Ayu Kusuma, Tabanan
Made Darmawan, Bendesa Adat Petiga menyebutkan program penukaran sampah plastik dengan beras ini merupakan program yang baru satu tahun dilaksanakan di Banjar Petiga Kangin, dan sejak satu tahun lalu, seluruh warga Banjar Petiga Kangin yang berjumlah 100 KK ini juga terlibat.
"Selama tahun 2022 ini, kami sudah melakukan empat kali penukaran sampah plastik dengan bekerjasama dengan program Plastic Exchange. Penukarannya sendiri dilakukan dua bulan sekali dan yang terakhir baru dilaksanakan awal bulan Desember ini," jelasnya.
Selama satu tahun melaksanakan program Plastic Exchange ini, Darmawan menyebutkan sudah sebanyak 8 ton sampah yang berhasil dikumpulkan dan dikirim ketempat pengolahan sampah di Jawa melalui jaringan Plastic Exchange.
Untuk jumlah beras yang diperlukan dalam program ini, Darmawan menyebutkan dalam sekali penukaran, pihak Banjar Petiga Kangin menyediakan sebanyak 4 sampai dengan 5 Kwintal beras untuk ditukarkan dengan sampah plastik yang dibawa oleh Krama Banjar. "Untuk sistemnya, 4 kilogram sampah plastik bisa ditukarkan dengan 1 kilogram beras," jelasnya.
Selain melibatkan warga Banjar Petiga Kangin, program penukaran sampah ini diakui Darmawan juga sudah menular ke beberapa Banjar tetangga Petiga Kangin, seperti Banjar Adat Blamban dan Banjar Adat Semingan juga sudah ikut menukar sampah plastiknya dengan beras walaupun volume sampah yang ditukar dikatakannya tidak banyak.
Jika sampah plastik sudah ditukar beras, lantas bagaimana dengan sampah organiknya? Ditanya demikian, Darmawan menyebutkan saat ini Banjar Petiga Kangin sejak sebulan lalu sudah menerapkan sistem Teba modern untuk mengatasi sampah organiknya.
Konsep pengolahan sampah teba modern, ini dijelaskan Darmawan sama halnya dengan konsep pengolahan sampah organik berupa sumur komposter, yang dibuat sesuai dengan kebutuhan tiap keluarga. Sumur komposter berbentuk bulat dengan diameter sekitar 80 centimeter atau ukuran buis beton.
"Saat ini di Banjar Petiga Kangin sudah ada 26 titik yang dijadikan percontohan Teba Modern, untuk biaya membuat Teba Modern ini mencapai Rp 750 ribu per unit dan pembuatannya kami lakukan secara swadaya," terangnya.
Untuk kompos yang dihasilkan dari Teba Modern ini nantinya dikatakan Darmawan akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pupuk di areal persawahan warga desa. Namun jika nanti hasilnya melebihi, maka nanti pupuk tersebut akan dijual sebagai produk asli Banjar Petiga Kangin dan hasil penjualannya akan masuk ke kas Banjar.
Terkait sistem pengolahan sampah dengan teknik Teba Modern ini, Made Janur Yasa menyebutkan jika Teba Modern ini bisa menjadi salah satu solusi penanganan sampah. Karena melalui konsep ini, pemilahan sampah sudah dilakukan dari sumbernya yakni dari tahap rumah tangga.
"Pengolahan sampah organik ini bisa menjadi solusi penanganan sampah yang menumpuk di TPA, karena hampir 60 persen sampah yang menjadi masalah adalah sampah organik, selain bisa menimbulkan bau busuk, sampah organik yang tidak terfermentasi dengan benar karena tercampur sampah plastik bisa membahayakan," jelasnya. Editor : I Dewa Gede Rastana