Pujawali Pura Maha Widya Mandira, Topeng Gajah Mada Masolah, Rektor UNHI: Inspirasi Kepemimpinan

I Gede Paramasutha • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 19:48 WIB
Prosesi Pujawali di Pura Maha Widya Mandira Universitas Hindu Indonesia (UNHI). (Bali Express/I Gede Paramasutha)
Prosesi Pujawali di Pura Maha Widya Mandira Universitas Hindu Indonesia (UNHI). (Bali Express/I Gede Paramasutha)

BALIEXPRESS.ID - Pujawali di Pura Maha Widya Mandira Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar pada Purnama Sasih Kapat, Sabtu (26/9), berlangsung istimewa. Selain digelar rangkaian karya Padudusan Alit, Catur Rebah dan Rsi Gana, UNHI juga mendapat kehormatan dengan tedunnya Topeng Sasuhunan Sakral Gajah Mada dari Puri Agung Blahbatuh, Gianyar.

Topeng sakral tersebut kemudian masolah di mandala utama Pura Maha Widya Mandira. Kehadirannya menjadi salah satu bagian penting dalam pelaksanaan pujawali sekaligus mempertemukan dimensi spiritual, kebudayaan, dan kehidupan akademik di lingkungan kampus.

Manggala Prawartaka Karya yang juga Dekan Fakultas Teknik, Perencanaan dan Informatika UNHI, Prof. Dr. I Wayan Muka, S.T., M.T., IPU, menjelaskan bahwa pujawali tahun ini memiliki kekhususan dibandingkan pelaksanaan sebelumnya. Perbedaan tersebut tidak hanya terlihat dari rangkaian kegiatan, tetapi juga tingkatan upacara yang dilaksanakan.

Baca Juga: Sempat Hilang di Tanjung Mebulu Pecatu, WNA Rusia Ditemukan Tewas di Bawah Tebing

Menurut Prof Muka, karya diawali dengan nunas dharma panuntun kepada Ida Pedanda Gede Putra Tembau dari Griya Aan, Klungkung, selaku Yajamana karya. Setelah memperoleh panuntun, rangkaian dilanjutkan dengan mapakeling di Pura Maha Widya Mandira dan Pura Kahyangan Tiga Desa Adat Tembawu.

Tahapan berikutnya meliputi ngadegang tetaring, nanceb penjor, nunas tirta pamuput, ngias, hingga ngadegan Ida Bhatara. Rangkaian pujawali kemudian berlanjut dengan pelaksanaan pamelastian ke Segara Padanggalak pada Jumat (25/9). Kegiatan tersebut diikuti ribuan civitas akademika UNHI dan mendapat dukungan dari Pecalang Desa Adat Tembau serta Desa Adat Kesiman.

“Pada Sukra Kliwon Bala 25 September 2026 kami telah melaksanakan pamelastian ke Segara Padanggalak dengan melibatkan ribuan pengiring dari civitas akademika UNHI. Pelaksanaan melasti berlangsung lancar. Ini tentu berkat kerja sama dengan Desa Adat Tembawu, Desa Adat Kesiman, Babinsa dan Babinkamtibmas, Dinas Perhubungan Kota Denpasar, termasuk kerja sama dengan Puskesmas. Astungkara semua berjalan lancar,” ujar Prof Muka.

Baca Juga: PDIP Bali Kibarkan Bendera Setengah Tiang Selama Tujuh Hari untuk Guruh Soekarnoputra

Puncak pujawali atau adining pujawali dilaksanakan pada Sabtu (26/9) sekitar pukul 16.00 Wita di Pura Maha Widya Mandira. Prosesi tersebut dipuput oleh Sulinggih Siwa dan Budha. Namun, perhatian juga tertuju pada kehadiran Topeng Sasuhunan Sakral Gajah Mada dari Puri Agung Blahbatuh. 

Tedunnya topeng sakral tersebut menjadi momentum tersendiri bagi UNHI karena baru kali ini hadir dalam rangkaian pujawali di kampus tersebut. Prof Muka berharap pelaksanaan yadnya tersebut tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi sarana memperkuat sradha dan bhakti seluruh civitas akademika serta alumni UNHI.

“Semoga pelaksanaan pujawali di Pura Maha Widya Mandira ini bisa meningkatkan sradha bhakti dari seluruh civitas akademika UNHI beserta alumni. Selain itu juga dapat membangun kebersamaan dan gotong royong civitas akademika UNHI,” katanya.

Sementara itu, Rektor UNHI Dr. Cokorda Gde Bayu Putra menilai kehadiran Topeng Sakral Gajah Mada dari Puri Agung Blahbatuh membawa pesan spiritual sekaligus kultural yang kuat bagi keluarga besar kampus.

Menurutnya, keberadaan UNHI sebagai perguruan tinggi yang mengusung Pola Ilmiah Pokok Agama dan Kebudayaan membuat pengembangan ilmu pengetahuan tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga warisan budaya.

“Sebagai institusi pendidikan tinggi dengan Pola Ilmiah Pokok Agama dan Kebudayaan, kami tidak hanya fokus pada pengembangan akademik dan riset modern, tetapi juga konsisten merawat akar kebudayaan Nusantara pada umumnya dan Bali khususnya,” ungkapnya.

Ia menyebut figur Gajah Mada memiliki keterkaitan dengan nilai kepemimpinan, keteguhan visi persatuan, dan pengabdian. Karena itu, kehadiran topeng sakral tersebut diharapkan dapat menjadi sumber inspirasi bagi dosen, mahasiswa, maupun tenaga kependidikan.

Baca Juga: Beautiverse Luncurkan Aplikasi, Targetkan 10.000 Peserta di Bali

“Figur Gajah Mada adalah simbol kepemimpinan yang visioner, keteguhan visi persatuan, serta dedikasi total. Kehadiran beliau melalui topeng sakral ini diharapkan mampu menginspirasi sivitas akademika, baik dosen, mahasiswa, maupun tenaga kependidikan, untuk meneladani jiwa kepemimpinan yang tangguh, berintegritas, serta memiliki kesadaran kultural yang kuat dalam mengelola dan memajukan dunia pendidikan,” papar Cokorda Bayu Putra.

Lebih jauh, Rektor UNHI menyebut kehadiran Topeng Sakral Gajah Mada juga menunjukkan adanya hubungan antara institusi pendidikan dengan pusat-pusat pelestarian warisan leluhur. Ia mengapresiasi Puri Agung Blahbatuh yang dinilai terus menjaga keberadaan warisan budaya Bali dan membuka ruang sinergi dengan dunia pendidikan.

“Ini adalah wujud sinergi yang erat antara dunia akademik dengan pusat-pusat pelestarian warisan leluhur, dalam hal ini Puri Agung Blahbatuh yang selama ini konsisten menjaga mahakarya budaya Bali,” ujarnya.

Baca Juga: Dijemput Paris Pernandes, Indra Kenz Bebas Bersyarat dari Lapas Cibinong: Minta Maaf, Janji Berubah

Cokorda Bayu Putra berharap momentum pujawali tersebut dapat memperkuat taksu kampus sekaligus menciptakan keseimbangan antara pengembangan intelektual dan penguatan spiritual.

“Kami ingin momentum yadnya ini memperkuat taksu kampus, menyelaraskan kecerdasan intelektual dengan kecerdasan spiritual, serta meneguhkan komitmen UNHI sebagai rumah pemajuan kebudayaan dan ilmu pengetahuan,” tandasnya. (*)

Editor : I Gede Paramasutha
UNHI pura maha widya mandira gajah mada pujawali topeng