Polres Gianyar Siap Tingkatkan Pelayanan Presisi

Ia menerangkan, seorang bayi memandang payudara ibu sebagai sumber kasih sayang, rasa aman, perlindungan, dan pemenuhan kebutuhan hidup. Sementara seorang ayah memandangnya dengan cinta yang bercampur rasa kerinduan, gairah, dan kebutuhan batin.

“Analogi ini menunjukkan bahwa pikiran manusia membentuk ruang dan reaksi yang berbeda terhadap objek di depannya, tergantung status hubungan, tanggung jawab, dan ikatan emosional yang dimiliki,” jelasnya.

Perbedaan perspektif tersebut, lanjutnya, juga dipengaruhi oleh konsep Tri Guna, khususnya sifat rajas yang berkaitan dengan gairah dan dorongan rasa dalam diri manusia. Gairah itulah yang memengaruhi bagaimana seseorang memberi makna terhadap sesuatu.

Ia mencontohkan, meskipun seseorang berada dalam kondisi fisik sehat dan tersedia makanan lezat di hadapannya, belum tentu ia memiliki keinginan untuk makan apabila gairah atau rasa dalam pikirannya tidak mendukung.

Selain dipengaruhi oleh rajas, perspektif pikiran juga sangat berkaitan dengan ahamkara atau ego. Ego disebut menjadi bagian yang dekat dengan sisi emosional manusia ketika menghadapi suatu objek atau persoalan.

Ketika seseorang menemukan sesuatu yang bertentangan dengan konsep berpikirnya, maka reaksi emosional seperti marah, benci, atau penolakan dapat muncul. Kondisi inilah yang sering memicu konflik di tengah kehidupan sosial masyarakat.

Namun demikian, Danu Tirta menegaskan bahwa pengendalian ego menjadi kunci penting agar seseorang mampu memberikan respons yang tepat terhadap suatu perbedaan pandangan.

“Pikiran yang bercampur ego tanpa kendali hanya akan melahirkan konflik dan pertentangan. Sebaliknya, jika ego dapat dikendalikan, maka lahir ketepatan sikap dalam menyikapi perbedaan,” katanya.

Secara psikologis, ia menilai perspektif seseorang juga dipengaruhi oleh kepribadian dan pengalaman hidup yang dimiliki masing-masing individu. Setiap orang mempunyai karakter dan rekam pengalaman berbeda yang membentuk cara berpikirnya.

Ia menjelaskan, orang dengan kepribadian terbuka tentu memiliki pola respons berbeda dengan pribadi tertutup. Begitu pula pengalaman hidup yang pernah dialami akan menjadi bahan evaluasi pikiran sebelum seseorang mengambil keputusan atau memberikan penilaian.

“Pengalaman adalah guru kehidupan. Pikiran akan mengevaluasi kembali objek yang pernah dialami sebelum memutuskan bagaimana harus bereaksi,” ungkapnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, perbedaan perspektif sering kali muncul saat masyarakat menghadapi persoalan bersama. Ada yang memberikan solusi, ada yang hanya mendeskripsikan masalah, bahkan ada pula yang justru memperumit keadaan.

Karena itu, menurutnya dialog dan bertukar pikiran menjadi jalan penting untuk menemukan titik temu. Melalui komunikasi yang baik, perbedaan pandangan dapat diarahkan menjadi kekuatan untuk menghasilkan keputusan terbaik.

Baca Juga: Siap Siaga Cegah Karhutla, Wamen Ossy Imbau Pemegang HGU Lakukan Tindakan Pencegahan
Ia mengajak masyarakat agar tidak memandang perbedaan perspektif sebagai bentuk pertentangan. Sebaliknya, perbedaan harus dimaknai sebagai ruang pembelajaran untuk memperkaya pemikiran dan memperluas sudut pandang.

“Multi perspektif bukan berarti harus saling bertentangan, tetapi menjadi jalan menuju simpulan yang lebih indah dan bijaksana,” tegasnya.

Melalui refleksi tersebut, Penyuluh Agama Hindu Kemenag Tabanan itu berharap masyarakat semakin mampu mengendalikan pikiran, ego, dan emosi dalam kehidupan sosial maupun spiritual.

Di tengah derasnya arus informasi dan perbedaan pandangan di masyarakat saat ini, ia menilai kemampuan memahami perspektif orang lain menjadi salah satu kunci menjaga keharmonisan dan kedamaian bersama.

“Mari merdeka memandang objek dengan berbagai perspektif pikiran sebagai ruang belajar untuk menemukan pemikiran terbaik dalam kehidupan,” pungkasnya. *

Editor : Putu Agus Adegrantika
#Dirjen Bimas Hindu #penyuluh agama hindu