BALIEXPRESS.ID - Pemerintah Desa Darmasaba, Kecamatan Abiansemal, kini terus mengoptimalkan kondisi wilayah agar ramah pariwisata.
Pembenahan dan penataan pun terus dilakukan sesuai dengan muatan lokal yang dimiliki.
Bahkan pada Sabtu (13/6), digelar Workshop Penguatan Kapasitas Prajuru Desa Adat dalam Tata Kelola Pariwisata Berbasis Nilai Lokal digelar di Kantor Desa Darmasaba.
Baca Juga: Jelang Galungan, Harga Sejumlah Bahan Upacara Melonjak
Kegiatan tersebut pun digelar sebagai upaya memperkuat kapasitas masyarakat dan perangkat desa dalam mengembangkan wilayah yang tetap berakar pada nilai-nilai lokal.
Begitu juga upaya untuk mengangkat isu pengelolaan sampah berbasis komunitas yang selama ini dijalankan melalui TPS3R Pudak Mesari Desa Darmasaba.
Perbekel Desa Darmasaba, Ida Bagus Surya Prabhawa Manuaba mengatakan, dalam workshop yang digelar tim PKM Universitas Warmadewa memberikan perspektif baru terkait pengelolaan pariwisata yang berbasis potensi lokal sekaligus pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Baca Juga: Semarak Serangkaian Hari Bhayangkara ke-80, Polres Gianyar Gelar Lomba Burung Berkicau
Dalam materi yang diberikan tidak hanya menyasar perangkat desa, tetapi juga berbagai elemen masyarakat agar memiliki pemahaman yang sama mengenai potensi yang dimiliki Desa Darmasaba.
"Kegiatan ini memberikan materi kepada perangkat desa, stakeholder lainnya, pemuda peduli lingkungan, TPS3R, serta ibu-ibu supaya mereka mendapatkan informasi terkait tata kelola pariwisata berbasis kekayaan lokal dan perspektif baru tentang pariwisata," ujar Surya Prabhawa.
Pihaknya menyebutkan, sejak awal pemerintah desa sejatinya tidak memiliki keinginan untuk mendeklarasikan wilayahnya sebagai desa wisata.
Baca Juga: BBPOM Uji 19 Sampel Kuliner PKB, Cek Rhodamin B hingga Formalin
Menurutnya, fokus utama yang dilakukan adalah menata kawasan agar nyaman, asri, dan ramah bagi aktivitas pariwisata.
"Kami tidak mau mendefinisikan diri sebagai desa wisata, karena yang kami ingin lakukan itu adalah kami menata kawasan yang ramah pariwisata. Jadi tidak perlu kita mengidentifikasi diri, kami harapkan pariwisata itu datang sesuai dengan apa yang ada di desa," ungkapmya.
Untuk itu, Surya Prabhawa menerangkan, sejumlah kawasan di Darmasaba telah mulai ditata, termasuk kawasan kuliner dan sektor pertanian yang kini semakin lestari.
Sejumlah area juga ditata agar nyaman dimanfaatkan masyarakat untuk aktivitas olahraga seperti jogging track.
Menurutnya, langkah tersebut dilakukan agar wisatawan yang datang ke Bali memiliki lebih banyak alternatif destinasi, sementara Darmasaba tetap menjalankan fungsinya sebagai desa penunjang pariwisata.
“Tanggal 22 sampai 25 Juni 2026, akan ada kunjungan dari Jepang terkait dengan penataan itu,” paparnya.
Lebih lanjut dirinya mengaku, pemerintah Desa Darmasaba telah menyusun master plan pembangunan desa untuk jangka waktu 30 tahun ke depan.
Salah satu program yang saat ini sedang diperjuangkan adalah pengadaan lahan seluas 2,5 hektare yang akan dimanfaatkan sebagai pusat pemerintahan sekaligus taman kreatif desa.
Keberadaan kawasan tersebut diharapkan dapat mengatasi keterbatasan fasilitas publik yang selama ini menjadi kendala ketika desa menerima kunjungan dalam jumlah besar.
Terlebih Desa Darmasaba belum memiliki ruang yang memadai untuk menggelar pertunjukan, tempat pertemuan, maupun berbagai aktivitas pariwisata secara rutin.
“Meski demikian, pemerintah desa tetap melanjutkan penataan berbagai kawasan lainnya agar lingkungan tetap terlihat hijau dan nyaman,” ucapnya. (*)
Editor : Putu Resa Kertawedangga