BALI EXPRESS, AMLAPURA - Semenjak Gunung Agung meletus 1963 silam, keberadaan pura (tempat suci umat Hindu di Bali) yang diyakini sejumlah warga Banjar Besakih Kawan adalah Pura Ratu Sakti Kancing Gumi, terkubur.
Kini sejumlah warga setempat berkomitmen membangun kembali pura tersebut.
Lahan yang dulunya diyakini sebagai lokasi Pura Ratu Sakti Kancing Gumi itu berada di tengah hutang lindung yang disebut Munduk Bukit Keboh, wilayah Banjar Besakih Kawan, Desa Adat Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem, Bali.
Medan untuk menjangkau lokasi itu sangat sulit.
Jalurnya terjal, dan berpasir. Jalan yang hanya bisa dilalui sepeda motor tertentu itu, adalah jalur petani mencari rumput di hutan.
Tiba di sana, Bali Express (Jawa Pos Group) baru melihat ada satu bangunan palinggih. Penyungsung pura itu belum bisa melaksanakan pembangunan, karena keterbatasan biaya.
Untuk sementara, tempat banten dibuatkan dari bambu.
Mangku Wayan Darta, salah seorang warga penyungsung pura tersebut mengatakan, bahwa sejumlah warga Banjar Besakih Kawan meyakini kawasan yang kini disucikan itu adalah pura.
Keyakinan itu setelah pihaknya sempat ngaturang baas jinah. Dua di wilayah Bangli, yakni di Palak Tiying, dan Sekardadi. Kemudian ada juga di Tamblang, Buleleng.
Berdasarkan petunjuk tersebut, disebutkan bahwa tempat tersebut dulunya adalah Pura Sakti Kancing Gumi, stana Ida Bhatara Ratu Sakti Tedung Jagat.
Memang hingga kini belum ada bukti tertulis memperkuat keterangannya itu. Hal tersebut tak terlepas dari keterbatasan pengetahuan warga di sana.
Dengan begitu mereka berharap adanya bantuan pihak-pihak berkompeten, dan secara bersama-sama menelusuri fakta lain soal keberadaan pura itu. Misalnya bukti tertulis berupa lontar atau prasasti, termasuk saksi sejarah lain tentang keberadaan pura itu zaman dahulu.
Warga setempat sebatas memperkuat petunjuk niskala itu dengan berusaha menggali cerita dari para tetuanya di sana.
Kemudian dicocokan dengan bukti-bukti di lokasi. Misalnya ditemukannya lempengan batu yang diperkirakan dulunya adalah gedong linggihan Ida Bhatara Ratu Sakti Tedung Jagat.
Ada juga sisa sendi-sendi bangunan gedong panglurah. Berdasarkan keterangan panglingsir di sana, Mangku Darta menceritakan bahwa zaman dulu areal hutan itu adalah pemukiman warga, yang disebut Desa Kedusan atau Desa Dusa.
Meski tak merinci jumlah penduduknya, Mangku Darta mendapat cerita bahwa jumlah warga disana banyak.
Tak diketahui dengan pasti, lama-kelamaan wilayah itu malah dijadikan hutan.
Pemukiman warga terus bergeser ke bawah, hingga akhirnya pemukiman warga di sana terkubur akibat Gunung Agung meletus 1963 silam. Pun demikian dengan bangunan pura tersebut yang juga ikut terkubur.
“Karena saat warga kembali dari mengungsi akibat Gunung Agung meletus, jangankan untuk mengurus pura, untuk makan saja susah,” jelas Mangku Darta ditemui akhir pekan lalu.
Sejak saat itulah, pura yang sesuai petunjuk niskala itu adalah sungsungan jagat, terkubur selama puluhan tahun. Pura itu baru mulai “dibangkitkan” sejak 2016 lalu.
“Sebelum tahun 2016, beberapa warga sudah biasa sembahyang di sini, tapi belum diketahui jelas pura-nya. Sarana persembahyangan juga semampunya. Setelah baas jinah, baru kami yakin di sini adalah Pura Ratu Sakti Kancing Gumi,” imbuh Mangku Darta.
Lanjut dia, sejumlah warga berinisiatif menelusuri keberadaan pura itu, bukan hanya mengacu pada cerita para leluhurnya.
Namun itu tak terlepas dari keunikan di areal tersebut. Karena selain rumput, tak ada pohon yang tak bisa hidup di areal tersebut.
Selain itu, sebelum puluhan warga berkomitmen menggali sejarah pura, hingga berencana membangunnya kembali, kejadian aneh kerap terjadi di wilayah Banjar Besakih Kawan.
Seperti adanya kematian warga dengan cara gantung diri, atau meninggal karena kecelakaan lalu lintas setiap tahunnya. Itu sering terjadi setiap Karya Ida Bhatara Turun Kabeh di Pura Agung Besakih.
“Sering mendapat musibah, sehingga berinisiatif menanyakan kepada orang tua dan orang pintar, baas jinah,” terang Mangku Darta, dibenarkan juga sejumlah warga lainnya saat bersama-sama menemani koran ini mengunjungi lokasi pura itu.
“Setelah kami ada komitmen membangun pura disini, tidak ada lagi musibah saat Ida Bhatara Turun Kabeh di Besakih,” tambah Mangku Sudarta.
Warga lainnya, Mangku Nyoman Tunas mengakui sempat mendapat pawisik melalui mimpi.
Dia pernah bermimpi bahwa di areal pura itu ada sebuah batu besar berbentuk payung, yang jika dikaitkan itu itu adalah tedung jagat atau Ida Bhatara Sakti Tedung Jagat yang berstana di pura tersebut.
Selain pura itu, sekitar 400 meter ke bawah pura itu, diyakini ada palinggih Ida Bhatara Ratu Mas Macaling, yang ikut terkubur oleh letusan Gunung Agung, 54 tahun silam. ***
Editor : I Putu Suyatra