Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Lewat “Titi Gonggang”, Seniman Cilik Banjar Kebon Bona Buktikan Regenerasi Seni Gianyar Tetap Menyala

Putu Agus Adegrantika • Minggu, 28 Juni 2026 | 15:51 WIB
PENTAS : Pementasan Gong Kebyar Anak-anak (GKA) Duta Kabupaten Gianyar. 
PENTAS : Pementasan Gong Kebyar Anak-anak (GKA) Duta Kabupaten Gianyar. 
 
BALIEXPRESS. ID– Gemuruh tabuh kebyar menggema dari Panggung Terbuka Ardha Candra, Denpasar, Jumat (26/6) malam. Di tengah kemeriahan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, puluhan seniman cilik yang tergabung dalam Gong Kebyar Anak-anak (GKA) Duta Kabupaten Gianyar tampil memukau dan sukses mencuri perhatian ribuan penonton yang memadati arena pertunjukan.
 
Mengenakan busana dominan hitam dengan sentuhan khas Blahbatuh, para penabuh dan penari cilik tampil penuh percaya diri. Ketukan panggul yang tegas berpadu harmonis dengan gerak tari yang luwes dan ekspresif. Meski masih berusia belia, kemampuan mereka mengolah panggung dan menjaga kekompakan menunjukkan kualitas yang tidak kalah dengan kelompok seni dewasa.
 
Penampilan diawali dengan tabuh pepanggulan berjudul Titi Gonggang. Karya ini mengangkat filosofi Hindu Bali tentang perjalanan Atman setelah kematian. Dalam makna simboliknya, “titi” berarti jembatan, sedangkan “gonggang” menggambarkan keseimbangan sekaligus ujian yang harus dilalui dalam kehidupan. Melalui garapan tersebut, para seniman muda Gianyar diajak memahami pentingnya memilih jalan kebaikan di tengah berbagai tantangan zaman modern.
 
 
Nilai filosofis itu terasa relevan dengan kehidupan generasi muda saat ini. Di tengah derasnya pengaruh teknologi dan perubahan sosial, anak-anak diingatkan untuk mampu melewati “jembatan kehidupan” dengan bijaksana. Pesan moral tersebut disampaikan melalui perpaduan tabuh yang dinamis dan sajian artistik yang mudah dipahami penonton.
 
Usai membawakan tabuh pembuka, para penari cilik menghadirkan Tari Puspa Bala Agung. Tarian penyambutan ini menampilkan gerak-gerak dinamis yang menggambarkan penghormatan sekaligus doa suci bagi penyucian Atman. Properti bunga dan tedung yang digunakan para penari semakin memperkuat makna spiritual yang terkandung dalam garapan tersebut.
 
Puncak pertunjukan ditutup dengan dolanan Masemal Semalan. Karya yang sarat nuansa jenaka ini berhasil mengundang tawa penonton melalui tingkah polos para pemain. Namun di balik hiburan yang disajikan, tersimpan pesan kuat tentang pentingnya menjaga kebersamaan, kreativitas, serta kecintaan terhadap budaya lokal sejak usia dini.
 
Menariknya, dolanan tersebut lahir dari kisah nyata masyarakat Banjar Kebon, Desa Bona, Kecamatan Blahbatuh. Berawal dari keprihatinan para tetua melihat anak-anak yang lebih banyak menghabiskan waktu bermain telepon genggam, mereka kemudian mengajak generasi muda kembali mengenal seni tradisi. Dari proses itu lahirlah Sekehe Semal yang kemudian berkembang menjadi Sekehe Gong Anak-anak Banjar Kebon. Anak-anak tidak hanya belajar megambel, tetapi juga menganyam daun lontar, menarikan Kecak dan Sanghyang, hingga memainkan wayang.
 
Koordinator Gong Kebyar Anak-anak Banjar Kebon, Desa Bona, I Gusti Nyoman Oka Arsila, menuturkan bahwa pembentukan sekaa gong pada awalnya hanya bertujuan sebagai wadah regenerasi seni di lingkungan banjar. Namun seiring berkembangnya kemampuan dan semangat anak-anak, pembinaan dilakukan lebih serius hingga akhirnya dipercaya menjadi Duta Kabupaten Gianyar pada PKB 2026.
 
“Awalnya kami membentuk sekaa gong ini untuk regenerasi. Tetapi melihat perkembangan, potensi, dan semangat anak-anak yang luar biasa, kami semakin serius melakukan pembinaan. Untuk persiapan tampil di PKB, kami berlatih selama kurang lebih enam bulan,” ujarnya.
 
Menurut Oka Arsila, keberhasilan tampil di panggung PKB tidak lepas dari dukungan seluruh masyarakat Banjar Kebon dan Desa Bona. Keterlibatan Kelihan Banjar, Perbekel Desa Bona, para pembina tabuh dan tari, serta orang tua anak-anak menjadi kekuatan utama yang menjaga semangat pembinaan tetap hidup.
 
Apresiasi juga datang dari Asisten Administrasi Umum Setda Kabupaten Gianyar, I Ketut Pasek Lanang Sadia. Ia mengaku bangga melihat kemampuan teknis dan mental para seniman cilik Gianyar yang mampu tampil percaya diri di hadapan ribuan penonton. Menurutnya, penampilan tersebut menjadi bukti bahwa regenerasi seni budaya di Gianyar berjalan dengan baik dan patut terus didukung.
 
Penampilan GKA Duta Gianyar sesungguhnya menyampaikan pesan yang lebih besar. Mereka bukan sekadar menampilkan kesenian, tetapi juga menjadi simbol bahwa warisan budaya Bali terus hidup melalui tangan-tangan generasi muda. Dari Banjar Kebon, Desa Bona, denyut regenerasi seni itu kini menggema hingga panggung terbesar kesenian Bali. *
Editor : Putu Agus Adegrantika
#gong kebyar anak #duta gianyar #pkb