BALIEXPRESS.ID - Kenaikan harga emas yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir tidak menyurutkan minat masyarakat untuk membeli perhiasan emas.
Di tengah tren harga yang terus menguat, emas justru semakin dilirik sebagai instrumen investasi jangka panjang sekaligus aset yang dapat digunakan sehari-hari.
General Manager The Palace Jeweler, Jelita Setifa, mengatakan masyarakat perlu memahami bahwa investasi emas, baik dalam bentuk logam mulia maupun perhiasan, tidak ditujukan untuk memperoleh keuntungan instan.
“Kalau ditanya beli hari ini perhiasan emas sama beli emas batangan hari ini untung enggak? Jawabannya pasti tidak. Karena kalau hari itu dijual harganya berbeda. Tapi kalau ditanya ada keuntungan enggak? Ada, tapi jangka panjang,” ujarnya saat ditemui di sela pembukaan kembali gerai The Palace Jeweler di Level 21 Bali, Sabtu (6/6).
Baca Juga: Belajar Langsung di Sanur, Mahasiswa Unud Dalami Konsep Mobilitas Rendah Emisi Bersama WRI Indonesia
Menurutnya, emas memiliki karakteristik investasi yang berbeda dengan instrumen lain. Selisih antara harga beli dan harga jual atau spread membuat keuntungan baru dapat dirasakan dalam jangka waktu lebih panjang.
Khusus untuk perhiasan emas, Jelita menyebut produk tersebut memiliki nilai tambah karena dapat digunakan sekaligus menjadi aset investasi.
“Jadi kalau untuk perhiasan enaknya adalah beauty investment. Karena walaupun kita beli, satu saat dijual kembali, dia tetap ada nilainya dan bisa dipakai. Berbeda dengan Logam Mulia, walaupun secara potongan dia lebih rendah, tapi tidak bisa dinikmati,” katanya.
Di Bali, tingginya minat masyarakat terhadap perhiasan emas dinilai masih membuka peluang pertumbuhan pasar yang besar.
Hal tersebut tercermin dari ekspansi yang terus dilakukan The Palace Jeweler di Pulau Dewata.
Saat ini perusahaan tersebut telah memiliki gerai di Level 21 Bali, Living World Bali, dan Trans Studio Mall Bali, serta berencana menambah satu gerai baru lagi tahun ini.
Jelita menilai budaya masyarakat Indonesia yang sudah akrab dengan perhiasan sejak lama menjadi salah satu faktor yang membuat permintaan tetap terjaga.
“Kalau melihat prospek perhiasan pastinya The Palace yang semakin melebar sayap dari mulai Sabang sampai Merauke, melihat bahwa setiap pencinta perhiasan Indonesia pada dasarnya masyarakat Indonesia sudah sangat mengenal dan sangat familiar dengan perhiasan,” ujarnya.
Ia menambahkan, ekspansi yang terus dilakukan menjadi indikator bahwa respons pasar di Bali tergolong positif.
“Jadi kalau melihat ada ekspansi berarti kita cukup diterima dengan baik di Bali ini,” katanya.
Menariknya, kenaikan harga emas juga belum memicu perubahan signifikan pada preferensi konsumen terhadap kadar emas yang dibeli.
Jelita mengatakan mayoritas pelanggan tetap memilih perhiasan emas 18 karat atau kadar 75 persen yang selama ini menjadi produk utama perusahaan.
The Palace sendiri menyediakan pilihan perhiasan emas 9 karat, 18 karat, hingga 24 karat.
Di tengah harga emas yang melonjak, perusahaan juga mencatat meningkatnya minat terhadap produk perhiasan pre-loved.
Produk tersebut merupakan perhiasan yang sebelumnya pernah dimiliki konsumen lain namun dijual kembali dengan kondisi yang masih sangat baik.
“Ternyata barang bukti tersebut banyak diminati oleh konsumen. Walaupun kita bilang, ‘Bu, ini barang pernah dimiliki oleh konsumen lain loh. Barang second, barang pre-loved.’ Tapi kondisinya enggak bisa dibedakan kalau dibandingkan dengan yang baru,” ujar Jelita.
Baca Juga: Pemkab Tabanan Alokasikan Dana Rp14,9 M untuk Penataan Taman Tugu Singasana
Sementara itu, untuk menyambut pembukaan kembali gerai di Level 21 Bali yang pertama kali hadir di Bali hampir satu dekade lalu, The Palace Jeweler menghadirkan sejumlah program promosi bagi pelanggan.
Re-opening tersebut juga menjadi bagian dari penyegaran gerai sekaligus upaya memperkuat layanan bagi konsumen di Bali.
Gerai The Palace di Level 21 Bali berlokasi di lantai dasar pusat perbelanjaan tersebut dan menjadi salah satu jaringan The Palace yang terus berkembang secara nasional.(***)
Editor : Rika Riyanti