Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pengurus Baru PHDI Buleleng Jalani Mejaya Jaya, Siap Melayani umat Hindu di Buleleng

I Putu Mardika • Rabu, 10 Juni 2026 | 19:11 WIB
Prosesi mejaya jaya PHDI Buleleng pada Selasa (2/6) lalu (I Putu Mardika/Bali Express)
Prosesi mejaya jaya PHDI Buleleng pada Selasa (2/6) lalu (I Putu Mardika/Bali Express)

BALIEXPRESS.ID – Pengurus Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Buleleng masa bhakti 2026–2031 resmi menjalani prosesi Mejaya Jaya di Pura Jagatnatha Buleleng, Selasa (2/6). Prosesi sakral ini menjadi penanda bahwa kepengurusan yang baru telah memperoleh pengesahan secara niskala dan siap menjalankan tugas pelayanan kepada umat Hindu di Kabupaten Buleleng.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Ketua PHDI Bali, I Nyoman Kenak, jajaran pengurus PHDI Buleleng, para pandita, serta tokoh-tokoh umat Hindu. Selain prosesi Mejaya Jaya, agenda juga diisi dengan paruman para pandita dan rapat pengurus harian yang membahas tata kerja organisasi untuk lima tahun ke depan.

Ketua PHDI Buleleng, Dr. Gde Made Metera, menjelaskan bahwa prosesi Mejaya Jaya memiliki makna penting sebagai bentuk permohonan restu dan wara nugraha kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar seluruh pengurus dapat menjalankan amanah organisasi dengan baik.

“Prosesi Mejaya Jaya ini pada intinya adalah mepiuning, mengesahkan, dan memohon wara nugraha. Kami memohon agar kepengurusan yang sudah terbentuk dan disahkan secara niskala dapat menjalankan tugas pelayanan kepada umat dengan lancar dan penuh tanggung jawab,” ujarnya.

Metera menjelaskan, kepengurusan PHDI Buleleng periode 2026–2031 sebelumnya telah terbentuk melalui Lokasabha IX yang berlangsung pada 26 Februari 2026. Setelah melalui proses organisasi tersebut, para pengurus wajib menjalani prosesi Mejaya Jaya sebagai bagian dari tahapan spiritual sebelum aktif bekerja.

Ke depan, PHDI Buleleng akan terus memprioritaskan program edukasi keagamaan kepada masyarakat, termasuk pelayanan sudi wadani, diksa pariksa, serta berbagai persoalan keumatan lainnya. Namun demikian, keterbatasan anggaran masih menjadi tantangan utama.

“Secara sumber daya manusia, kami sangat bersyukur karena anggota yang bergabung memiliki latar belakang pendidikan yang memadai. Tantangan terbesar saat ini adalah anggaran, sehingga kami belum bisa menjangkau seluruh umat Hindu hingga ke pelosok-pelosok secara maksimal,” kata Metera.

Meski demikian, pihaknya optimistis kepengurusan baru mampu memperkuat pelayanan dan pembinaan umat Hindu di Buleleng melalui sinergi seluruh pengurus serta dukungan masyarakat. “Kami berharap setiap bidang segera menyusun program kerja yang konkret agar pelayanan kepada umat semakin baik dan merata,” pungkasnya.

 

Editor : I Putu Mardika
#PHDI Buleleng #mejaya jaya #program kerja #hindu