Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Artefak di Desa Bengkala Diduga Berasal dari Dinasti Ming dan Eropa

I Putu Suyatra • Senin, 7 Agustus 2017 | 17:34 WIB
Photo
Photo

BALI EXPRESS, KUBUTAMBAHAN - Balai Arkeologi Wilayah Kerja Bali, NTB dan NTT melakukan identifikasi terhadap puluhan artefak, di Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng. Identifikasi dilakukan pada Sabtu, (5/8) lalu di Pura Desa Bengkala. Identifikasi dilakukan sebelum Balai Arkelogi melakukan penelitian terhadap puluhan artefak.


Puluhan artefak tersebut ditemukan di Pura Bale Agung. Saat itu sedang dilakukan pemugaran Palinggih di areal Jaba Pura Desa. Puluhan cangkir dan cawan itu ditemukan pada 26 Juni silam, saat dilakukan pemugaran meru di pura.


Untuk menyikapi temuan tersebut, pihak Desa Pakraman Bengkala kemudian mengundang Balai Arkeologi Denpasar untuk melakukan identifikasi. Identifikasi dilakukan di bale seke roras  Pura Desa Pakraman Bengkala. 


Puluhan artefak seperti teko, cawan, tumbak hingga lingga yoni diturunkan dari areal pura untuk diidentifikasi. Temuan tersebut dijejerkan di atas meja. Satu persatu artefak diuji oleh Balai Arkeologi, untuk mengetahui angka tahunnya serta ukurannya.


“Kami sengaja mengundang Balai Arkeologi, karena kita sebagai orang awam memang tidak tahu tentang barang-barang temuan seperti keramik cina, tombak hingga lingga yoni,” kata Prajuru Desa Pakraman Bengkala Ketut Darpa.


Darpa menilai temuan tersebut bisa menjadi bukti bahwa Desa Bengkala memiliki catatan sejarah dan peradaban yang sangat tinggi. Ia pun berharap agar hasil identifikasi ini bisa disosialisasikan kepada masyarakat Bengkala, sehingga mereka tahu asal-usul dan sejarah desanya.


“Kita temukan benda-benda ini di tempat yang sengaja disembunyikan. Nah kita tidak tahu mengapa artefak tersebut disembunyikan. Biarlah dari Balai Arkeologi yang menjelaskan hasilnya ke kita, untuk selanjutnya akan kami sosialisasikan kepada masyarakat,” imbuh Darpa kepada Bali Express (Jawa Pos Group).


Kepala Balai Arkeologi Denpasar I Gusti Made Suarbawa mengatakan berdasarkan hasil identifikasi sementara, artefak yang paling tua adalah cawan keramik berwarna hijau telur asing dengan hiasan tanaman. Artefak itu diyakini berasal dari Dinasti Ming pada abad ke-13 hingga abad ke-14.


“Ada beberapa artefak seperti keramik, senjata dan lingga yoni yang kita idenfitikasi. Khusus untuk keramik berbentuk cawan yang berwarna ijo telur asin dengan hiasan floris berwarna biru menunjukkan Dinasti Ming dari abad 13 hingga 14. Sedangkan teko yang berjumlah sepuluh merupakan produk Eropa,” kata Suarbawa.


Sedangkan untuk Lingga Yoni, sambung Suarbawa jika dilihat dari sisi ukuran, sangat kecil digunakan untuk menumbuk bahan. Sebab jika dipergunakan untuk menumbuk bahan harus ada space yang lebih luas sehingga lebih pas.


“Ini dipergunakan untuk ritual khusus, karena lingga yoni selalu dimaknai sebagai kesuburan. Bahkan sudah ada sebelum masuknya pengaruh Hindu Budha. Terkait usia lingga yoni kami belum tahu pasti, dan akan lakukan penelitian lanjutan. Kami tidak mempermasalahkan waktu, tetapi justru tertarik terhadap konsepnya atau nilai yang terdapat dalam lingga yoni ini sebagai aspek kesuburan.


Ditambahkan Suarbawa jika Lingga yoni ini secara sengaja dibuat oleh manusia. Sebab ada unsur-unsur artifisial atau pengerjaannya dibuat sedemikian rupa. “Ini buatan manusia. Dan memang sengaja dibuat karena ada unsur-unsur artifisialnya,” paparnya.


Secara umum, Balai Arkeologi menyimpulkan jika artefak-artefak yang ditemukan di Pura Desa Bengkala, adalah sarana untuk kegiatan-kegiatan sakral. Arkeolog juga menyatakan barang-barang yang ada di pura, tak jauh beda dengan barang profan untuk kegiatan sehari-hari. Lantaran ditemukan di pura, arkeolog pun meyakini bahwa barang-barang itu adalah barang sakral atau setidaknya penunjang kegiatan upacara.


Sementara itu menurut Jero Mangku Dalem Made Sudarba, ritual yang sering dilakukan terhadap Lingga Yoni yang ditemukan tersebut adalah setiap hari dihaturkan susu. Ia menilai kalau Lingga Yoni merupakan simbol Siwa-Parwati dan sebagai simbol kesuburan.


“Setiap pagi kami haturkan susu. Itu rutin kami lakukan. Untuk sementara sambil menunggu kesepakatan paruman desa, kami stanakan dulu di Pura Bale Agung. Tapi jika dikaitkan dengan simbol Siwa-Parwati, Lingga Yoni semestinya distanakan di Pura Dalem. Tapi kami tetap tunggu keputusan paruman, mau disimpan dimana,” pungkasnya. 

Editor : I Putu Suyatra
#buleleng