Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sasmita Surudayu: Keunikan Tari Rerejangan Duta Kabupaten Gianyar yang Memahat Sastra Purba Menjadi Simfoni Pembebas Atman

I Putu Mardika • Kamis, 18 Juni 2026 | 14:11 WIB
Tari Rerejangan Duta Kabupaten Gianyar yang Memahat Sastra Purba Menjadi Simfoni Pembebas Atman (ist)
Tari Rerejangan Duta Kabupaten Gianyar yang Memahat Sastra Purba Menjadi Simfoni Pembebas Atman (ist)

BALIEXPRESS.ID — Garis magis Lembah Pakerisan kembali berdenyut di panggung budaya festival seni terbesar di Bali. Duta Kabupaten Gianyar menggetarkan Peed Aya Pesta Kesenian Bali (PKB) 2026 melalui sebuah karya seni tari rerejangan sakral yang sarat akan nilai filosofis, yakni Tari "Sasmita Surudayu". Mahakarya ini merupakan hasil rekonstruksi nilai spiritual yang digali langsung dari lembaran suci Purana Pura Mengening, sebuah teks kunci peradaban di Tampaksiring.  

​Ditemui di sela-sela persiapan, Erman Rizky Dewa Suprapta selaku konseptor utama karya ini menjelaskan bahwa tarian ini tidak lahir sekadar sebagai tontonan estetis, melainkan sebuah bentuk komunikasi spiritual (sasmita) mengenai ritus penyucian batin.  

​"Sasmita Surudayu kami angkat dari fungsi mulia Tirtha Pangentas Perang Surudayu yang tersurat dalam Purana Pura Mengening. Tarian ini adalah visualisasi dari air suci pembebas jiwa, sebuah medium spiritual untuk melarung sisa-sisa amarah dan dendam akibat konflik, guna mengantarkan kesadaran manusia menuju samudra keheningan yang abadi," ujar Erman.  

Baca Juga: Bupati Adi Arnawa Saksikan Pementasan Calonarang Duta Badung di PKB 2026

​Erman menambahkan, teks asli Purana Pura Mengening secara spesifik mengunci legitimasi teologis dari keberadaan air suci ini melalui sabda purba:

​"...kanikayang nyepih Tirtha Kamanalane ring Darmada anggen Tirtaning wang pejah ring rananggana, laju I Gusti Pasek makta Tirtha menatad metemahan Tirtha Surudayu... Ngaran Tirtha Surudayuning perang..."  

​Berdasarkan rujukan otentik tersebut, kisah sejarah mencatat bagaimana Tirtha Surudayu dikemit oleh I Gusti Pasek sebagai obat penawar bagi luka-luka sejarah.

Jiwa-jiwa para ksatria yang gugur di medan laga (rananggana) sering kali menyisakan getaran amarah duniawi yang belum usai. Melalui fungsi mulia tirta inilah, segala simpul keterikatan fana dilebur.  

​Pesan berselimut sastra luhur ini kemudian dipahat secara apik ke dalam struktur koreografi oleh seniman muda I Wayan Dedi Budi Hartana (Dedy Prabu).

Gerak jemari penari yang meliuk lembut diibaratkan laksana riak air Surudayu, sementara tatapan mata yang teduh menjadi isyarat (sasmita) kedamaian.

Didukung alun melodi bambu dari Gong Suling, tarian ini bertindak sebagai "Ritus Penebusan" yang membimbing sang Atman menanggalkan beban ego keduniawian agar siap merengkuh kelepasan hakiki (Sidha Parisudha).  

​Melalui momentum Peed Aya PKB 2026, Erman berharap pesan filosofis dari Sasmita Surudayu ini mampu mengetuk relung hati masyarakat luas.

 Erman Rizky Dewa Suprapta selaku konseptor utama karya ini
Erman Rizky Dewa Suprapta selaku konseptor utama karya ini

Di tengah dinamika kehidupan modern yang penuh dengan riak konflik, tarian ini hadir sebagai pengingat universal bahwa perdamaian sejati hanya dapat diraih ketika manusia mampu memaafkan masa lalu dan membasuh batin dengan keikhlasan.

Baca Juga: Ajak Penonton Jaga Hati, Calonarang Duta Badung Memukau di PKB XLVIII

​"Memuliakan situs dan ritus adalah jalan kita untuk memuliakan jiwa manusia. Kami ingin masyarakat yang menyaksikan, baik secara langsung maupun melalui media sosial, dapat merasakan vibrasi kesucian ini dan ikut menyelami keheningan damai yang dialirkan oleh Tirta Surudayu," pungkas Erman. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#PKB 2026 #Pakerisan #Sasmita Surudayu #Peed Aya #MaGIS