BALIEXPRESS.ID - Food, Hotel & Tourism Bali 2026 yang berlangsung pada 28–30 April 2026 di Bali Nusa Dua Convention Center sukses menjadi ajang penguatan jejaring bisnis sektor hospitality, food and beverage (F&B), dan pariwisata, khususnya kawasan Indonesia Timur.
Pameran yang digelar oleh PT Pamerindo Indonesia tersebut mencatat lebih dari 700 agenda business matching selama tiga hari pelaksanaan.
Kegiatan ini mempertemukan pelaku usaha, profesional, hingga perusahaan dari berbagai sektor industri guna membuka peluang kolaborasi dan kerja sama jangka panjang.
Portofolio Director FHTB 2026, Meysia Stephanie, mengatakan antusiasme peserta menunjukkan tingginya kesadaran industri terhadap perkembangan tren global hospitality dan pariwisata.
“Keberhasilan FHTB 2026 menjadi bukti nyata bahwa industri di sekor hospitality ini terus bergerak dinamis. Ini sejalan dengan misi kami untuk membuka peluang bisnis yang lebih luas, dengan Bali sebagai latar lokasi pameran yang menjadi pusat pariwisata utama di Indonesia Timur,” ujarnya.
Pada penyelenggaraan tahun ini, lebih dari 200 perusahaan exhibitor dari 14 negara ikut ambil bagian.
Beberapa di antaranya yakni Nano Logistic, PT Rotaryana Prima, Haengnam Sejahtera Indonesia, PT Wonderful Indah Jaya, PT Senfienta Prima Tama, PT Xinyi Trading Group, CV Prima Indonesia (Squeeze Indonesia), PT Rajawali Perkasa Furniture (Bro Living), hingga Sarika Gourmet Coffee Co. PTE LTD.
Kegiatan tersebut dinilai turut mendukung penguatan ekonomi pariwisata Bali dan kawasan Indonesia Timur.
Meningkatnya kualitas industri hospitality serta kuliner berbasis organik di Bali disebut membuka peluang usaha baru di sektor pariwisata dan F&B.
Berdasarkan data Pemerintah Provinsi Bali, jumlah kunjungan wisatawan ke Bali meningkat dari 3,6 juta wisatawan pada 2024 menjadi 6,9 juta wisatawan pada 2025.
Kondisi ini turut mendorong pertumbuhan sektor akomodasi dan F&B yang berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Bali sebesar 5,82 persen pada 2025, tertinggi dalam tujuh tahun terakhir dan melampaui rata-rata nasional sebesar 5,11 persen.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, I Wayan Sumarajaya, mengapresiasi pelaksanaan FHTB 2026 yang dinilai strategis dalam memperkuat sektor kuliner dan pariwisata Bali.
Baca Juga: Bupati Adi Arnawa Ikuti Rakor Pengendalian Inflasi dan Peluncuran Pendidikan Antikorupsi
“FHTB 2026 merupakan langkah strategis dalam meningkatkan kualitas kekayaan kuliner Indonesia, khususnya Bali, sekaligus mendorong pertumbuhan UMKM dan ekonomi pariwisata. Kami berharap ajang ini dapat semakin memperkuat peran kuliner sebagai daya tarik utama pariwisata Bali serta memberikan manfaat luas bagi masyarakat,” terangnya.
Selain menjadi ajang pameran bisnis, FHTB 2026 juga menghadirkan berbagai kompetisi, workshop, seminar, dan masterclass yang melibatkan pelaku industri hospitality dan kuliner.
Salah satunya melalui ajang The 13th Salon Culinaire Bali yang digelar oleh Bali Culinary Professional (BCP).
Kompetisi tersebut menjadi wadah pengembangan talenta chef muda melalui sejumlah kategori lomba memasak.
Baca Juga: Pemkab Gianyar Beberkan Pariwisata Berbasis Budaya ke Pemda Sumatera Utara
Pada kategori unggulan Dewata Gastronomic Challenge, tim dari Four Seasons Resort Bali at Jimbaran Bay keluar sebagai pemenang, disusul The Laguna, a Luxury Collection Resort & Spa, Nusa Dua sebagai 1st runner up dan Mandapa, a Ritz-Carlton Reserve di posisi 2nd runner up.
FHTB 2026 juga menghadirkan seminar Lamb Butchery Workshop & Tasting bersama Executive Chef Amuz Gourmet Restaurant, Stefu Santoso.
Dalam sesi tersebut, peserta mendapatkan pemahaman terkait karakteristik daging lamb Australia, teknik pemotongan, hingga metode memasak yang tepat.
Di sektor minuman, kompetisi Barista Female Creation oleh Last Brew menjadi salah satu agenda yang menarik perhatian pengunjung.
Kompetisi tersebut menampilkan kemampuan barista perempuan dalam teknik penyeduhan, inovasi minuman, hingga storytelling produk kopi.
Dari 12 finalis, tiga peserta terbaik berhasil ditetapkan yakni Putri Shelifa Efriana sebagai peraih Gold, Ni Luh Ayu Sukreni meraih Silver, dan Meilinda Dhinny memperoleh Bronze.
Baca Juga: 50% Bidang Tanah di Sulteng Sudah Bersertipikat, Wamen Ossy: Ini Menunjukkan Sulteng Terus Bertumbuh
Project Head Barista Female Creation, Yani Elok Pratiwi, menilai industri kopi masih membuka ruang besar bagi perempuan untuk berkembang dan menunjukkan potensinya.
Partisipasi Indonesia Sommelier Association (ISA) juga menjadi daya tarik tersendiri melalui program Wine Masterclass dan Blind Tasting Challenge.
Kegiatan tersebut mengangkat materi terkait wine region, varietal, hingga praktik tasting secara langsung.
Chairman ISA, Togu Sahat, menyebut konsep experiential activities memberikan pengalaman belajar yang lebih interaktif bagi peserta.
Baca Juga: Kasat Pamobvit Polres Gianyar Tekankan Disiplin dan Pelayanan Humanis
“Pengalaman belajar yang lebih engaging ini menjadi nilai tambah, karena peserta tidak hanya fokus pada teori tetapi juga praktik dan sensory experience yang relevan dengan kebutuhan industri saat ini,” ujarnya.
Ia berharap tingginya minat peserta dapat meningkatkan pemahaman terkait wine appreciation dan pairing, sekaligus mendukung kualitas layanan di industri F&B.
Tak hanya berfokus pada bisnis dan kompetisi, FHTB 2026 juga mengedepankan konsep keberlanjutan melalui berbagai inisiatif ramah lingkungan.
Penyelenggara menerapkan penggunaan material ramah lingkungan, energi terbarukan, hingga pengelolaan limbah makanan bekerja sama dengan Z Bio.
Selain itu, tersedia UCollect Station hasil kolaborasi dengan Noovoleum untuk mendaur ulang minyak jelantah menjadi bahan bakar ramah lingkungan.
Pengunjung juga didorong membawa tumbler pribadi melalui penyediaan titik isi ulang air minum oleh WATERHUB dalam kampanye #BringYourOwnTumbler.
Konsep keberlanjutan turut diperkuat melalui seminar bertema lingkungan seperti “Sustainable & Impactful Food Management” oleh Scholars of Sustenance (SOS) serta “Future-Proofing Hospitality Through Sustainable Practices” oleh Bali Restaurant & Café Association (BRCA).
SOS dalam seminarnya menyoroti pentingnya pengelolaan surplus makanan guna menekan limbah sekaligus membantu distribusi pangan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Sejak 2017, organisasi tersebut tercatat telah menyelamatkan lebih dari 21 juta kilogram makanan dan menjangkau lebih dari 1 juta penerima manfaat.
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Bali juga terus mendorong pengembangan pertanian organik sebagai bagian dari pariwisata berkelanjutan.
Baca Juga: Dorong Ekonomi Hijau dan Inklusif, BRI Perkuat Pertumbuhan Berkelanjutan
Saat ini sekitar 70 persen lahan sawah di Bali telah menerapkan sistem organik dan ditargetkan mencapai 100 persen pada 2028.
Sebagai penutup, FHTB 2026 menegaskan perannya sebagai wadah strategis dalam memperkuat industri hospitality, F&B, dan pariwisata nasional, khususnya di kawasan Indonesia Timur, melalui pengembangan inovasi, kolaborasi bisnis, serta praktik keberlanjutan.
“Sebagai bagian dari Informa Markets, kami berkomitmen untuk terus menghadirkan dampak positif secara lingkungan, sosial, dan ekonomi melalui penyelenggaraan pameran seperti FHTB,” simpul Meysia.
Setelah FHTB 2026, PT Pamerindo Indonesia dijadwalkan kembali menggelar Food and Hospitality Indonesia 2026 pada 22–25 Juli 2026 di JIEXPO Kemayoran.(***)
Editor : Rika Riyanti