Kasubag Tata Usaha Kemenag Gianyar, Ida Bagus Anom Arisudana, mengatakan kegiatan tersebut menjadi wadah untuk memperkuat koordinasi sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di lingkungan Kementerian Agama.
"Diklat ini melibatkan unsur PNS dan PPPK lintas agama, baik dari guru dan penyuluh agama. Tujuannya untuk mewujudkan koordinasi yang lebih baik serta membentuk ASN yang unggul, profesional, dan mampu menjawab tantangan zaman," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Balai Diklat Keagamaan Denpasar, Saprillah, menjelaskan bahwa kegiatan diikuti oleh 40 peserta dan dirancang untuk memperkuat kolaborasi antarsesama ASN di tengah perubahan yang semakin cepat akibat perkembangan teknologi.
Menurutnya, efisiensi yang lahir dari kemajuan teknologi tidak boleh dimaknai sebagai sesuatu yang melemahkan semangat kerja. Sebaliknya, teknologi harus menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan produktivitas ASN.
Baca Juga: Putu Putri Adelia Savitri, Sosok Guru Pemberi Catatan dan Gambar Lucu di Lembar Penilaian Siswa
"Di era sekarang, pola pembelajaran tidak hanya dilakukan secara klasikal, tetapi juga nonklasikal. Teknologi memungkinkan proses belajar menjadi lebih dekat, lebih mudah diakses, dan lebih efektif," jelasnya.
Dalam pemaparannya, Saprillah juga menyoroti pentingnya pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk mendukung kesejahteraan (wellbeing) ASN. Menurutnya, perkembangan AI merupakan bagian dari transformasi besar yang berakar dari Revolusi Industri 4.0 dan kini telah memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan manusia.
Ia menegaskan bahwa teknologi dapat membantu manusia bekerja lebih cepat, lebih rapi, dan lebih presisi. Namun, penggunaan teknologi juga memiliki tantangan, terutama terkait penyebaran informasi dan data palsu yang berpotensi menyesatkan.
"AI dapat menjadi mitra manusia dalam menghasilkan berbagai karya dan inovasi. Pekerjaan bisa dilakukan lebih cepat dan akurat. Tetapi kita juga harus waspada terhadap data-data palsu. Karena itu, pemanfaatan teknologi harus selalu dilandasi moralitas dan etika," tegasnya.
Lebih lanjut, Saprillah menekankan bahwa secanggih apa pun teknologi yang berkembang, peran manusia tetap tidak tergantikan. Menurutnya, nilai-nilai kemanusiaan, empati, dan moral menjadi faktor utama yang tidak dapat diambil alih oleh mesin.